Recharging….

Sebagai makhluk yang kayaknya termasuk outgoing introvert, saya merasa perlu nge-charge diri setelah menghabiskan mana saya untuk bersosialisasi. Nge-charge-nya pun sebenarnya mudah, cukup ndhelik dari dunia persilatan, sembari browsing tanpa tujuan, atau nulis blog seperti sekarang. Tapi biasanya sih bikin rekapan hidup (halah) atau bikin to do list. Nonton film juga termasuk sih.

Well, kadang kala, ndak semudah yang dibayangkan. Apalagi sekarang masih dalam masa transisi. Migrasi tempat tinggal yang ternyata tak semulus perkiraan. Sempat nomaden beberapa hari. Badan pegal tak terkira gara-gara (numpang) tidur di hotel (pelatnas).

Yah, saya cuman pengen mandi biar badan bersih, lalu gegulingan di kasur.

Baca buku juga.

Sambil makan camilan.

Lalu besok bisa kembali ngoding all the way… *pencitraan

Selamat bulan Maret….

Sembilan Puluh Ribu Rupiah

Tempo hari, saya mendapatkan sebuah cerita pendek yang menarik. Kurang lebih seperti ini ceritanya (setelah saya tambah dan kurangi :v ):

Suatu ketika si Fulan, mendapatkan uang seratus ribu rupiah. Betapa senangnya si Fulan mendapatkan uang tersebut. Kebetulan si Fulan ingin membeli sepatu, karena sepatu yang lama sudah jebol. Dan sepatu incarannya, juga kebetulan memiliki harga seratus ribur rupiah. Akan tetapi, karena suatu hal, malam sebelum dia membeli sepatu, uangnya hilang sepuluh ribu. Tak ayal, si Fulan kebingungan. Mencari kesana kemari, tak kunjung ketemu. Makin dicari makin mencak-mencak. Sampai menuduh teman kostnya. Si Fulan sampai lupa, bahwa dia masih punya uang sembilan puluh ribu.

Hikmah dari cerita di atas adalah, kadang kala, kita lupa akan nikmat lain ketika kita kehilangan suatu nikmat. Misalnya, ketika sakit pilek, rasanya gimana gitu, mau kerja susah, kalau gak kerja gak dapat duit, kalau gak dapat duit, gak bisa makan, dan seterusnya. Padahal, ya seperti cerita di atas. Pilek itu ibarat uang sepuluh ribu yang hilang. Sementara, masih ada nikmat lain yang lebih besar, ibarat uang sembilan puluh ribu sisanya.

Yah, kadang-kadang kita sering lupa, termasuk saya :v.

Tempo hari, saya nemu cerita mirip di Quora, silahkan baca di sini. Ceritanya, kurang lebih tentang pengemis yang semula bahagia meski tidak punya apa-apa, lalu menjadi tidak bahagia ketika mulai diberi 100 koin emas setiap hari. Lalu suatu ketika, si pengemis hanya diberi 99 koin emas, lalu mulai murah dan yakin ada yang mencuri.

Yah, itu hanya sebagian cerita sih, silahkan baca saja di tautan di atas untuk lebih lengkapnya.

Hal lain, kita sering lupa ketika diberi nikmat yang sudah biasa. Misalnya saja kesehatan. Kita merasa “pantas” diberi kesehatan. Lah, padahal hidup saja tidak minta, tapi diberi dengan cuma-cuma. Namun, sekalinya sakit, mencak-mencak. Tak beda halnya dengan nikmat lain, kalau sedang ada, sering lupa, tidak disyukuri, dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Kalau sudah tidak lagi diberi, baru protes.

Semoga saja, kita tidak pernah lupa bersyukur. Sebagai pengingat saja, terutama untuk saya pribadi.

Dan jangan lupa akan dua nikmat yang sering terlupakan, nikmat sehat dan waktu luang. Pas sehat dan punya waktu luang, malah guling-guling di kasur. Pas lagi gak sehat dan ndak punya waktu luang, juga masih guling-guling di kasur, soalnya disuruh bed-rest. Makanya, guling-gulingnya nanti saja, pas lagi sakit, jadi sekalian. *ngomong sama diri sendiri.

