Mata Musafir

Wuah… Besok sudah mulai kuliah lagi. Setelah mengalami masa-masa liburan yang menurut saya lumayan produktif, akhirnya, kuliah lagi. Yah, seperti biasa pula, saya merasa butuh membuat milestone alias target-target yang harus saya capai selama satu semester ke depan. Dan, saya sudah merancang garis besarnya, tapi mungkin saja di kemudian hari ada koreksi, misalnya ada yang perlu ditambah atau dikurangi.

Terus, apa hubungannya dengan judul tulisan ini ? “Mata Musafir” ?… Oke, Mata Musafir adalah judul dari targetan saya selama satu semester ke depan. Gini ceritanya, walau rada tidak penting memang :

Saat saya liburan kemarin, saya bertemu dengan banyak teman lama, sebut saja Arief, Desi, Hepi, Khoirul, Iqbal, Diqit, Qoni, Dhani, Uli, Utami, Satria, Rima, Aning, dan banyak lagi. Nah, tahu tidak apa yang mereka bilang, atau beberapa dari mereka katakan saat ketemu saya lagi ? Dan jawabannya adalah

Sun, nek kowe ngguyu, iso ditinggal lungo/ndelik, mbok ojo merem…

Atau jika diartikan :

“Sun, kalo ketawa, bisa ditinggal pergi / sembunyi, mbok ya jangan merem” (what is “mbok” and “merem” in Indonesian ?)

Weh… Sesipit itu kah saya ? Kayaknya, saya masih bisa melihat dengan jelas… Kan merem = mata tertutup –> tidak bisa melihat. Artinya, menurut pembuktian tidak langsung dengan kontraposisi (apa sih?), jika “saya bisa melihat” (negasi dari tidak bisa melihat) maka “saya tidak merem” (negasi dari merem).

Tapi, apa daya… Jawaban secara matematis tidak selalu berlaku… Hampir sepanjang 2 hari saat reuni di Jogja, dan reuni identik dengan foto-foto, saya terbuli-buli. Masak katanya semua foto saya merem…

Alasan saya :

  1. Silau : saya sadar, saya merasa mempunyai sel mata yang mudah melihat warna terang terlalu banyak (entah sel batang atau kerucut, lupa. Kayak burung hantu itu lho). Jadi, kalau lagi silau, ya saya cenderung mengurangi cahaya yang masuk, alias agak sipit… Tapi, kalau lagi gelap, saya relatif tok cer dalam melihat. Jadi mati lampu bukan masalah, malah bisa tidur.
  2. Emang dari sananya kayak gini mata-nya… Tapi, saya nampaknya tidak ada keturunan Cina (bukan SARA lho). Lha wong (duh, frasa ini juga ndak tahu EYD nya) ngomong saja medok parah. Terus, kulit juga jauh dari kuning… Masak Cina?

Ya sudahlah… Disyukuri saja… Masih normal, belum minus atau plus, dan sehat…

Hubungan Mata Sipit dengan Target apa dong?

Yah, kan biasanya Target = Visi = Penglihatan, dan melihat itu pakai Mata. Nyambung kan ya?

Lalu, kata ke dua, Musafir ?

Yah, kalau yang ini sudah konkrit, saya kan anak perantauan (baru menyadarinya tadi pas bikin), dan musafir itu kan identik dengan orang yang kesana-kemari… Klop juga kan ?

Oke, kembali ke Mata Musafir ini. Di dokumen mata musafir, ada banyak target-target yang musti saya capai. Dari berbagai bidang kehidupan, mulai akademik, organisasi, kemampuan, dan lain-lain. Dan, semuanya terukur.

Selain berisi target-target rutin, misal IP musti sekian, ada juga target yang rada unik. Misal, mau nraktir temen. Yah, apapun itu, itu Mata Musafir saya.

Semoga tercapai. Untuk isi Mata Musafir ini, bisa diunduh di link berikut ini : Mata Musafir – Sunni

Kalau ada masalah dalam membuka file-nya, silahkan komentar, dan pasti akan saya tindka lanjuti. Terima kasih

NB : Ini sekaligus praktik EI (emotional inteligence) lho… Rada tidak jelas memang…

PS : Semoga saya berhasil !!!!

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s