Suarez, Gyan, Melo, Robben….

Yak, semalam, 2 pertandingan perepat final Piala Dunia 2010, menghadirkan 4 sosok dari masing-masing negara peserta. Menurut saya minimal. Dari tokoh antagonis, tokoh protagonis, pahlawan, dan pecundang. Itulah sepak bola.

1. Melo, dua kesalahan, dua gol…

Yah, memang, gol pertama Belanda tidak murni kesalahan Melo. Tapi, secara awam, Melo juga berperan. Tidak puas dengan gol-nya, Melo mencari masalah dengan mendapat kartu merah setelah “menginjak” Robben.  Ah, kecewa lah. Pemain Juve pula. Lemah…

2. Robben, lemah…

Memang, Belanda menang. Tapi, si lontong satu ini, aktingnya dalam hal jatuh bisa dapat Oscar. Dan, memang, komentar ini murni kekesalan saya atas kalahnya Brazil. Tapi, ah… Tetap kecewa… Saya doakan, cedera setahun, terus pensiun…

3, 4. Suarez hero to hero, Gyan zero to zero…

Mungkin, Suarez sudah membayangkan dirinya di-buli-buli oleh warga negaranya sendiri, saat menjadi kiper sesaat. Yak, dalam kedudukan 1-1, Suarez memang menahan bola agar tidak masuk ke gawang Uruguay pada menit 120, alias menit terakhir babak perpanjangan waktu. Dan, selain mendapat penalti, si Suarez juga mendapat kartu merah. Menangis dia.

Di sini, melihat peluang untuk masuknya tendangan penalti yang sangat besar, Uruguay hampir tidak mempunyai kesempatan lagi. Dan, Gyan Assamoah yang mengambil penalti, akan menjadi pahlawan Benua Afrika dan negaranya, Ghana. Tapi, takdir berkata lain. Tendangan Gyan Assamoah membentur mistar. Sontak saja Suarez berteriak-teriak dengan senangnya.

Dan, pertandingan pun dilanjutkan ke babak adu penalti. Sayang, seribu sayang. Kiper Uruguay sedang on fire. Dua tendangan berhasil ditepis. Akhirnya, Uruguay Melaju.

Saya tidak akan membahas Brazil vs Belanda. Masih jengkel saya. Saat Jogo Bonito mulai muncul, malah hancur lebur. Yang, saya cermati adalah Keputusan Luiz Suarez. Masih muda memang, pemain kelahiran 1987, atau hanya 3 tahun lebih tua dari saya. Yah, mungkin dengan insting mudanya, dia lebih rela dikartu merah dan mendapat penalti. Yah, jika kita berandai-andai, jika Suarez tidak meninju dengan tangannya, saya cukup yakin, kalau si bola bakal masuk ke gawang, dan Uruguay selesai. Bola berada sedikit di atas kepala Suarez. Keputusan Suarez memang yang paling mungkin. Jika kebobolan, maka Uruguay selesai. Sementara jika dihadang, masih ada sedikit, yak, sedikit peluang untuk lolos. Dan, itulah yang diambil. Walau harus  dibayar dengan absennya di pertandingan semi final melawan Belanda, saya rasa itu cukup wajar, daripada Uruguay tidak lolos.

Selamt untuk Uruguay… Hancurkan Belanda… Rakyat Uruguay harusnya memuji Suarez. Walau sempat beberapa saat di ambang hinaan seluruh negerinya.

Iklan

6 comments

  1. Sebuah drama komedi dan tragedi dalam pertandingan sepakbola, tim lain perlu belajar dari si Suarez, kalo udah kepepet main volley aja di block, biar dapet kartu merah belum tentu yang nendang pinalti masuk! Ini pertandingan paling dikenang di Piala dunia 2010…he…he… paling kocak, paling menegangkan, paling aneh bin ajaib. buat si melo…itu please deh, andai dia bisa ngerem emosinya Brazil kayaknya bisa nambah gol!! Si Robben…duh, kenapa ngga main sinetron di Indonesia aja sih, aktingnya OK banget tuh…he…he…Tapi aku salut, angkat topi dengan TIM GHANA, saluut banget!!! negara kalian pasti bangga dengan timnya. Hanya Urugual seupil lebih beruntung 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s