Sepenggal kisah dari Senayan

Prolog : akhirnya, setelah pulang dari Jakarta, saya punya waktu luang untuk ng-ita lagi di sini. Di sela-sela himpitan deadline tugas besar. Hoh…

Pekan lalu, saya melakukan apa yang dinamakan refreshing mewah nan gratis. Kenapa mewah, karena memang wow. Bayangkan, menginap di hotel bintang empat, makanan khas hotel, tidur di ranjang empuk, air panas kapan saja, TV kabel tersedia, dan dapet duit pula. Kenapa gratis? ya memang gratis, cuman bawa 33 ribu, sampai hari sabtu masih utuh, bahkan nambah. Wow…

Gini ceritanya. Seperti yang telah saya tulis di  tulisan sebelumnya, saya beruntung dengan sangatnya mewakili ITB di suatu kompetisi matematika nasional. Untuk kali ini, saya cukup bangga dan cukup rada besar kepala. Maklum, saya benar-benar ikut seleksi dari bawah… Mulai dari ITB, regional, lalu ke nasional. Baru kerasa yang namanya hukum 3 Newton. Puas lah. Berikut kisah perhari saja…. Malah jadi semacam buku harian :

Perjalanan :

Gak ada yang istimewa. Mungkin ritual rutin, telat, keburu-buru. Wajar lah ya…

Penginapan :

Kami menginap di Hotel Atlet Century, dekat stadion Gelora Bung Karno. Saya sekamar sama Hendra (orang mengenal separuh teman saya di facebook) dan Satria. Satria kita rekrut ke anggota kamar supaya ada alarm. Hotel ini bintang empat. Lumayan lah ya… Tapi, seperti pengalaman di hotel-hotel sebelumnya, saya gak terlalu suka makanan di hotel. Tapi, ada hikmahnya juga lho, saya bisa manggang roti. Di rumah gak ada sih. Dan, saya juga yakin, para peserta yang lain sebenarnya juga ingin belajar, tapi malu. Misal, Thoriq (UGM) dan Ani (UNS).

Tes :

Aduh, suram. Hari pertama 1 soal combi udah pernah ngerjain tapi lupa. Yang lain, sekadar mengarang indah. Hari ke dua, tidak sesuram hari pertama, tapi SANGAAAAAAAAAAAAAAAAT suram. Dari 5 soal, saya cuman ngerti 20%-nya. Suram…

Acara :

Acara hari pertama, sekadar technical meeting (TM). Yah, lumayan menghibur, dengan guyonan ala pak Muchlis (ITB), yang sedang berperan jadi ketua tim juri.  Selain TM, acara formal hanya jalan-jalan dan penutupan. Untuk jalan-jalan, kami ke Ancol dan Dufan. Tapi, di Ancol hanya sekadar numpang sholat Jumat. Sementara di Dufan, yah seperti biasa, cukup bisa mendekatkan ke teman-teman baru. Kali ini menggerombol bareng anak UGM. Tapi, kami (saya dan Hendra), terpaksa balik dengan mengenakan sarung. Hal ini dikarenakan celana belum kering akibat naik arung jeram. Berikut dokumentasinya :

Manusia setengah dewa habis arung jeram
Manusia setengah dewa
Manusia setengah dewa versi sarung
Manusia setengah dewa versi sarung

Malam harinya, kami ada acara yang paling ditunggu, yang biasa disebut pengumuman juara. Saya sih gak terlalu ngarep dapat emas, maklum sama otak. Tapi, untungnya, saya gak hanya ng-ita di Jakarta, lumayan dapat perunggu, beserta beberapa keringat yang telah dikonversi ke mata uang Indonesia. Yang jadi juara satu adalah Oscar, anak ITB juga. Sementara Hendra dapat perunggu dan Satria dapat perak. Disyukuri saja… spoiler : saya mengalahkan Rudi A. P. (ITB). WOW,,,,,

Teman Baru :

Salah satu efek acara seperti ini, adalah nambahnya teman baru. Tapi, jelas saya tidak mungkin mengenal semua peserta. Mungkin hanya beberapa orang, misal : Thoriq (UGM), Andra (UGM), Albert (UGM), Loa (UI), Ani (UNS), Hafidz (UM), dan beberapa lagi. Tapi gak lupa kok…

Terus, saya juga ketemu bertemu beberapa anak buah saya jaman dulu, misal Febi (UGM),  Maimun (UI), Iwan (UGM), Defri (Padang), dan beberapa lagi… Terus juga ada kak Lidya, mantan LO saya sewaktu ikut lomba sejenis di UI. Masih teringat, pas hari pertama, terancam gak ikut lomba gara-gara telat bangun. Sampai-sampai kak Lidya masuk ke kamar. Oh iya, dia juga udah punya pacar lho, Albert (UGM). LO lain yang dateng, kak Yuri.

Pas habis dari dufan, kami jalan-jalan. Ke Plaza Senayan. Berangkatnya sih rombongan, tapi pulangnya ditinggal. Gara-gara, saya dan anak buah saya (Febi) malah nyari buku termahal di suatu toko buku, judul toko-nya, Kinokuniya. Akhirnya dapet yang paling mahal, Rp 6 jutaan.. Ada fotonya, tapi rada kabur :

Buku 6 jutaan

Mending baca e-book kalo gak ya, fotokopi saja…

Oh iya, di sana, saya juga bisa ngobrol sama pak Muchlis, yang worship. Ternyata, gaul juga… sampul buku bisa menipu. Jiwa beliau masih muda crut…

Selain itu, proposisi saya mengenai orang matematika yang supel, tidak selalu benar. Buktinya, kemarin, beberapa orang apatis, agak bisa dibilang ansos. Masak jauh-jauh ke Jakarta cuman buat ngadem di kamar… Duh… susah…

Intinya, dengan niat ng-ita ke Jakarta, gak sia-sia juga. Dapet oleh-oleh. Hahahaha….

Bonus : Foto bareng anak buah :

Iwan, Ita, Sunni, Hendra
Iwan, Ita, Sunni, Hendra
Hendra, Sunni, Satria
Hendra, Sunni, Satria

Oh, iya, di sini juga masih kepikiran tugas-tugas di Bandung… Paling keinget, ya tugas Calon Asisten Lab IRK…

Iklan

12 comments

  1. lho pergi kok ga bilang2? mana oleh2nya??
    eh, jgn dibanding2in yah hotel tmpat kmu nginap dg BG, soalnya BG itu bintang 7…hehehe

  2. keren….selamat ya…
    tak sengaja saya lihat daftar teman-teman blog Ismail, terus ngeliat blog saya dimasukkan ke daftar dosen ITB. Mo ngasih tau saja, kalau saya bukan dosen ITB. Agak kuatir, ntar ada yang protes 🙂

  3. hahaha… cukup beruntung… atau bisa dibilang, sangat beruntung…

    oh, bukan tho bu… saya kira dosen… maaf… maaf…. sok tahu sekali saya…

    jadi, harusnya masukin di daftar apa bu….?

    ini bener kan saya manggil “bu” ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s