Oh iya, jangan lupa 5 perkara sebelum 5 perkara:

  1. Muda sebelum Tua
  2. Sehat sebelum Sakit
  3. Kaya sebelulm Miskin
  4. Luang sebelum Sibuk
  5. Hidup sebelum Mati

Dan mungkin bisa ditambah dengan, internet lancar sebelum lelet, apalagi disconnected.

Well, semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

–update 14 Feb 2015–
Pas nulis ini, ternyata biasa aja. Pas ngalamin (lagi) susah diterapin ternyata.

Tentang Hujan

Hampir seharian saya guling-guling di kamar. Seharusnya, saya dimintai tolong seorang anak buah untuk menjadi guide selagi jalan-jalan di Jogja. Tapi, setelah berfikir masak-masak di kamar mandi, nampaknya mending membatalkan, daripada malah guling-guling di dalam mobil atau di pelataran Candi Prambanan.

Sebab musabab saya berguling-guling ria adalah sedang demam, hidung meler, dan sejenisnya. Tempo hari kehujanan, dan kepala basah kena hujan. Yah, mungkin jatahnya sedang sakit kali ya.

Saat guling-guling di kasur, di luar hujan sangat lebat. Kilat, halilintar, atau bledeg terasa seperti di film 3 dimensi. Bisa seperti film 4 dimensi malah, kalau kamar bocor. Serem juga dipikir-pikir. Misalnya, tersambar listrik ketika sedang di gegulingan di kasur. Amit-amit. Tapi memungkinkan sih. Halilintar kena atap, nembus ke langit-langit. Nyari tubuh saya. Dan saya pun jadi The Flash.

Ngomong-ngomong, sudah lama ini The Flash hiatus. Pekan ini muncul lagi sih.

Hujan memang bermanfaat. Nuff said.

Tapi ya, kalau kehujanan, bisa sakit. Minimal jadi basah lah. Banyak yang suka suara hujan. Saya kadang juga suka. Mendengarkan musik menjadi lebih syahdu kalau ada back sound suara hujan. Tidur juga jadi lebih nyenyak dengan back sound suara hujan. Apalagi dengan suhu yang dingin-dingin empuk. Sangat nyaman kalau sembari krukupan selimut, nonton film, minum jahe hangat atau susu panas atas coklat Delfi (ini enak lho), plus sembari makan camilan.

Clementine, pemutar musik saya juga ada fitur menambahkan latar belakang suara hujan. Atau kalau mau gampang silahkan buka Rainy Mood.

Selain suara, yang menyenangkan adalah bau hujan. Istilah bule-nya, petrichor

Petrichor (/ˈpɛtrɨkɔər/) is the scent of rain on dry earth, or the scent of dust after rain

Baunya memang enak sih.

Hal lain yang menarik adalah, pasca hujan. Pelangi. Hayo, kapan Anda terakhir kali melihat pelangi? Walaupun sudah sering ketemu pelangi, saya kadang tetep nggumun kalau melihat pelangi ciptaan Tuhan ini. Ajaib. Padahal ya sudah tahu mekanisme di balik kemunculan pelangi. Kan itu gara-gara ada unicorn mau lewat *halah.

Tapi, kadang orang bilang suka hujan, tapi sangat benci kehujanan. Saya jadi teringat puisi yang sering muncul di internet.

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains.
You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines.
You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows.
This is why I am afraid, you say that you love me too.

Ada yang bilang ini dari Shakespeare. Tapi, menurut artikel ini, bukan berasal dari Shakespeare, apalagi Alan Turing, melainkan puisi dari Turki yang berjudul Korkuyorum (I am afraid). Silahkan baca pranala tersebut untuk lebih jelasnya. *dan si puisi tidak dibahas sama sekali isinya. Yo ben. Abot.

Well, memang, saya sendiri ndak terlalu suka kehujanan. Basah :v. Dan ada kemungkinan jadi demam atau pusing. Apalagi kalau sampai basah rambutnya. Biasanya, kalau kehujanan, saya langsung mandi, biar ndak pusing. Entah bagaimana penjelasan ilmiahnya. Lha wong sama-sama dingin dan sama-sama air. Ahaha.

