English please… My Name Is Mail Sunni

Hohoho… semacam pukulan telak lagi. Baru saja saya menerima semacam surat pemberitahuan dari sebuah instansi, anggap saja begitu, tentang hasil wawancara yang beberapa waktu yang lalu saya ikut. Hasilnya memang tidak diterima, dan sudah saya prediksi, maklum saja, saya plegak-pleguk saat menjawab pewawancaranya, in English.

Beuh…

Sebenarnya, yang saya cukup sesali, bukan gara-gara saya tidak diterimanya, karena memang, saya juga asal ikut saja saat mendaftar. Eh, tahu-tahu dihubungi buat wawancara. Tapi, yang saya rada eneg adalah si bahasa internasional, English. Kok jadi gak bisa ya, padahal dulu, pas masih muda, masih SMA maksudnya, saya lancar-lancar saja. Mungkin gara-gara 2 tahun tidak dipaksa bercuap-cuap lagi kali. Mungkin, jika tidak memakai bahasa Inggris, kemungkinan saya diterima jauh lebih besar. Baru kali ini gagal wawancara.

Tapi, sangat tidak etis dan logis jika saya menyalahkan keadaan atau lingkungan. Oke, I admit it, I was wrong. Kenapa pula 2 tahun hanya bisa menghilangkan si kosakata Inggris saya, atau refleks menjawab yang dulu ceplas-ceplos. I wonder if…

Semua sudah terjadi, ibarat sms sudah terkirim. Tidak ada yang musti disalahkan. Tinggal bagaimana menyikapinya. Saya jadi ingin ikut les bahasa Inggris atau semacamnya, terutama untuk conversation. Semoga, di semester 5 bisa terlaksana. Kalau tidak, ada rencana lain, mengadopsi metode Ms. Gul Avci, guru bahasa Inggris saya, saat SMA. Bikin peraturan, kalau pas di jam pelajarannya berbicara dalam bahasa lain, kena denda.

Jelas, tidak diadopsi mentah-mentah. Mungkin akan seperti ini, saya akan memilih hari, kemudian di setiap pekan, mulai dari jam 00.00 WIB sampai 24.00 WIB, saya akan berbicara dalam bahasa Inggris. Tentu terdapat pengecualian, misal sedang kuliah atau pada situasi tertentu. Bisa ada hukuman, bisa tidak. Tergantung ke-istiqomah-an hati saya. Kan, ini juga buat kebaikan saya sendiri. Ya tidak? Mungkin pembaca bisa menjadi wasit, dalam permainan ini.

Peraturan ini akan mulai berlaku pada minggu ke dua masa kuliah, rencana saya.

Kenapa saya menulis di sini ? Bukan karena pamer, atau sok kuat. Tapi, biar semua orang tahu. Dan, saya akan merasa terpacu untuk menjalaninya. Kan, katanya, biar mak-nyus, cita-cita itu harus tertulis, konkrit, ada batas waktunya, realistis, serta lebih bagus lagi kalau orang-orang tahu.

Mungkin, ada beberapa tulisan di blog ini akan berbahasa Inggris. Biar tidak hanya kemampuan oral saja, kan sejarah itu tulisan.

Intermezzo

Ada cerita seputar bahasa Inggris ini, dan saya tentunya.

Dulu, saat saya mengikuti ospek atau bahasa halusnya orientasi di SMA, di malam terakhir, saya disuruh maju ke depan buat memperkenalkan diri. Namun, dalam bahasa Inggris. Maklum, sekolah Bilingual alias dwi bahasa. Nah, begini cara saya untuk introduce myself.

Saya : My name Ismail Sunni. (dengan pede plus malu-malu khas anak baru masuk SMA, diucapkan dengan lancar)

Semua selain saya : hahaha (anggap saja ini tertawa)

Saya : (bingung ???), (di dalam otak : ini kayaknya ada yang tidak beres)

Seorang peng-orientasi (kakak kelas lah) : (masih ketawa), Coba ulangi… [maaf, redaksinya saya tidak ingat, tapi isinya sama]

Saya : My name Ismail Sunni (masih dengan agak lancar, sambil memutar otak, mencari kesalahan)

Semua (masih) selain saya : hahaha (masih saja tertawa)

Saya :  (%$#@$%^#^^*, maksudnya bingung plus rada malu, eh, malu gak ya ?, memandang dengan wajah melas ke kakak kelas)

Seorang peng-orientasi (kakak kelas lah) :(makin ketawa), ulangi lagi… (sambil mengahadapkan saya ke hadapan teman-teman saya yang tidak sampai seratus spesies…)

Saya : (dengan sedikit perlahan) My/name/Is/mail (dan saya ngakak…. otak kiri : kok ya bisa-bisanya… Saya baru sadar, kalau tidak ada predikat di kalimat saya…)

Semua termasuk saya : hahaakkakakakak (gila…)

Maklum, saya kan masih lemah, dulunya. Dari SMP dekat rumah, walaupun juga dwi bahasa, Jawa-Indonesia. Tapi tak apalah, malah jadi terkenal. Selalu terkenal gara-gara ke-lontong-an diri sendiri. Sekali-kali pengen terkenal gara-gara rajin belajar gitu sih…

Dan, efek kupu-kupu (butterfly effect) dari My Name Is Mail Sunni ini masih terasa. Pas membuat buku tahunan (yang sudah 2 tahun tidak jadi-jadi), di akhir kelas 3 SMA, banyak komentar mengenai ini. Wedew…. Mungkin, kalau ada teman seangkatan saya, Seventh Miracle, ditanya, “apa saja hal yang kamu ingat tentang Sunni saat SMA ?” Ada dua jawaban default, salah satunya, ya si My Name Is Mail Sunni.

NB : Benar-benar sebuah cara yang ampuh untuk memperkenalkan diri. Masih ada banyak cerita seputar bahasa Inggris, tapi nanti sajalah…

PS : Semoga, rencana saya tidak hanya omongan belaka. Catat ya !!!!

Iklan

14 comments

  1. @aldrian, ridlo : belum pernah tho?
    @dhani : minimsl bagi yang ikut MOS di malam itu…
    @mad yandi : anti klimaks lah….
    @bu hilda : maklum, jet lag bahasa… hati2 kalau punya suku kata is di depan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s