I don’t think their first word is “mom”

Saat saya liburan di Jogja, dengan menumpang di kost teman SMA saya, saya diajak dengan tidak sengaja ke sebuah Panti Asuhan. Ada banyak anak bayi hingga seumuran balita di sana. Kondisi panti asuhan tersebut cukup bagus, bersih, dan suasana mendukung. Minimal pas saya kesana begitulah keadaannya.
Lantas, ngapain saja saya ke sana ?
Pas sebelum sampai ke lokasi, saya pikir, panti asuhan itu bakal gaduh penuh dengan tangisan bayi di sana dan di sini. Namun, nampaknya saya salah.
Kami disambut hangat oleh pengurus (atau orang yang mengurusi semua bayi di sana). Selanjutnya kami masuk ke ruangan yang diisi oleh anak bayi berumuran sekitar 1 atau 2 tahun. Ada yang tertidur ada juga yang terjaga. Teman-teman saya kemudian mendatangi beberapa dari mereka dan kemudian menggendong atau bermain dengan mereka. Saya sendiri masih melihat lingkungan di situ, dan sedikit membaca tulisan-tulisan yang ada di dinding, sembari sedikit memutar otak.
Banyak hal yang merasuk ke pikiran saya, mulai dari siapa orang tua yang tega “memasrahkan” para bayi ini ke sini, hingga nasib mereka di masa depan. Mungkin akan ada yang mengadopsi, jika ada tentunya. Bagaimana jika tidak ? Ketika saya membayangkan bagaimana jika saya berada di posisi mereka, suram, ndak terbayang.
Memang, di sini banyak orang yang dengan hati merawat mereka, namun, saya yakin, tidak setiap orang bisa memberikan kasih ibu seperti yang seharusnya.
Misal saja, paling gampang, bukan “ibu” kata pertama yang terucap dari mulut mungil mereka.
Hal lain misalnya, siapa yang akan membimbing mereka untuk menganut agama ? Setahu saya, itu tanggung jawab orang tua untuk memperkenalkan agama ke anak mereka. Bagaimana dengan kasus ini? Kalau tidak salah, ada kebijakan untuk menyerahkan hal ini kepada orang tua yang mengadopsi mereka.
Hal lain yang sepele, bagaimana akta kelahiran mereka ? Atas nama orang tua siapa? Lebih jauh, bagaimana ketika mereka sudah cukup besar dan bergaul, dan kemudian ditanya tentang keberadaan orang tua mereka ?

Banyak hal ternyata yang menjadi isi di dalam pikiran saya. Tidak segampang seperti yang terlihat di sinetron yang memungkinkan munculnya orang tua baik hati yang datang sebagai pengadopsi mereka.

Dalam hal lain, saya bangga kepada mereka yang telah merawat anak-anak di panti asuhan tersebut. Tidak ada darah mereka yang mengalir di tubuh mungil tersebut, namun dengan sabar, mereka mau merawat mereka. Tidak hanya sehari atau dua hari, tapi dalam waktu yang lama. Wow.

Terakhir, saya merasa sangat beruntung mempunyai orang tua. Jadi merasa sangat bersyukur.

Begitulah isi pikiran saya. Selanjutnya, saya mencoba menggendong mereka dan menemani bermain.

Hati manusia siapa yang tahu.

Nampaknya bukan, “ibu”, ucapan pertama mereka.

NB : Monggo, sekali-kali nyoba mengunjungi suatu Panti Asuhan, dan rasakan sendiri yang saya rasakan. Ndak cuman liat sinetron dan digombali tulisan ini.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s