Tapi, memang, ada kalanya kehujanan itu menjadi menyenangkan. Misal saja ketika main bola. Apalagi kalau lagi pertandingan (bukan sekadar main). Wih, terasa heroik. Tanah becek, penuh air dan cocok untuk berkubang malah membuat pertandingan makin seru. Yah, memang sih, jadi susah main bolanya. Entah itu nendang bola tapi bolanya macet kena air, kepeleset, muka dan mata kecipratan air, dan hal lainnya. Seru lah. Atau lebih tepanya, kocak. Ahaha.

Boro-boro mikir kepala basah dan pilek yang menyertai di kemudian hari. Atau susahnya nyuci baju (yah, akhirnya di-laundry sih). Yang penting mah main dulu. Lalu muncul teknik-teknik menggiring bola di lapangan berair (bolanya digiring dengan semi-juggling). Saya ndak bisa sih :v

Wah, jadi pengen main bola tanpa mikir akibatnya. Ahaha. Entah kapan bisa main lagi :v

Hal lain tentang kehujanan adalah ketika naik gunung. Ini sih udah risiko. Tapi biasanya sudah prepare jas hujan sih. Yah, ini sih hanya bisa dinikmati saja. Kalau kehujanan saat perjalanan, ya sedikit demi sedikit tetap melangkah. Ya meh piye meneh. Tapi anehnya, kehujanan pas seperti ini, malah jarang sakit. Alhamdulillah lah.

Tapi, jangan sampai lagi ngoding kehujanan. Bubar.

Well, seperti yang saya bilang di atas, saya memang ndak suka kehujanan. Tapi, ada kalanya beberapa kondisi membuatnya menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Sedemikian sehingga, walau hujan masih bisa tersenyum.

Mari kembali gegulingan di kasur.

Felix Natalis Argentum Singularis

Tahun baru. Yeay.

Kembang api gratisan. Yeay.

Padahal sudah lewat 10 hari. Yeay.

Recap, malam tahun baru ini, saya nonton kembang api. Dari balkon lantai 2 di kostan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mari sedikit mengingat tahun 2014. Tahun kemarin, banyak hal yang terjadi. Jelas, 365 hari, masak ndak terjadi apa-apa.  Bagi saya, banyak sekali hal besar terjadi. Seperti bermigrasi ke Yogyakarta. Mungkin, bagi yang suka stalking, saya sekarang berdomisili di Yogyakarta, FYI saja. Hal lain adalah, saya mulai menjadi tukang pijet jarak jauh. Mijetin keyboardWell, ini kayaknya salah satu profesi idaman saya. Mungkin dalam waktu dekat saya masih menjadi tukang pijet jarak jauh ini.

Saya juga jadi lebih sering pulang ke rumah. Ahaha. Ini kali pertama saya tinggal satu provinsi dengan keluarga besar. Kepaksa tidak satu rumah, mengingat saya butuh koneksi internet, dan rumah saya di desa yang cukup megap-megap kalau urusan internet. Well, tinggal dekat dengan keluarga memang menyenangkan. Apalagi adanya ponakan-ponakan yang masih newbie. Tapi ganas, suka nggigit dan nyubitin. Ada 4 pula -_____-.

Karena cukup lowong, saya jadi cukup sering kelayapan. Tapi jarang inisiatif sendiri sih. Biasanya, kalau ada yang ngajakin, dan pas waktunya. Jadi, kalau ada yang mau ngajakin, monggo, siapa tahu saya berminat. Paling keren ya pas ke Karimun Jawa. H-3 baru diajakin gara-gara ada yang gak ikutan. *nasib pemain cadangan. Tapi itu pengalaman menarik sih. Pertama kali snorkeling. Apalagi saya ndak bisa renang dan takut air. Buktinya jarang mandi.

Yah, berhubung saya outgoing introvert, saya akui memang susah nambah kenalan atau teman baru :v. Beberapa kali nyoba nyemplung ke circle baru, ndak terlalu sip hasilnya. Maafkan saya :(Tur biasanya, kalau ketemu sekali lalu sudah, memang susah nyambungnya. Yah, kecuali yang beda. Barusan ngecek Facebook. Sepanjang tahun 2014, memang hanya sedikit yang saya add. Yah, tapi itu bukan patokan sih. Tapi ya sebagai gambaran saja. Mungkin lebih bagus yang sebagai patokan adalah kontak wassap atau chat di wassap. *iki opo sih parameter e

Hmm, pas nulis ini, saya kesusahan buat mengingat-ingat apa saja yang terjadi di tahun 2014. Mungkin perlu membuat buku harian atau jurnal. Tapi kadang ndak sempet. Atau mungkin cukup nulis milestone yang mencolok saja kali ya. Yah, bisa jadi masukan buat 2015. Lumayan buat nostalgia atau instropeksi diri.

