Pak Polisi, duit “saya” jangan buat masang Inggris, mending Spanyol…

Oke, akhirnya, rekor cleansheet saya selama ini hancur lebur. Ini bukan mengenai clean-sheet saya sebagai penjaga gawang (karena selalu menolak jadi penjaga gawang, takut bola). Tetapi mengenai rekor tidak pernah kecekel alias kena tilang polisi. Begini ceritanya…

Pada suatu hari, atau lebih tepatnya, hari ini. Atau mungkin bisa juga disebut, beberapa menit sebelum saya menulis tulisan ini (halah), saya pergi ke ATM di sebelah bawah Banana Inn. Maksud saya, buka basement penginapan. Err…. (berfikir… berfikir… ok…). Maksud saya adalah ke arah kanan dari pintu keluar Banana Inn. Atau jika tidak buta arah, itu mengacu ke arah Caheum jika naik angkot Caheum Ledeng.

Saya ke ATM untuk mentrasfer uang DP alias duit panjer untuk pemesanan jaket ke teman saya yang saudaranya punya konveksi. Sebut saja Dini Lestari Tresnani (Din, ini aku promosiin konveksimu lho…). Bukan itu poin pentingnya. Kan, karena cukup jauh dari Banana Inn, saya memutuskan untuk pinjam motor teman saya, Rudi (sebut saja seperti itu). Dan, semua berjalan lancar sampai bon ATM keluar. Nah, setelah ini ide utama paragarafnya.

Dari jauh terdengar suara sirine. Pertama saya mengira, yang iseng membunyikan sirine adalah mercusuar. Tapi, setelah ditilik lebih dalam, ternyata ambulan. Ya sudah. Lewat….

Saya kemudian melihat lampu lalu lintas alias lampu bangjo (dari kata abng = merah dan ijo = hijau, jangan disalahartikan sebagai lampu milik Bank- Jo-ko). Masih Ijo, yang dalam arti standar, boleh jalan. Masih aman.

Eh, tapi kok, di depan ada polisi yang iseng-iseng menyuruh motor berhenti, termasuk saya. Waduh, firasat buruk. Lontong. Kayaknya ini cegatan alias razia. Wew. BINGO…. Anda benar. THIS IS CEGATAN. What the what…

Di otak kiri, sudah terkalkulasi berapa duit di dompet punya anak-anak yang bayar jaket tadi…. Kalau pak polisi tahu aku bawa duit banyak, bisa busuk saya dihujani coklat panas sama anak-anak. Akhirnya, otak kiri saya memberi sinyal ke otak kanan untuk berfikir…

Di otak kanan saya, yang rada lambat, tidak berfikir… Malah asyik chating. Ya sudahlah… hadapi saja…

Oke, setelah pak polisi selaku penegak keadilan berkumur-kumur tentang peraturan baru sembari bersikap formal-(in ?), saya diancam PASAL BERLAPIS….

  1. Nebras alias melanggar lampu merah (yang dilanggar itu hukum atau lampu merah sih ?)
  2. Tidak punya SIM

Oke, alasan ke dua sangat tidak bisa saya bantah, apalagi minta waktu ke polisi buat mencari counter example – nya. Tapi, yang pertama kok saya rada tidak rela. SAYA YAKIN PAS JALAN, SI LAMPU (punya) BANGJO masih berwarna IJO LUMUT. What the what lah.

Pertama, diminta ikut sidang, tanggal 25. Duh, ini bikin masalah. Soalnya, si STNK bakal disita untuk negara, bukan punya saya pula. Atau nitip ke pak Polisi tadi, hanya 150 ribu. Mahal parah… Jaket kami saja cuman 100 ribu. Akhirnya, saya muter otak. Memaksa otak kanan bekerja. Saya minta diskon. Sembari bilang saya itu sebenarnya orang Jogjakarta, dengan sedikit berusaha merubah mimik wajah ke mode melas (tapi masih senyam-senyum). Terus semacam curcol kalau lagi pelatihan di Banana Inn, Sabtu pulang. DLS… Dan lain sebagaianya. Si polisi nurunin jadi 75 ribu. Ah, masih mahal itu tong… (ini di dalam hati).

Kemudian, dengan effort yang sedikit lebih bikin ngos-ngosan, saya berhasil menurunkan ke angka 50 ribu. Dengan argumentasi tiket pulang naik, kan liburan. Akhirnya, saya disuruh nukerin uang 100 ribu saya ke warung. DEAL.

But, it’s not a good deal.

RUGI. 50 ribu crut… Mahal parah… Ah, kecewa…

Terus, pas nyerahin duit, saya mengambil kesempatan buat bertanya-tanya laksana John Pantau. Yah, sesuai perkiraan, jawaban si polisi itu gak mencerminkan seorang matematikawan menurut pak Saladin. Jawabnya cepet, rada menutup-nutupi, dan jelas tidak ada argumen yang kuat. Lontong…

Ya sudah lah… Saya hanya bisa berpesan kepada beliau, itu 50 ribu jangan dipakai buat masang Inggris juara piala dunia, mending masang Spanyol.

NB : semua yang saya omongkan ke polisi, jujur. Tidak ada yang bohong. Kerenkan ? Dalam kondisi tertekan, bersalah pula, masih kokrit.

PS : Untung pak polisi gak nanyain saya kuliah dimana… Bisa makin kere saya…

PS lagi : informasi saja, saya kena tilang di daerah yang secara statistik jarang ada cegatan. Artinya, kurang beruntung apa coba ?

Iklan

6 comments

  1. hahahaha, tulisanmu kok koyo sinetron Indonesia.. sing ngarep2 kae lho, nyerempet2 tp ra mlebu2 inti ceritane… marai gregetan wae, šŸ˜›
    tp nice posting… lucu lucu… seneng aku nggeguyu koe.. hahahha, sakke tenan to…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s