Semester Pendek di Banana Inn, Setiabudhi (bab 2)

Oke, mari kita lanjutkan tulisan sebelumnya. Masih mengenai pengalaman saya menjalani salah satu episode kehidupan, yang saya beri judul, Semester Pendek di Banana Inn, Setiabudhi. Sekarang, saya ingin berbagi pengalaman lagi, masih.

Hairdryer juga punya batas atas (supremum)

Masih ada hubungan nya dengan kejadian saat saya berenang, atau lebih tepatnya, latihan ngambang. Secara logika, jika saya renang, pasti pakaian saya basah. Nah, harusnya, yang basah ini saya laundry, soalnya, kalau mau nyuci sendiri, selain ribet ngekum (apa bahasa Indonesianya ya? mungkin bisa disebut “mengubangkan pakaian“), ribet njemur, dan alasan klasik, males. Tapi, berkat kehebatan saya, saya lupa memasukan si pakaian-kotor-basah-bekas-dipakai-latihan-ngambang tersebut ke plastik laundry. Dan sialnya, saya sudah tidak punya celana layak pakai lagi, untuk futsal maksudnya. Akhirnya, bakat menjadi McGyver saya muncul. Ada Hairdryer alias pengering rambut. Oke, Bagaimana kalau saya keringkan si pakaian-kotor-basah-bekas-dipakai-latihan-ngambang dengan hairdryer. Tapi, ada kesulitan, soalnya, si hairdryer ini musti dipencet tombol ON nya biar tetep menyala. Tak kurang akal, saya ikat saja, tak ada tali, plastik kresek pun jadi. Nah, sukses. Berikut buktinya :

Manfaat lain hairdryer
Manfaat lain hairdryer
Me and my hairdryer
Me and my hairdryer

Oh iya, ternyata, tak lama setelah dibegitukan oleh saya, hairdryer tersebut mati. Panik dong… Kalau disuruh ganti, tewas. Mahal lah. Ok, langkah pertama, pura-pura tidak tahu. Eh, gak tahunya, beberapa saat kemudian, bisa nyala lagi. Coba lagi dong… Eh, mati lagi. Akhirnya, secara deduktif, saya menyimpulkan secara sepihak bahwa si haurdryer itu mati bukan karena saya, melainkan gara-gara kepanasan. Minimal, saya nemu kambing hitam atas kejadian ini.

Soundtrack

Jika Anda mengunjungi Banana Inn, pasti akan rada terasa suasana Sundanya. Hal ini dikarenakan, ada semacam soundtrack yang berisi musik instrumental (halah) khas Sunda. Tapi, seandainya Anda mendengar soundtrack tersebut secara kontinu dan non-stop selama 2 minggu, bisa kena penyakit Anti-Bunyi-Toet-Toet… Benar-benar annoying lah.

Nasib naas dua lusin gelas

Di ruang kelas kami, yang hampir setengah hari kami ada di dalamnya, ada beberapa gelas bening, mungkin dua lusin. Pada awalnya, gelas ini berisi air putih yang biasa diminum. Lama kelamaan, kami menyadari, ada yang aneh dengan gelas tersebut. Kenapa ? Karena, pada saat merasa bosan, kami melakukan percobaan fisika dengan gelas tersebut, yaitu resonansi. Kan, kalau kita memuter-muterkan jari kita di bibir gelas, akan terdengar suara yang jauh lebih enak dari pada soundtrack di atas. Tapi, jari kami harus dibasahi terlebih dahulu, agar lebih wow… Yah, secara bawah sadar, kami mengobokan jari kami. Sambil berfikir, pasti diganti keesokan harinya. Namun, makin hari, makin terasa aneh. Dengan dilandasi rasa praduga tak bersalah, kami menandai gelas-gelas tersebut. Dengan spidol permanen, dengan rambut, dengan spidol permanen, dan ada pula yang mengisinya dengan gula atau creamer.

Namun, praduga tak bersalah merupakan pengandaian yang salah, keesokan harinya, masih ada. Gila, jadi, selama ini, maksud saya, sebelum melakukan praduga tak bersalah, beberapa dari kami telah minum air kobokan kami sendiri. What the What.

Pak Djoko datang, Pak Djoko malang

Hari kamis, pekan ke dua, pada jam kombinatorik, dosen yang mengajar adalah Pak Djoko. Beliau dulu pernah menjadi dosen kalkulus saya saat TPB. Dan, beliau orangnya gokil… Gaul lah…

Seperti biasa, beliau rada telat. Dan saya sudah maklum. Bahkan, kadang, saat saya masih TPB, gak usah takut datang terlambat, pasti belum datang. Diawali dengan celotohan beliau mengenai HP nya yang sudah 2 hari ketinggal di rumah, dan beberapa lainnya. Saya susah menuliskannya, harus dengar langsung, biar bisa tersenyum simpul.

Nah, langsung saja…. Masih ada hubungannya dengan sub-bab sebelumnya. Pak Djoko pun kena sial. Pas hari itu, Kamis, kami sudah gak minum lagi air dari gelas tersebut, mending bawa sendiri. Tapim karena Pak Djoko belum tahu, ya sudah, tanpa cang-cing-cong, langsung minum saja. Apa daya, kami tidak sempat memberi tahu, (atau sengaja?). Terus, di sisa sesi, setelah tahu kalau air “kobokan”, beliau merasa ada yang ngganjel di kerongkongan. Wew… Kayaknya ada yang ngobok-ngobok tanpa cuci tangan ini.

Tapi, apapun itu, saya sudah seneng bisa diajar Pak Djoko lagi. Ini ada teman (baca : anak buah) saya yang mengabadikan momennya :

With or Without Pak Djoko

Keterangan foto:

Hadap Depan : Pak Djoko, Thoriq, Oscar, Aku, Hendra

Hadap Belakang : Satria, Agung, Rudi, Albert

Sekian dulu bab 2 nya. Nantikan bab 3 nya… More Kobra…

Iklan

8 comments

  1. weh….iku hasil karyaku(foto pak joko) cak!!!
    kug maen d publish tanpa izin c?????
    q laporin UU ITE ato ITS lhooo…
    AESEMMMM….maen anak buah lagi……

    • hahaha… sorry bung… makanya jangan sembarang up load di FB… baca note sebelum up load gak? Semua foto yang dipublish, bisa diambil siapa saja… eh, mbok tolong yang foto terakhir di upload juga….

  2. Iki jek ono kampung halaman..dsni internet lemot2..Jangankan upload foto yg 2 MB, buka FB d warnet ja agak lemot..Hoho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s