Cukuplah untuk 2014. Banyak suka dukanya. Seperti biasa. Kalau pas lagi duka, ya serasa dunia memusuhi. Kalau pas lagi suka, serasa indah semuanya. Balik lagi ke prinsip syukur dan sabar. Kalau sudah terlalui, mari bersyukur.

Tak lupa, saya sukses naik gajah. Alhamdulillah, tercoret satu poin dari obsesi saya ini. *cetek sekali  obsesi hidup saya

Baiklah, mari melihat 2015.

Tahun yang  menarik, karena ada angka 15-nya (salah satu angka favorit saya selain 7 dan 13).

Well, seperti awal-awal tahun sebelumnya, saya masih embuh bakal ada di mana tahun ini. Toh umur manusia ndak yang tahu (kok jadi serem).

Saya sudah membuat targetan-targetan untuk satu semester ke depan. Lebih banyak dan lebih detil. Biasanya sih cuman berhasil separuhnya. Ahaha.

Mungkin, salah satu cita-cita saya adalah keseimbangan. Seimbang antara dunia dan akhirat (auoooo). Seimbang antara macul, istirahat, dan klekaran. Seimbang kehidupan pribadi, keluarga, teman, dan sosial. Dan seimbang lainnya. Yang akhirnya, harus merubah pola hidup sehari-hari. Ini sudah hari ke 10. Tapi baru melaksanakannya dari Senin. Lumayan sih hasilnya. Semoga konsisten. Karena yang susah itu konsistennya.

Setelah membuat daftar targetan, nampaknya saya ndak terlalu muluk-muluk. Mungkin lebih fokus ke habit building kali ya. Ada sih beberapa yang seperti milestone, tapi ndak banyak.

Dan, nampaknya di tengah jalan bakal banyak berubah, entah ditambah, atau dikurangi. Seperti biasa, hidup saya serba ndak pasti. Tapi ya sudah sewajarnya lah.

Dan tema lain dari semester depan adalah fokus ke sedikit hal. Supaya bisa maksimal. Semisal Sena yang fokus lari, Monta yang fokus catching, Kurita yang fokus jadi line super berat, Musashi yang fokus nendang, atau Hiruma yang kayak setan. Yah, intinya, koordinasikan usaha kita supaya mencapai tujuan yang sedikit itu. Niscaya, bakal memuaskan hasilnya. Teorinya sih begitu. Embuh eksekusinya.

Terakhir, tentang judul. Berasal dari bahasa latin. Yang arti tiap kata-nya.

  • Felix = Selamat.
  • Natalis = Ulang tahun.
  • Argentum = Perak.
  • Singularis = Tunggal.

Jadi kalau digabung-paksakan, menjadi Selamat Ulang Tahun Jomblo Perak.

Yah, kebetulan saya kelahiran 90, dan banyak teman yang kelahiran 90. Jadi tahun ini genap 25 tahun, usia perak, katanya. Anggap saja itu ucapan default bagi yang masih  single :v.

Oh jadi kepikiran, bakal masuk masa-masa quarter life crisis ini. Entah apa itu. Padahal tiap tahun juga mengalami krisis. Tapi ya semoga bisa melewatinya. Toh, kita ndak bakal diberikan beban yang melebihi kekuatan kita.

Seriusan, ini tulisan super ngalor ngidul. Mungkin sebagai kejar setoran karena salah satu targetan saya adalah nulis 2 tulisan sebulan di blog ini.

Terakhir sekali lagi, sampai jumpa, dan selamat hidup di tahun 2015.

Forza Inter.

