Informasi di Kala Bencana

Beberapa hari terakhir, banyak sekali bencana yang menimpa bangsa ini, mulai dari Wasior, Mentawai, hingga yang paling dekat dengan kampung halaman saya, Merapi. Banyak kisah yang terjadi di sela-sela bencana, mulai dari TIDAK PUNYA hati seorang kepala daerah (untung kepala daerah saya tidak termasuk), korban yang berjatuhan, hingga trenyuh melihat tindakan warga yang secara langsung, tanpa dikomando bahu membahu menolong warga yang menjadi korban. Saya memantau dari beberapa sumber misal TV, internet, dan jejaring sosial twitter. Ada banyak sekali bantuan yang sudah dipersiapkan.

GERAKAN NASI BUNGKUS misalnya, sangat bisa membuat air mata saya menetes. Entah siapa yang menyuruh, mugkin hati nurani mereka. Saya pantau dari twitter, sangat banyak warga yang menawarkan nasi bungkus ini. Entah mau dikasih ke warga mana, yang akan diberi. Tidak mengenal suku, agama, ras, apalagi partai. Mereka tidak seperti partai atau ormas yang harus memasang umbul-umbul mereka di lokasi bencana. Sungguh tidak etis. Bantu ya bantu saja, menurut saya.

Salah satu hal yang paling saya perhatikan adalah penyampaian informasi. Saya kaget ketika ada situs semacam JALIN MERAPI. Suatu terobosan teknologi dalam menangani bencana. Dengan adanya situs semacam ini, maka kerabat yang berada jauh dari lokasi dan ingin mengetahui perkembangan Merapi bisa memantaunya dari sini. Sangat terintegrasi. Penyaluran bantuan bisa jauh lebih efektif dan bisa menghindari tumpukan bantuan di satu tempat saja.

Selain situs ini, masih banyak situs berita yang sangat membantu dalam menghadapi bencana ini. Misal kompas, detik, okezone, metrotvnews, atau yahoo Indonesia. Selain itu TV juga merupakan sumber informasi yang mudah didapatkan.

Namun, sayang seribu sayang. Saya melihat adanya mata pisau lain di dunia informasi ini. Yaitu masalah akurasi berita, sumber berita, dan waktu berita. Untuk keadaan yang mendesak seperti ini, saya sangat jengkel pada pihak-pihak yang membuat warga makin panik. Berikut ini saya jabarkan kesalahan-kesalahan kecil atau besar yang bisa membuat suasana makin tidak terkontrol.

  1. Tidak adanya KETERANGAN WAKTU di Judul berita. Banyak sekali judul berita di yang hanya menyampaikan kejadian yang terjadi, tanpa menulis waktu kejadian. Misal, “MERAPI MELETUS LAGI, yang hingga Sabtu pagi masih tertulis di TV ONE, padahal hal ini mengacu pada kejadian Jumat dini hari. Saya, sebagai orang yang berada jauh dari lokasi saja mengira terjadi letusan lagi di hari Sabtu. Apalagi yang berada di Jogja. Contoh lain, “SIANG INI MERAPI MELETUS”, di situs kompas. Bahkan, masuk pada rubrik berita terpopuler. Padahal, yang dimaksud adalah hari sebelumnya. Namun, melihat sangat populernya berita ini, pasti banyak warga yang mengira ini semacam ramalan, jika dibaca pada pagi hari. Tidak hanya itu, di situs jejaring sosial twitter pun terjadi. Saya sarankan, untuk tiap JUDUL BERITA ataupun TWIT, yang dikeluarkan harus memuat keterangan waktu. Jika dalam keadaan panik, tidak banyak orang yang sempat membaca isi berita.
  2. LEBAY. Saya tujukan hal ini terutama pada TV ONE. Sungguh, entah siapa yang membuat komando. Banyak sekali ditemukan berita yang lebay atau berlebihan. Contoh, ketika menyampaikan batas aman menjadi 25km, yang sampai hari ini pun masih 20km.
  3. RAMALAN. Baru saja saya perhatikan, sebuah acara di RCTI, SILET, menyampaikan ramalan mengenai Jayabaya. Yang justru membuat warga ketakutan. Mungkin, hal ini tidak berpengaruh ke warga di Jakarta yang mungkin banyak yang menganggap hal ini sekadar informasi sederhana dan ringan. Coba pikir, di daerah bencana. Apalagi di Jogja cukup kental nuansa mistis atau klenik.
  4. ISENG. Banyak orang iseng yang menyebar berita via sms atau twitter. Tidak paham saya. Apa mereka tidak punya hati atau bagaimana. Jelas-jeals ini salah.

Yah, Mungkin mereka tidak bermaksud membuat keadaan menjadi panik, tapi mbok ya dicek dulu.

Sekian. Semoga semua lekas berakhir, dan kita bisa menginstropeksi diri.

Saya hanya bisa berpendapat, tidak bisa menjadi relawan. Bukan egois atau bagaimana. Tapi, membuat orang tua tenang juga penting (credit : aishah rp). Ini bukan pembenaran, tapi pilihan.

Lakukan apa yang bisa menjadi manfaat bagi orang lain, jika tidak bisa, minimal tidak menyusahkan.

PS : ada dua air mata, air mata karena bencana dan air mata karena trenyuh melihat kepedulian warga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s