Yogyakarta, DIY, Ngayogyakarto, Jogja, Yogya, Yoja,

Kali ini saya juga rada enggan menulis tentang dunia politik di blog saya. Namun, nampaknya, bakal jadi jerawat kalau tetep dipendam dalam hati.

Mengenai RUUK DIY.

Tugu Jogja
Tugu Jogja

Sebuah topik yang muncul, bahkan sampai si presiden kita ikut bicara, dan malah memperkeruh suasananya. Monarki vs Demokrasi, begitu beberapa media memunculkan beritanya, setelah mengutarakan pendapatnya beberapa waktu yang lalu. Tanpa melihat ke diri sendiri tentunya. Siapa sih yang sebenarnya monarki ? Siapa yang sebenarnya demokarasi ?

 

Kalau demokarasi itu berdasar rakyat, maka Sultan pantas jadi gubernur dengan penetapan. Sesuai kehendak rakyat. Kalau hasil survey masih ada yang beda, tanyakan satu per satu. Ngapain pakai pemilu, yang mungkin buang-buang dana. Saya rasa, hampir seluruh rakyat Yogyakarta setuju dengan penetapan ini.

Kalau monarki, mbok ya SBY itu menengok ke diri sendiri.

Hari ini, katanya sidang untuk RUUK DIY ini. Banyak rakyat DIY turun ke jalan. Malioboro konon sepi. Bahkan tukang becak ikut demo. Saat saya menulis artikel ini, saya dengar, kebanyakan fraksi setuju untuk penetapan langsung. Sumber. Kecuali bawahan nya si presiden tentunya.

Yang jadi pikiran saya, kenapa si presiden ini malah sibuk ngurusin masalah ini. Masih banyak masalah yang terkubur. Masih ingat lapindo, century, gayus, artalita, dan lainnya. Masalah RUUK ini cenderung tidak mendesak. Dan konyolnya, saat bencana Merapi kemarin, SBY nebeng hidup di Jogja. Entah ngapain. Kalau pendapat saya sih, mau ikut-ikutan kayak Presiden Chili, tapi ngaruh gak sih? Apa SBY saat di lokasi tersebut tidak bisa memahami isi hati rakyat Jogja ? Baru saja kena musibah bencana, eh malah bikin kacau.

Kalau pendapat saya sih, sebagai salah satu rakyat Jogja juga, yang hanya mahasiswa biasa, mending seperti ini saja. Sultan tetep jadi gubernur, tapi dengan catatan, musti steril dari politik. Saya rada tidak setuju untuk Sultan menganut ke suatu partai politik.

Yah, mungkin saya tidak hapal jalan-jalan di Jogja. Saya juga dalam 5 tahun terakhir, jarang menginjakan kaki di Jogja. Saya juga tidak tinggal di pusat kota. Tapi, saya bangga jadi rakyat Jogja dan saya peduli pada Jogja. Saya suka suasana khas Jogja…

Berikut ini, lirik lagu dari Genk Kobra dan Kla Project tentang Yogyakarta, yang mungkin bisa sedikit menggambarkan Jogja :

KLA Project – Yogyakarta

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Genk kobra – Ngayogyakarto

witing klapa jawata ing ngarcapada
salugune niki geng kobra
pancen nyata…
kulo saking surakarta njajah nagri ngayogjakarta

ngayogjakarta, kuthane aman, berhati nyaman
kota seniman, kota pelajar, lan kabudayan

malioboro trus ngidul kuwi kraton yogja
kantor pos gedhe ngarepe senisono
ning dhek mbiyen saiki wis ora ana
beteng vredeburg biyen panggonane landa

golek gudheg ning mijilan mesthi ana
ndelok munyuk lan gajah ning gembiraloka
arep santai ning laut bablas kidul kana
parangtritis, parangndhog, parangkusuma

mbantul, prajatamansari, ben ra ucul yo digondheli
sleman sembada, eman-eman marai gela

tuku manuk ning ngasem sor pulau cemeti
kaliurang, nggon adhem ning lereng merapi
cemilane jadah, tempe bacem, ngangeni
goa slarong ngelingake perang jaman kumpeni

gajah mada, iain, kalijaga, uii
panggonane wong pinter sing pada setudi
stasiun tugu, lempuyangan, nggon kreta api
numpak sepur saka kana tekan ngendi-endi

gunungkidul handayani, bacut ucul angel nggoleki
kulonprogo binangun, karo kanca mbok ya sing rukun

ngayogjakarta, kuthone aman, berhati nyaman
kota seniman, kota pelajar, lan kabudayan

borobudur, prambanan, kuwi candhi gedhe
taman sari, pemandian, ning kari bekase
tari srimpi lan gambyong sakgamelane
yen ditonton mesti wae yo nyenengake

daerah yogja ono papat kabupatene
gunungkidul, sleman, bantul, kulonprogo batese
dalad, sangi, lan nyothe kuwi basa premane
yen takpikir aku mesthi kekelen dhewe

sanga papat punjul enem
menawi lepat nyuwun ngapunten
sanga papat punjul enem
kulo niki lulusan pakem

sikil gudhig aja dikukur lan dithithil
tangan reget aja nggo uthik-uthik upil
sirah mumet lan ngelu padha ngombea pil
dadi uwong sing pinter aja dadi pokil

susruk wajan nggo nggoreng krupuk kuwi sothil
mbok ya anteng tangane, aja padha nggrathil
benik ucul dondomi ben ora prithil
dadi uwong sing sugih aja dadi uthil

sikil gudhig aja dikukur lan dithithil
tangan reget aja nggo uthik-uthik upil
sirah mumet lan ngelu padha ngombea pil
dadi uwong sing pinter aja dadi pokil

susruk wajan nggo nggoreng krupuk kuwi sothil
mbok ya anteng tangane, aja padha nggrathil
benik ucul dondomi ben ora prithil
dadi uwong sing sugih aja dadi uthil

Pranala untuk mengunduh dua lagu di atas : di sini

Iklan

7 comments

  1. […] jadi ingat dengan akun-akun payable yang saya pelajari di semester ini…. Kali ini saya juga rada enggan menulis tentang dunia politik di blog saya. Namun, nampaknya, bakal jadi jerawat kalau tetep dipendam dalam hati. Mengenai RUUK DIY. Sebuah topik yang muncul, bahkan sampai si presiden kita ikut bicara, dan malah memperkeruh suasananya. Monarki vs Demokrasi, begitu beberapa media memunculkan beritanya, setelah mengutarakan pendapatnya beber … Read More […]

  2. Salam…

    Kembali ke sejarah saja lah…Pada dasarnya Indonesia adalah minus beberapa daerah semisal Yogyakarta dan Surakarta, Sebab pada saat proklamasi RI Kasultanan Yogya juga Pakualaman dan Kasunanan Surakarta beserta Mangkunegaran masih berdiri dan kedaulatannya diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda saat itu…Ini terbukti bahwa pada saat proklamasi RI kemudian tanggal 1 September 1945 Surakarta dan tanggal 5 September 1945 terdapat piagam pengakuan terhadap RI…ada yang menafsirkan piagam itu sebagai integrasi tapi ada pula yang menafsirkannya sebagai pengakuan saja…sekedar pengakuan….nah karena adanya ontran-ontran waktu itu lah menjadi seperti sekarang……

    Itu satu pendapat….

    • benar juga mas, memang, semua masalah bisa dipandang dari berbagai sudut, dan sah-sah saja. Kebetulan saja rakyat Yogya memilih untuk penetapan. Suatu pendapat lain juga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s