Camilan Enak

Beberapa waktu terakhir, saya suka makan camilan. Ndak akhir-akhir ini saja sih. Tapi, baru akhir-akhir ini saja saya nemu camilan baru yang menurut saya enak. Dan mungkin ada baiknya saya iklankan, biar panjenengan bisa ikut merasakan enaknya juga. Ahaha

  1. Krip Krip
    Kalau melihat dari namanya, saya sebenarnya under-estimate sama camilan yang satu ini. Apalagi ada embel-embel multigrain chips dan high fiber, sehat sih, tapi biasanya gak terlalu enak yang sehat-sehat. Well, karena waktu pertama kali dibawakan sama si Akbar Gumbira (namanya memang demikian, tidak typo), jadi ya saya cobain. Ternyata, enak. Asin-asin gimana gitu. Renyah juga. Entah apa bahannya. Ahaha.

    Krip Krip
    Krip Krip

    Yang saya coba, seperti gambar di atas adalah rasa original. Sebenarnya ada 2 rasa lagi. Saya sudah nyobain yang chili-something. Tapi, kurang enak menurut saya.
    Harga satu bungkus (75gr) bervariasi. Kalau di Mirota Kampus (Yogyakarta), harganya 6ribu sekian. Kalau di Indomaret Monjali, 9ribu sekian, tapi ada promo beli 2 gratis 1. Yah, sama saja sih jatuhnya.
    Sayangya, entah kenapa kemarin-kemarin saya mau nyari, ndak nemu. Semoga lekas ada lagi barangnya. Takut terjadi kelangkaan dan antrian panjang di Indomaret.

  2. Sponge Crunch
    Camilan yang satu ini sebenarnya sudah tahu sejak lama. Namun, karena namanya (lagi-lagi saya nge-judge berdasarkan nama, ahaha), yang rada kurang menarik, saya ndak pernah beli. Lalu, suatu ketika, saya dan teman SMA saya, Uli, sedang dalam perjalanan ke Karimun Jawa. Si Uli ini membawa si Sponge Crunch rasa coklat. Ternyata enak parah. Yah, seperti coklat, tapi renyah, dengan kepadatan yang pas. Mak krenyusss gitu kalau dimakan.

    Sponge Crunch
    Sponge Crunch

    Camilan ini lebih enak kalau dimakan di suasana dingin. Renyahnya lebih pas lagi. Saya suka membawanya kalau naik gunung. Udara gunung yang sejuk-sejuk gimana gitu, lalu disambi ngemil Sponge Crunch ini, sangat auooo. Pasti ndak sadar kalau makan terus, dan tiba-tiba sadar sudah habis. Sudah dibuktikan ke beberapa responden yang ngehabisin camilan saya ini.
    Belum lama ini, ada rasa baru, mochaccino. Well, tanpa pikir panjang, saya langsung beli. Sudah kebayang, rasa mochaccino dengan tekstur khas Sponge Crunch. Dan, ternyata yang ini lebih enak lagi. Tidak bikin enek juga. Nyamm.
    Sebenarnya, ada satu rasa lagi, yakni Strawberry. Namun, berhubung saya ndak terlalu suka Strawberry, saya belum pernah beli. Mungkin nunggu gratisan :v.
    Harga satu bungkus juga bervariasi. Kalau ndak salah saya pernah nemu yang menjual dengan harga 6ribuan. Tapi, paling mahal yang saya beli adalah 9.500. Dan, kalau ndak salah di Indomaret lagi ada promo, beli 2 gratis 1.
    Bungkusnya pun cukup menarik. Ada resealable zip lock. Jadi ndak perlu khawatir mlempem. Oh iya, satubungkus beratnya 120 gram.

  3. Tango Kraffle
    Nah, kalau camilan yang satu ini, saya ndak sengaja nemu. Waktu belanja camilan buat sangu jalan-jalan, mata saya melihat camilan ini di salah satu swalayan di Jalan Kaliurang (lupa namanya). Well, ternyata enak. Bentuknya persegi panjang. Ada persegi cekungan-cekungan kecil di permukaannya. Rasanya sendiri gurih, asin, dan manis bercampur menjadi satu. Nyampurnya ndak sempurna sih. Jadi ada bagian yang gurih, ada bagian yang asin, ada yang manis juga. Dan itu malah enak. Ahaha.

