Semester Pendek di Banana Inn, Setiabudhi (bab 1)

Oke, mari kita mulai saja tulisan mengenai Semester Pendek saya di Banana Inn ini.

Sebenarnya bingung, mau cerita bagian apa dulu. Tapi, karena di sini itu saya secara formalnya ikut pelatnas, jadi saya ceritain dulu saja tentang pelatnasnya.

The Short “Semester”

Kenapa saya menyebutnya, semester pendek? Gini, dalam masa yang singkat, anggap saja 3 minggu, kotor lho, saya musti menelan mentah-mentah 5 biji mata kuliah dewa-dewa.

  1. Aljabar linier (semacam Matematika Teknik 1, kalau di IF, tapi jauh lebih konyol)
  2. Struktur Aljabar (kayak kembali ke masa purba, 1+1 = 1, purba, primitif)
  3. Analisis real (Semacam kalkulus, tapi jauh lebih lontong)
  4. Analisis Kompleks, (yang real alias nyata saja gak ngeh, apalagi yang diawang-awang)
  5. Kombinatorik (Hohoho).

Yang ngajar juga macem-macem. Mulai dari the legendary Achmad Muchlis, bu Hilda, Pak Djoko (dosen kalkulus pas saya TPB, yang wew), mas Nanang kuncup, pak Wono Setya Budi yang bikin  buku, bu Rini, dan beberapa beliau-beliau lagi.

Lupakan tentang hal-hal fomal di atas. Mari kita tinjau hal-hal dibalik layar Semester pendek ini.

no world cup, here

ini salah satu kekecewaan saya atas Semester Pendek saya ini. Hal ini dikarenakan, tv yang digunakan di Banana Inn adalah tv kabel, LCD sih. Tapi LCD kualitas tv 14 inchi. Hanya semacam gambar ukuran 14 inchi di-jembeng ke ukuran gede. Jadinya, ya kremesek. Nah, gara-gara tv kabel, siaran piala dunia, difilter. Sangat mengecewakan…. Dan, kemungkinan besar, peristiwa ini berlangsung sampai selesai semester pendek, yang artinya, saya melewatkan pertandingan seminggu lebih. Ayolah…. Saya rela menukar Kasur-Super-Empuk-Sehingga-Punggung-Saya-Pegel dengan siaran piala dunia. Sekarang, saya ngerti arti kegunaan Parabola Matr*x yang diiklankan Joe Sandy. Yang dulu sempat saya kira, bodoh orang yang beli parabola. Lha wong tinggal masang garpu saja, bisa.

kumur-kumur di kelas, dan keluarlah telor mata sapi

nah, ceritanya, dimulain pas sarapan. Seperti biasa sih, ya sarapan yang terdiri dari beberapa sesi; makan berat, agak berat, ringan, super ringa, dan ngemil. Salah satu korban yang saya makan adalah telor mata sapi. Gak ada yang aneh. Minimal sampai saya melakukan ketololan di kelas.

Pas materinya bu Rini dari UGM, saya iseng-iseng minum air putih di gelas (ini mah bukan iseng). Tapi, sebelum saya telan airnya, saya mainkan dulu di mulut. Bisa juga disebut kumur-kumur. Tapi, ada seni-nya. Jadi, saya mangap ke atas, lalu menyembulkan udara dari kerongkongan (atau tenggorokan ?), sehingga muncul bunyi aneh, semacam air mendidih. (Jangan, dicoba di rumah tanpa pengawasan dari Paspampres). Tidak puas, saya coba hal lain. Metodenya, mengumpulkan air di salah satu sisi pipi, kemudian menekannya dengan segenap kekuatan otot pipi, sehingga terdengar bunyi yang cukup, wew. Nah, lontongnya, saya mengira bunyi ini hanya terdengar oleh saya sendiri. Tapi, ternyata terdengar oleh anak-anak, dan mungkin bu Rini. Ngakak dong… Eh, semacam kesedak… Dan si air, kayaknya masuk ke kerongkongan kemudian keluar lagi. Merasakan ada hal yang tidak  beres, saya secara spontan keluar dari kelas dan menuju belakang (maksudnya, ke toilet. Majas eufimisme lah…). Dan, di belakang itu, saya menumpahkan telor mata sapi saya tadi pagi di wastafel. Masih berupa telor. Belum dicerna lambung mungkin. Menggila.

Rule #7 : jangan makan telor mata sapi, lalu kumur-kumur.

Untung, bentuknya abstrak. Coba kalau bentuknya awet, alias masih ada 2 kuning telur yang bulat sempurna, dan keluar di wastafel. Bisa pingsan saya.

Susah untuk mengatakan renang itu susah

Minggu sore pekan lalu, 6 Juni 2010, saya melakukan apa yang biasa dilakukan Ian Thrope saat senggang. Renang. Sebenarnya, saya gak bisa sama sekali renang. Tapi, setelah melakukan survey dan melakukan perhitungan secara teliti, saya mau untuk berenang. Berikut hal-hal yang menjadi pertimbangan saya :

  1. Maksimal kedalaman : 120cm. Jadi , saya masih punya 40 cm untuk bernapas. Secara teori tidak mungkin untuk mati kehabisan napas.
  2. Sepi, yang berarti tidak perlu malu untuk tidak bisa berenang.
  3. Gratis, yang berarti tidak perlu bayar.

Tapi, alasan ke dua tiba-tiba lenyap. Pas kami berenang, muncul 2 manusia beda karakteristik, yang saya biasa menyebutnya, Wanita. Dan, mereka berenang. Wew. Jadi merasa tidak bebas berenang. Lupakan part ini

Tapi, walaupun sudah sok kuat menahan dingin di kolam cetek itu, saya masih belum bisa how to ngambang. Waduh, kan buat jaga-jaga, andaikata suatu saat saya naik kapal Titanic, terus nabrak gunung sampah, dan karam. Kasihan si Rose kan… Masak musti menggendong saya. Apa kata dunia. (Malah geje). Ya sudah, namanya juga newbie. Mana ada yang bisa langsung renang, kalau cuman se-lustrum sekali ke kolam. Eh, ada ding. Ikan.

Habis renang, saya menemukan SAUNA. Kalau di TTS sauna adalah jawaban dari pertanyaan “mandi uap air“. Wew. dicoba crut. Enak, hangat-hangat gimana gitu… Jauh lebih nyaman daripada naruh pantat di atas kompor… Kan bentuknya kayak penjara dari kayu gitu, terus ada semacam seterika-an dalam posisi aneh. Yah,, gitulah. Makanya, ke sini, biar tahu. Coba ada yang mijetin, makin mantap jaya crut…

Ok, segini dulu… kalau sempet ya tulisan ini jadi trilogi, kalo gak sempet ya, maaf…

Iklan

9 comments

  1. hahahahaaa apik sun, terutama khayalanmu tentang titanic. aku tak dadi rose wae, sing survive hingga tua.. 😛 btw aku yo raiso renang lho

  2. pekok,,,adegan ketika 2 makhluk berbeda karakteristik masuk,,langsung tangkap ceburkan dan,,

    bawa ke kamar,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s