Secara KTP, saya juga Indonesia lho…

Hohoho… Menurut kalender matahari Gregorian, 2 hari yang lalu, tepat 65 tahun sejak bung Karno dan kawan-kawan melakukan apa yang biasa kita sebut dengan proklamasi. Suatu kejadian langka yang mengakibatkan kita merdeka. Yah, banyak orang bilang, kita memang sudah merdeka dari Londo dan Jepun serta tokoh-tokoh penjajah lainnya. Coba saja tidak ada beliau-beliau itu, kapan kita bisa punya bendera sendiri? Dan jelas, tidak hanya para finisher perjuangan saja yang patut kita ucapkan terima kasih. Para pendahulu yang lebih terdahulu, musti “dikasih” ucapan terima kasih juga lho. WAJIB. Terus, gimana cara berterima kasihnya? Kalau pakai jabat tangan, malah serem…

Mari kita bahas yang lain. Konon, banyak yang bilang, kita ini memang sudah merdeka jika ditengok dari keberadaan Londo dkk. Tapi, belum sepenuhnya. Banyak yang bilang, masih terjajah secara moral, secara ekonomi, secara politik, dan lain-lain. Nah, saya juga punya opini, kita ini memang masih belum merdeka, tapi dijajah oleh bangsa kita sendiri. Ibarat istilah, swa-jajah

Buktinya sun?

Banyak bung. Misal yang paling gampang, ada-nya para kuroptor itu. Lihat definisi yang diambil dari situs berikut :

penjajah pen.ja.jah
[n] (1) negeri (bangsa) yg menjajah: dng kekuatan senjata akhirnya kaum ~ itu berhasil menguasai daerah itu; (2) orang yg terlalu menguasai (menindas dsb) orang lain (bawahan dsb)

Jelas tertulis, “orang yg terlalu menguasai (menindas dsb) orang lain (bawahan dsb)“. Artinya, kalau dilihat dari sudut pandang menindas rakyat dengan cara me-maling duit rakyat, para koruptor itu juga masuk ke penjajah.

Selain mereka, ada lagi lho. Yang tidak berstatus koruptor, tapi tetep saja merugikan rakyat. Beberapa waktu yang lalu, pas saya masuk kuliah, dosen saya, bercerita mengenai sedikit tentang kebobrokan Indonesia, dari sisi yang beliau ketahui tentunya. Misalnya, dulu, ITB pernah dimintai tolong oleh negara, untuk membuat pesawat tanpa awak. Eh, pas udah jadi, malah beli dari Israel, dengan harga 800an juta perbiji. Jauh lebih mahal daripada buatan ITB yang hanya sekita 170an juta. Yah, mungkin ini dilakukan para oknum tersebut agar mendapatkan apa yang dinamakan “komisi” atas pembelian pesawat tanpa awak tersebut. Gila. Ini kan semacam menjual negara… Atau bisa juga dilihat, mengambil uang negara dalam bentuk komisi.

Ada lagi cerita tentang ke-aneh-an orang Indonesia lainnya. Misal, kalau di Batam, konon, pesawat yang mau mendarat, musti muter-muter dulu. Hal ini disebabkan dekatnya Batam dengan Singapura. Nah, entah atas dasar apa, Indonesia dan Singapura membuat pernjanjian yang membolehkan pesawat mereka muter-muter di wilayah Indonesia. Padahal, itu kan bisa dianggap penyusup. Haduh…

Ada lagi, cerita miris lainnya. Di negara Tonga, kalau tidak salah. Sebuah negara kecil yang entah letaknya dimana gitu. Konon, di sana, presidennya pernah bilang, “Itu satelit di atas, kalau tidak diturunkan, mau saya tembak jatuh. Kalau gak, bayar 2 juta dolar!!!”. (yah, ini terjemahan kasarnya lah ya…)

Padahal, belum tentu mereka punya senjata. Yang penting tegas dulu saja.

Belum lagi, masalah Lapindo yang tiba-tiba dianggap “kecelakaan“, dan negara yang dipaksa bertanggung jawab. Gila apa…

Intinya, kalau ini analog dengan istilah, Islam KTP, yaitu orang yang beragama Islam secara KTP, tapi sholat saja entah. Jadi, para penjajah itu bisa kita sebut Indonesia KTP. Secara KTP dia orang Indonesia, tapi secara moral, bermental penjajah.

Ada lagi, kejadian konyol di pentas final Copa Indonesia baru-baru ini. Yang pantas masuk Rekor dunia. Ada Kapolda yang minta wasit diganti, atau pertandingan tidak dilanjutkan. Dengan alasan super konyol pula, takut ada kerusuhan gara-gara melihat kepemimpinan wasit. Bahkan, Sekjen PBB saja gak boleh merecoki sepakbola. Entah apa yang ada di otak beliau atau mungkin di lutut beliau. Sebagai pemerhati sepakbola, saya malu dan miris.

Yah, kalau kita daftar ke-aneh-an Negara kita, bisa setebal situs wikipedia yang di-print.

Tapi, meski begitu, saya juga menyadari, bahwa bangsa ini tidak sepenuhnya aneh. Masih banyak penduduk Indonesia yang benar-benar mengaplikasikan Pancasila, walaupun belum tentu hapal. Minimal, di hari kemerdekaan kemarin, saya mengamati, bahwa cukup banyak yang merasa satu kata, bangsa ini memang sudah merdeka, secara fisik saja.

Hal tersebut, bisa dilihat disitus-situs jejaring sosial, walaupun belum tentu mencerminkan isi hati dan perbuatan mereka, mengingat meng-update status itu semudah membalik telapak tangan. Tapi, jika dilihat dari sisi Trending Topic versi jejaring sosial Twitter, topik  “#indonesia65” masih kalah dengan prestasi “Ariel Peterporn”, “Keong Racun”, atau “Nonton IMB”.

Anyway, Selamat Ulang Tahun Negaraku…. #indonesia65

NB : hanya sekadar ungkapan hati saja…

Iklan

5 comments

  1. wah nek cerita ttg penjualan indonesia akeh banget sun..dan memang indonesia ini udah hampir habiss dijual ke tangan asing,,termasuk anak2 bangsa indonesia melalui UU pendidikan yg menyatakan bahwa institusi pendidikan itu termasuk bisnis dan bisa dimasuki investasi asing sampe 49%.
    edann…

    tapi tenang sun,,kan masih ada kita yang bkal memperbaiki semuaya.insyaallah. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s