    Tango Kraffel
    Tango Kraffel

    Sama seperti Sponge Crunch, camilan ini lebih terasa enaknya kalau dimakan pas kondisi dingin-dingin atau sejuk. Lebih krenyes dan lebih enak.
    Harganya sekitar 5ribuan. Saya baru nemu lagi di Mirota Kampus. Dan rada susah nyarinya, soalnya waktu itu saya lupa namanya. Dan terpaksa mendeskripsikan bentuknya ke penjaga toko. “Tango, tapi bukan yang wafer, mirip Krunchox, tapi bukan Krunchox”. Untunglah, yang saya tanyai, mengerti. Dan memang tidak diletakan di tempat wafer Tango lainnya.

Well, itulah camilan-camilan favorit akhir-akhir ini. Yah, ada beberapa lainnya sih. Tapi, namanya lidah, kadang berubah seleranya. Kapan-kapan kalau saya lagi sok-sokan lowong, saya tambahi lagi.

Atau, jika ada yang punya camilan favorit lain, bisa dibagi ke saya. Gratis. :v

Menyambut “Musim Yang Baik”

Musim Yang Baik
Musim Yang Baik

Beberapa waktu yang lalu Sheila On 7 merilis album terbarunya yang berjudul “Musim Yang Baik”. Sebenarnya, banyak lagu-lagunya yang sudah dibawakan ketika konser (yah meskipun saya sering gak nonton gara-gara sering sliringan). Saya sempet nyari-nyari di YouTube dan memang banyak yang sudah dinyanyikan. Tapi, pas dengerin di YouTube itu, kurang enak didengar. Sebelum merilis album ini, terlebih dahulu Sheila On 7 merilis single mereka, yakni Lapang Dada. Saya suka lagu ini. Sekarang sudah ada video klip-nya juga, dan sangat jleb dan ngeeekkkk… Temanya, datang ke walimahan mantan (atau crush ?)

Di album ini, ada 10 lagu, yang menurut saya bagus-bagus. Mari kita tengok satu per satu.

  1. Selamat Datang
    Lagunya enak didengar, kenceng gitulah (istilahnya apa ya, nge-beat ?). Ada backing vocal dan siulannya juga. Tema-nya sih tentang tumbuh dewasa kali ya. Kemungkinan sih untuk adik atau anak (personilnya sudah beranak pinak sih)
  2. Satu Langkah
    Diawali dengan “u wu u…”, lagu ini juga sama kencengnya dengan lagu pertama. Saya juga suka lagu ini. Auranya optimis (iki opo, mbahas lagu kok tekan aura). Kalau dilihat dari liriknya sih, ini ceritanya lagi seneng sama orang, terus mau ditembak (atau dilamar?)
  3. Buka Mata Buka Telinga
    Juga diawali dengan “Uu.. uuu…” yang lebih panjang. Tidak sekenceng dua lagu pertama. Pas lah tempo-nya. Apa ya, enak sih lagunya. Ini kayaknya bertema sosial sih, ada bagian lirik berbunyi “ada alasan mengapa kita diciptakan”
  4. Canggung
    Ini lagu tema-nya menarik. Pertemuan dengan mantan (atau crush?). Temponya di atas lagu ke tiga. Bagus sih. (dari tadi kok bagus terus). Mungkin ini jadi single ke dua nantinya. Ini tema-nya sederhana parah lah. Tapi malah yang sederhana seperti ini yang saya suka.

    Menyapamu… di keramaian
    bersikap semua terkendalikan
    Atur nafas.. atur irama
    dan memberimu sedikit senyuman

