Belajar bisa dari mana saja, Catatan Pemandu Tur ITB 2010

Beberapa hari yang lalu, waktu luang saya di sela-sela Sparta (suatu kegiatan pengenalan Himpunan Mahasiswa Informatika atau HMIF) bertemu dengan kebutuhan sumber daya manusia untuk menjadi semacam pemandu Tur ITB bagi mahasiswa baru 2010. Yah, tujuannya sih biar para mahasiswa baru ini tahu lokasi-lokasi kuliah umum, semisal TVST, Oktagon, GKU Timur, dan tentunya gedung nan unik GKU Barat. Jadi sedikit teringat saat UTS 1 Kimia Dasar 2A, dan saya sedikit panik gara-gara tak kunjung bertemu ruang ujian yang jebetulan ada di GKU Barat ini. Padahal sudah semester 2…
Oke, cukup sekian saja prolog-nya.

Jadi, pemandu Tur ini, bertugas mengajak para mahasiswa baru untuk berjalan-jalan, keliling ITB tentunya. Begitu pula saya. Namun, hikmah selalu ada di balik kejadian. Begitu pula saat itu.

1. F**** (maha)siswa yang berjiwa satria.

Mungkin, agak lebay. Namun, saat saya melihat kondisi si F****, atau sebut saja Fulan, seorang mahasiswa yang harus menggunakan tongkat untuk berjalan, serta tidak bisa duduk di lantai, ikut tur ITB ini. Mungkin hal biasa. Namun, dia tetap dengan semangat ikut, tanpa ingin dibedakan. Mungkin juga masih biasa. Saya juga masih berfikir hal yang sama.

Namun, saat kami berbincang-bincang sembari menunggu Fulan menyalin perlengkapan yang musti dibawa pekan depan, saya rada shock. Ternyata, si Fulan ini angkatan 2008. Dan, karena tidak naik kelas 2 kali, jadi baru bisa masuk ITB pada angkatan 2010. Bukan hal yang biasa bagi saya. Terlintas di pikiran saya, bagaimana beberapa orang tua murid atau mungkin muridnya sendiri yang tiba-tiba menjadi sangat baik kepada beberapa guru di akhir tahun ajaran. Memberikan buah tangan saat mengunjungi para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut demi sedikit mengorek kebaikan hati mereka untuk menaikkan buah hati mereka atau untuk melancarkan jalan masuk anaknya untuk ng-booking salah satu bangku di sekolah.Mbok ya, berkaca. Ini lho, ada anak, yang tidak sempurna, masih bisa tersenyum dan punya jiwa satria. Dan, dia masuk ITB pula, di salah satu fakultas ternama. Dengan cara yang fair walaupun sedikit berliku.

Kadang, saya berfikir, naik kelas dan lulus ujian bukanlah suatu kewajiban, tetapi merupakan sebuah konsekuensi logis atas apa yang telah kita lakukan. Kadang, jika ada orang yang malas-malasan, dan minta doa kesana-kesini, biar lulus atau naik kelas, saya rada tidak ikhlas. Saya hanya mendoakan, siapa yang lulus adalah yang terbaik.

Mungkin, inilah bibit-bibit KKN di Indonesia, dari track record nya saja dihiasi noda-noda, apalagi saat sudah punya kuasa.

2. Asma bung.

Yah, beberapa hari yang lalu, ada rekan kami sesama mahasiswa ITB yang dipanggil Yang Maha Kuasa. Konon, ada yang mengatakan, ada hubungannya dengan penyakit asma. Nah, pada tur ke dua yang saya pandu, ada kejadian yang mirip, tapi untung saja happy ending.

Karena situasi hujan, maka jalur tur dirubah, menjadi melewati jalur anti hujan dari labtek punya Farmasi (Yusuf Panigoro kalau tidak salah). Nah, saat sedang menjelaskan tentang GKU Timur, atau saat sedang di sekitar mushola elektro, ada yang bilang, kalau asma nya kambuh. Waduh. Rada panik juga. Anaknya bawa obat, tapi tidak ada air. Mana badannya menggigil dan dingin gitu. Langsung kepikiran minta bantuan medik panitia Sparta, tapi nampaknya terlalu jauh, akhirnya minta tolong Pedca anak Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) yang ternyata juga sedang ada MBC (bisa dibilang, Spartan-nya HME). Kebetulan, sekre HME juga tidak jauh dari lokasi. Untunglah.
Karena masih menggigil, saya ambil jaket saya di sekre HMIF untuk sedikit mengatasi hawa dingin, sementara anaknya ditunggu Pedca dan kawan-kawan. Akhirnya, anaknya pulang, dijemput kakaknya yang kebetulan sedang ada di sekitar kampus.
Dan, saya juga dikasih tahu, kalau anaknya baru saja kena DBD. Dan, ada surat dari dokter untuk beristirahat sampai tanggal 28, padahal saat itu baru tanggal 27. Wow.. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.
Thanks to Pedca and HME.

Maklum saja, saya juga pernah menemukan teman saya sesak nafas gara-gara dadanya kena bola saat bermain sepakbola. Dan, serius, saya panik. Dua kali pula. Bahkan, kejadian yang ke dua, saya lah yang menendang bola-nya, lokasi juga jauh dari dokter atau rumah sakit. Untung, bisa ditolong.
Teringat juga, saat saya pertama kali jadi wasit pertandingan bola di Semesta, langsung ada yang patah tangannya. Ngeri. Kapok saya jadi wasit.

Pernah juga situasi saat teman saya, sakit jantungnya kumat. Jauh lebih ngeri. Tapi, Alhamdulillah, semua baik-baik saja .

Semoga, tidak terjadi lagi. Kalaupun terjadi, semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terakhir, jagalah kesehatan.

Harus saya akui, saya memang panik kalau ada orang di sekitar saya yang mengalami hal-hal semacam itu. Apalagi kalau teman atau keluarga dekat.

NB : Maaf, tidak ada foto atau semacamnya. Kurang etis saya rasa.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s