What the what… Debat dewa…

Gila, sungguh gila. Hari ini mungkin bisa dibilang saya seperti anak TK yang terjebak di antara para cendekiawan. Bagaimana tidak ? Hari ini, materi diisi oleh Pak Budi dari UGM. Menurut jadwal, harusnya mengajar tentang struktur aljabar (strukal). Tapi, dari soal pertama yang muncul saja, sudah tidak murni strukal. Ada embel-embel teori bilangan dan kombinatorika. Bukan di situ sih letak ke-“kagum”-an saya atas pak Budi. Hampir semua soal yang ditampilkan, bukanlah sekadar soal yang sekali jadi, atau soal dengan sedikit tipu-tipu, apalagi soal kacang. Yang ditampilkan oleh beliau adalah beberapa soal yang bisa dikatakan open problem. Open problem maksudnya, permasalahan yang bisa jadi terbukti atau tidak terbukti. Orang disuruh bikin bukti aja gak bisa, apalagi yang belum jelas iya atau gak.

Namun, itu belum seberapa. Yang paling mengerikan, adalah cara pak Budi memancing timbulnya permasalahan dari soal yang ada. Misal, ada pertanyaan (ini saya konstruksi sendiri, kalau saya nulis soal strukal, saya juga tak bisa) :

Benarakah si Fulan punya pacar ? Jika benar buktinya apa ? Jika salah, apa contoh penyangkalnya ?

Lalu pasti muncul masalah lanjutan seperti :

Kapan bisa dikatakan Fulan punya pacar ?

Kapan pacar bisa dikatakan sebagai calon istri/suami ?

Apa saja syarat perlu dan cukup untuk mengatakan bahwa pacar si Fulan sudah pantas ditunangkan ?

Itu dalam bahasa sehari-hari. Dan, yang terjadi seharian tadi adalah sebuah kondisi dimana otak saya sudah tidak mampu menampung arus informasi BARU yang datang dengan debit luar biasa. Wow.

Selanjutnya, karena rada open problem, bisa terjadi perdebatan, begitu kata beliau. Gila. Dan, yang ber-“debat”, mungkin hanya dewa-dewa yang marmos…

Harus diakui, sangat lemah sekali kelihatannya. Tapi, tak ada alasan buat tidak bisa. Apapun itu. Jangan hibur diri sendiri, seperti

“Gak papa sun, kan kamu anak IF… Gak dapet kuliahnya…”

Kenapa ? Ya, karena kalau kita sudah terjun ke suatu wilayah untuk berperang, tidak ada alasan lagi untuk kalah. Yang ada hanya 2 hal, menang dan kalah. Dan, jika menang memang karena mampu,dan jika kalah memang karena lemah.

Pecundang selalu cari alasan.

Berharap, suatu saat, saya kembali diajar pak Budi dalam wujud lain, dimana saya ikut berpolitik Luar Negeri Bebas Aktif dalam semua perbincangan, bukan sekadar penonton yang hanya nyampah. Jelas, sangat menyenangkan sekali bisa berdiskusi dengan orang-orang se-tipe dengan pak Budi.

NB : harusnya tulisan ini adalah part 3 dari tulisan sebelumnya, namun, karena kondisi yang kuncup, diselingi saja… lagi kuncup crut… Debat dewa –> dari omongan teman saya… sebut saja Febi.

PS : Pak Budi memang marmos… Kobra !!!

<beda NB sama PS apa ya ?>

Iklan

5 comments

  1. Hmm.. mngkn istilahnya lbh ke open question kali yah.. klo open problem itu lbh masalah matematika yg blm bisa dijawab (contoh: hipotesis Riemann)

    Pernyataan yg salah itu bkn berarti selalu di-disprove dgn contoh penyangkal lho ya.. Contoh penyangkal sepertinya lbh cocok utk disprove pernyataan “Fulan tidak punya pacar” dibanding “Fulan punya pacar”. cmiiw

    nice blog btw 😉

  2. hahaa, aku aja yang dari SMP 2th ketemu pak budi, SMA 3th ketemu pak budi, di prop, pelatnas, bahkan di transjogja pun tetep kadang nggak bisa ngikutin jalan pikirnya. kelas pak budi=kelas pameran soal (jarang dikerjain tuntas). but overall beliaunya jenius ahahaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s