  5. My Lovely
    Lagu yang mungkin paling tak tidak favorit di album ini. Tapi, lama-lama enak juga :v. Kayaknya sih menceritakan seseorang yang sakit (anaknya?) yang pengen dolan di luar. Hmm… Lagunya cenderung slow, tapi gak pelan-pelan banget sih. 40 km/h mungkin.
  6. Beruntungnya Aku
    Bersaing di papan bawah bersama lagu My Lovely, lagu ini bikin ngantuk. Temanya tentang orang yang khilaf, lalu pasangannya menyadarkannya. Yah, begitulah.
  7. Lapang Dada
    Kalau yang ini jelas, tentang move on. Kepikiran sama mantan (crush ?). Yah dikhlasin saja lah. Cari yang lain. Reff-nya lho, backing vocal semua. Semacam lagu Bait Pertama di album sebelumnya.
  8. Belum
    Balik lagi ke tempo yang tinggi, seperti lagu pertama dan ke dua. Saya suka lagu seperti ini (entah gara-gara lagi seneng, jadi pengen denger yang ngebeat-ngebeat kali ya). Ini ceritanya, nembak (ngelamar?), tapi ditolak :v. Yang saya suka, diksi-nya itu lho, ada ton, kilogram, motor tak mau menyala. Jarang lagu-lagu indonesia yang naruh kata-kata semacam itu, apalagi lagu-lagu bertema asmara. *atau saya yang kurang gaul?
  9. Musim Yang Baik
    Salah satu lagu yang langsung saya suka di album ini. Jedag-jedug sih. Sederhana. Cocok buat dinyanyiin di tempat kerja, ahaha. Padahal, pas lihat lewat YouTube, gak terlalu seneng (mungkin karena kurang well ngerekamnya). Ahaha.

    Kucari dan terus kucari ternyata dia tumbuh mekar di dekatku
    Slama ini dan slama ini ternyata doanyalah yang melindungiku

  10. Sampai Jumpa
    Ini lagu yang slow. Bercerita tentang kehilangan seorang teman karena meninggal dunia. Sedih juga :(. Tapi bagus, seriusan.

    Setiap kata yang telah diucap
    Bagai warisan yang tlah disiapkan

Wis, ya begitulah kesan saya terhadap album ini. Kerasa Sheila-nya. Jangan lupa beli albumnya ya. Kemarin saya beli 75rb di DiscTarra.

Atau yang mau ndengerin, yang legal, bisa ndengerin via Deezer di sini. Well, album ini, ketika saya menulis tulisan ini, nangkring di posisi satu di chart-nya Deezer. Yah, mungkin gara-gara orang ndengerin via Deezer terus.

Bonus, video mbak Keiko (mbak-mbak Jepang yang juga fans-nya Sheila On 7)

Terakhir… Sudah di akhir tahun, semoga 2015 menjadi Musim Yang Baik untuk kita semua. Pretttt…

PS : review dari seorang fans, biasanya bias. Ahaha. Apalagi yang cuman penikmat, tidak punya pengetahuan lebih di bidang musik. Asal enak di kuping, ya saya bilang bagus :v

Weekend Story: Jualan Buku di Lomba Matematika UGM

How’s your weekend Ismail?

Jadi, weekend kemarin, saya diminta bantuin buat jualan buku di lomba matematika UGM. Gitu doang. Udah.

Buku siapa?

Jadi, ada situs namanya olimpiade.org, sebuah forum yang diperuntukkan untuk belajar matematika (dan turunannya :v). Situs ini sudah lama ada, sejak masih sedikit yang kenal dengan bu Susi dan Cinta masih belum move on dari Rangga. Yah, kira-kira 10 tahun yang lalu lah. Saya sendiri kurang aktif di forum tersebut. Soalnya susah-susah sih. Sampai lupa username saya apa. Ahaha.

Nah, buku ini ada untuk mengenang perjalanan sepuluh tahun tersebut. Soal-soal bagus dikumpulkan, bersama hint dan solusinya. Saya kebetulan diminta untuk bantuin ngetik :v. Penampakan si buku:

Buku 10 Tahun olimpiade.org
Buku 10 Tahun olimpiade.org

Cieh, ada nama Sunni :v

Si  buku ini sendiri cukup laris. Padahal saya kira ndak ada yang beli :v *Lha saya sendiri aja males kalau diseuruh beli :v.

Yang jualan ndak cuman saya sih. Para begundal-begundallain  (Febi, Erwin, Anto, Toni) yang kebetulan lagi ada di Jogja diberdayakan. Rudi (ini yang minta tolong) datang dari Bandung juga, Satria (naik motor) dan Yasya dari Surabaya.

Paginya sih jualan bentar, terus banyak yang beli.

