Siap Menang, Siap Kalah ?

Yah, akhirnya tidak ada aksi heroik semacam Liverpool saat di Istanbul pas Final Liga Champion lawan Milan. Ya sudahlah. Timnas kita sudah cukup mampu menarik perhatian seantero negeri ini. Meski baru kena bencana sana sini. Meski ada politisi di sana-sini. Meski DPR kita rada sinting. Dan akhirnya, timnas tersebut jadi korban juga. Ya sudahlah. Sudah cukup membahagiakan.

Thanks to Timnas Indonesia
Thanks to Timnas Indonesia

By the hell, saya mau sedikit mengomentari bangsa ini mulai dari kepastian lolos ke final hingga sebelum partai pertama di Bukit Jalil. Satu kata yang bisa saya sampaikan. Lebay.

Gimana ndak lebay, hampir semua stasiun berita menyiarkan analisis pertandingan setiap harinya. Serius, baru kali ini saya eneg melihat siaran analisis pertandingan yang se-geger ini. Euforia boleh-boleh saja, tapi ya harus tetap menginjak bumi.

Lebih gilanya lagi, yang dimintai analisis itu gak tanggung-tanggung. Asal tokoh terkenal, walaupun ndak ngerti bola, okelah…

Okelah, itu hal yang mungkin masih wajar jika dipandang dari segi bisnis.

Tapi, analisis sekadar analisis saja. Hampir semua analisis (atau mungkin lebih bisa disebut ekspektasi), mengarah ke kemenangan Indonesia. Wajar saja lah. Orang kita sudah menang 5-1. Euforia ini jelas merasuk ke setiap penduduk Indonesia, lebaynya.

Dan, akhirnya. 3-0.

Munculah kambing hitam. Mulai dari laser, hingga macam-macam. Kalau menurut saya sih ya, kita tuh kalah gara-gara kurang dewasa. Berikut penjelasannya. Kita tahu Indonesia dan Malaysia itu saudara sekandung yang sering berantem. Dan, akhirnya, kebetulan final ini kita ketemu. Kebetulan pula, Malaysia jadi tuan rumah di pertandingan pertama. Jelas, pasti di benak kita akan muncul halangan yang mungkin disebabkan oleh pendukung Malaysia. Dan, memang kejadian. Laser.

Secara itung-itungan, sebenarnya susah bagi kita untuk menembakan laser yang kecil itu, tepat ke mata orang yang posisinya jauh. Apalagi, sasarannya pun bergerak. Susah tidak? Dan jelas, si laser ini tidak akan berdampak buruk jika hany kena mata sekelebat mata, karena laser-laser yang dijual di pasaran umum memang dibatasi kekuatannya. Gak mungkin lah, ada yang jual laser sekuat LigthSaber di StarWars.

Dari sini, pemain kita kurang dewasa dalam menyikapinya. Sebenarnya, ndak perlu protes. Cukup kosentrasi ke pertandingan saja. Seharusnya ini cukup mudah. Saya sendiri, walau sedang flu, kalau main bola biasanya hayuk saja. Asal ingat tujuan dan dinikmati saja. Dan, akhirnya, hilang kosentrasi kita. Gol pertama muncul dan membawa petaka. Permainan kita juga tidak sebagus pertandingan sebelumnya, dan itu patut diakui lho.

Terlihat, kita semacam mencari excuse agar kita diberi keringanan, “kalah karena laser”. Itu omong kosong. Menang is Menang, Kalah is Kalah gan….

Selanjutnya, yang paling membuat saya Enek : TV ONE dan empunya, Bakrie.

Entah kenapa, saya merasa si Timnas ini jadi boneka nya Bakrie tersebut. Baru kali ini saya nemu TV sampai masuk ke pesawat buat meliput. Urgensinya apa sih ? Kalau mau menang, mbok ya dibiarkan saja, biar tenang. Kalau si Bakrie yang juga nama gedung di kampus saya, jelas-jelas lontong. Ngapain juga pakai mengundang ke makan siang. Okelah, niatnya yang diucapkan bagus, untuk apresiasi. Tapi ya, melihat ekspektasi masyarakat yang luar biasa ini, berilah mereka ketenangan. Dan PSSI juga malah memasukan ke agenda. Memang hebat koneksi si Bakri ini.

Istighosah? Idem saja komentarnya.

Nurdin? Sumpah, ini aneh. Masih aja kita tidak mampu menurunkannya. Kuat parah.

Leg 2.

TV-TV sudah tidak terlalu membombastiskan publikasi. Minimal tidak sebesar sebelumnya. Jujur, kalau saya jadi pemain timnas saat itu, saya pasti ndak bisa tidur. Tekanannya sungguh berat. Diekspektasikan untuk menang, melawan negara teman berantem, dan mewakili sebuah bangsa. Salut bagi mereka yang mampu mengatasi hal ini.

Yah, fakta berbicara. Tekanan yang dipanggul sungguh berat. Namun tidak apa. Salut sekali kita mampu membalikan keadaan, dari 0-1 ke 2-1. Walaupun akhirnya tetap tidak juara.

Tapi, apa yang dilakukan timnas kita sudah luar biasa. Menyatukan bangsa ini mungkin. Walau kayaknya instan. Siapa menyangaka suporter dari berbagai klub di negeri ini bisa satu kata. Ndak peduli menggadaikan barang, demi sekedar mendukung timnas dari luar stadion. Gila. Sungguh luar biasa. Merah parah di stadion. Saya sebenarnya ingin sekali nonton langsung, tapi apa daya.

Mungkin Sea Games nanti bisa dapat Emas. Amin.

Dan dukungan di timnas jangan cuman sampai tahun baru. Ndak ada yang instan. Tapi ini momentum. Minimal jangan pecat Riedl. Salut ketegasannya.

Dan jangan lupa, musti siap menang dan siap kalah. Jangan kayak caleg…

Untuk pemain yang saya wow-kan, Buztomi dan Nasuha. Sudah jelas alasannya.

NB : Seandainya, Nurdin mau bernazar untuk keluar dari PSSI kalau kita juara, mungkin nazarnya terkabul.

Iklan

5 comments

  1. nurdin r nduwe isin emang kok
    opo r nduwe kemaluan po y?

    bustomi maine plg manteb. gelandang bertahan sing apik bgt menurutku. tekele resik bgt. trus, cm dee pemain sing tenang maine pas final

  2. Menurut saya sea games cukup berat mengingat regenerasi timnas kita bisa dibilang tidak begitu baik. Ingat saja satu tahun yang lalu kita dipermalukan laos 2-0 yang saat itu dilatih Alfred Riedl. Sedangkan tim-tim pesaing kita seperti Thailand, Filiphina, dan juga Malaysia memiliki pemain muda yang kualitasnya di atas pemain kita dengan tidak merendahakan Singapura, Vietnam, bahkan Laos. Yang bisa kita andalkan dari timnas sekarang untuk sea games paling hanya beberapa nama seperti Irfan Bachdim, Oktovianus Maniani dan satu “bantuan” dari negara lain yaitu Kim Jefrey Kurniawan sedangkan yang lainnya seperti Firman Utina dan Bambang Pamungkas sudah berumur di atas 23 tahun sehingga tidak bisa membela timnas sea games. Yah sebagai pendukung kita hanya bisa berharap saja, tapi dari segi persiapan saya mengakui kita masih kalah sama tetangga kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s