Terus saya tinggal. Kebetulan ada Bu Yan. Beliau ini guru matematika super legendaris *halah. Tapi bener kok. Ndak melebih-lebihkan. Beliau tinggal di kampung (atau dusun ?) Parakan, Temanggung. Kalau anda pernah berkecimpung di dunia matematika (dan turunannya) Indonesia, pasti tahu banyak anak jagoan dari kampung tersebut. Semua tak lepas dari jasa besar Bu Yan ini. Beberapa teman saya juga anak didik beliau. Keren lah.

Lama tidak ketemu, saya diajak ngobrol macem-macem. Diceritain macem-macem. Antara terharu, lucu, dan gumun. Contoh saja, beliau sering (hampir selalu) mengantar anak didiknya ikut lomba-lomba. Atau mendidik anak-anak di sekitarnya supaya bisa sekolah dan belajar di rumahnya. Biaya? Gratis. Kebetulan, di sekitar rumah beliau banyak anak kurang mampu.

Kalau di tempat lain, disuruh belajar pada pengen pulang. Di tempat bu Yan malah gak mau pulang. Kok bisa? Lha dikasih makan. Ahaha. “Lha saya saja habis ngajar lapar, apalagi mereka”, begitu cerita beliau. Lalu, darimana beliau membiayai semua itu? Well, benar adanya, kalau rezeki itu bisa datang darimana saja. Macem-macemlah. Saya saja sampai nggumun. Mungkin ini yang disebut sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Ada saja jalan rezeki itu****. Saya mendapat banyak pelajaran dari beliau ini.

Kumpul-kumpul dengan para manusia-manusia ampas memang isinya penuh celaan. Dan kita harus sabar. Sembari mencoba membalas mencela. Mungkin bagi orang lain yang melihat, kami bagai makhluk-makhluk tidak berpendidikan. Belum lulus, pasti jadi bahan. Masih jomblo, apalagi. IP jelek, jangan bisa lari. Hidup ini sudah kejam bung. Ah sudahlah.

Siangnya, saya ikutan nonton babak final lombanya. Nostalgia lah. Yah, walaupun semasa masih berkarir, saya ndak pernah ikutan lomba matematika UGM ini. Kepasan sama acara lain sih *alesan :v.

Suasana Babak Final
Suasana Babak Final

Saya paling suka dengan babak cepat-tepat. Tapi yang kemarin kurang rame sih. Lha jawaban musti ditulis di papan. Coba tinggal ngomong, kan lebih seru. Berdasarkan pengalaman sih. Saya memang dari kecil pengen ikutan lomba semacam Kuis Digital LG Prima. Tiap hari Sabtu nonton. Sambil berharap, pas SMA bisa ikutan. Sayang, pas udah gede, acaranya lenyap. Akhirnya, sekarang main Trivia Crack. *halah.

Melihat soal-soal yang muncul berasa nostalgia. Pret. Bohong. Udah gak bisa ngerjain. Hahaha. Dunia cepat berubah ternyata. Mungkin kalau SBY masih jadi presiden, saya masih bisa ngerjain.

Kami ndak ikutan penutupan, terlalu lapar. Serasa usus nempel. Siang belum makan sih. Pagi juga cuman makan di burjo.

Well, hari Minggu yang menyenangkan.

Bonus, ini spanduknya:

Lomba Matematika UGM
Lomba Matematika UGM

Lha terus hari Sabtu-nya ngapain Sun?

Hari Sabtunya saya ke sini:

Masjid Kampus UGM
Masjid Kampus UGM

Ngapain? Ke kondangan.

Siapa yang nikah? Gak tahu. Kenalan bapak ibu dan tetangganya kakak. Cuman diajak saja sih.

Lalu, selebihnya ngapain? Mati listrik. Dan nge-deadline kerjaan :v.

PS : Kalau mau beli bukunya, jangan cari di toko buku ya. Dijamin gak nemu. Kami takut diberedel *halah. Gak sih, hubungi saya saja. Bisa via email atau lainnya. Asal buka telepati, telepathy-receiver saya belum di-update. Jadi cuman bisa nerima kiriman pesan telepati dari pasangan saya. Which is, belum ada :v. Nanti saya kasih tahu step selanjutnya buat beli bukunya. Persediaan terbatas lho. Lha kalau nyetak kebanyakan, takut gak habis. Ahaha.

****mau nyeritain lebih detail, tapi kok kayaknya perlu minta izin dulu, jadi ya ndak usah saja.

Have a good week….