Sleep, Oversleep, Sleepyhead

Yah, tidur itu memamng kebutuhan manusia. Konon, orang lebih bisa bertahan hidup tanpa makan lebih lama daripada tanpa tidur. Banyak orang yang nulis di field hobi di form biodatanya dengan string “tidur”. Apa iya tidur begitu mengasyikan ? Soalnya, selain yang bisa melakukan “Lucid Dream” – kemampuan untuk mengendalikan mimpinya – saya rasa, tidur itu biasa-biasa saja. Tidak kerasa apa-apa.Lha wong kita tidak sadar.

Untuk saya sendiri, saya ini masuk wilayah abu-abu. Tidur bisa, begadang hayuk. Bahkan, saya sudah memulai kegiatan begadang ini saat masih SD. Kalau tidak salah, pas kenal sepakbola untuk pertama kalinya dan film di televisi. (TV memang salah satu alat buang-buang waktu paling cepat). Setiap malam minggu, sering saya begadang hanya demi nonton Ketropak Humor (RCTI) dilanjutkan dengan serial Viper (SCTV), dan pastinya Serie A Italia (RCTI). Terus paginya dilanjutkan nonton kartun secara marathon.

Itu baru akhir pekan. Belum lagi tiap ada Layar Emas di RCTI atau Liga Champions yang ditayangkan di mid-week. Jadi, ndak usah heran, kalau saya sering begadang dengan tujuan tidak jelas.

Efek dari begadang ini, jelas ngantuk. Tapi, saya baru tidur di kelas pertama kali saat SMP kelas 1. Pas jam Bahasa Inggris. Pas duduk paling depan pula. Dan, langsung di jewer. Padahal guru bahasa Inggrisnya salah satu favorit saya. Mungkin hanya itu saja saat SMP. Menginjak masuk SMA, makin menjadi-jadi saja. Nampaknya, hampir semua mata pelajaran pernah saya tiduri. Ada beberapa kejadian gara-gara tidur ini yang masih terkenang :

1. Tidur saat ulangan kimia : Saya lagi sakit, jadi wajar kalau tertidur. Baru bangun saat gurunya mendekat. Saat bangun, langsung liat lembar jawaban. Merasa ada yang salah. Mengoreksinya. Dan kemudian tidur lagi. Hasilnya, jadi satu-satunya yang dapat 100. Padahal, di kelas saya itu banyak dewa. Tumben-tumben saya dapat bagus.

2. Tidur saat nonton Star Wars 3, pelajaran bahasa Inggris. Ini rada konyol sih. Masak nonton saja sampai tidur. Tapi wajar sih, lha wong pencahayaan gak terlalu nikmat. Saya pun tidur. Bangun-bangun. Sepi. Film hilang. Sudah jam makan siang ternyata. Saya ditinggal. Eh, mau ke dapur, kaki kesemutan. Gak bisa jalan. AH…

3. Tidur dan pas bangun sudah beda kelas. Resiko paling besar saat tidur di kelas bukan dimarahi guru atau yang lain. Tapi, pas bangun tidur sudah diisi oleh makhluk beda jenis, alias kelas perempuan. Maklum, dulu di SMA saya menerapkan sistem moving class. Jadi, tiap mata pelajaran ganti ruang kelas. Makanya, saya selalu memperhitungkan faktor “Habis saya, siapa yang makai ruang ini ?”. Untungnya, saya belum pernah sesial itu. Paling pol, bangun sudah ganti kelas, tapi kelas laki-laki.

4. Tidur dan muka jadi papan tulis. Ini resiko nomer 2 paling bahaya. Pas tidur, muka dicoret-coret pakai spidol sama teman. Itu harus dibalas dengan perlakuan serupa, atau lebih lah. Ndak mau terima.

5. Tidur sejam penuh saat kepala sekolah mengajar. Ini agakberesiko. Tapi, gara-gara pak Kepsek lama datangnya, saya menanti dengan sabar. Tidur dulu. Eh, tak lama kemudian, pak Kepsek datang. Saya hendak dibangunkan teman saya. Tapi, kata pak Kepsek, “tidur itu hak semua orang”. Akhirnya, saya baru dibangunkan saat pelajaran selesai. Memang sangat pengertian sekali pak Kepsek saya. Ini semua menurut cerita teman-teman saya. Oh iya, kalau tidak salah, ini pertama kali diajar pak “itu” saat jadi kepsek.

6. Tidur saat upacara bendera. Ini Saya juga ndak ngerti. Mungkin saking ngantuknya, saya ketiduran pas berdiri di barisan paling depan. Untung saja, tidak jatuh atau apa.

7. Tidur saat listening UN Bahasa Inggris. Ini mungkin puncaknya. Jadi, ada tradisi bid’ah (atau apapun itu), saat mau ujian nasional, anak asrama pada menggelar kasur bareng, dan tidur bareng-bareng. Saya juga termasuk penganutnya. Tapi, kok ada Liga Semifinal Liga Champions. Jadi malah nonton. Kemudian, saya baru sadar, musti minum obat juga. Makin ngantuk. Dan, efeknya bangun agak mepet dari jam mulai UN. Langsung, ambil tindakan berbahaya. Mandi di kamar mandi dalam Pembina asrama. Di dalam pikiran saya, “ah, peduli sama pembina. Ini UN bung…”. Hal ini saya ambil soalnya kalau mandi di kamar mandi siswa, musti ngantri. Dan, ada saja manusia-manusia konyol yang mandi kayak angkot ngetem. Lama.

Efeknya, saya ngantuk parah pas ujian. Sudah berusaha menahan kantuknya. Tapi oh tetapi. Tepar juga. Dan pas listening. Akhirnya, membatik LJK dengan fungsi pseudo-random. Hasilnya ? Masih bagus kok…. Hahaha… Masih beruntung ternyata. Tapi, serius, ini jangan ditiru.

// Fin

Sebenarnya, masih ada yang lain. Tapi, karena saya sukan angka 7, saya cukupkan sekian saja.

Oh iya, penyebab utama saya ketiduran adalah, terlalu sering ngobrol ngalor-ngidul dengan teman sekamar saya. Mulai dari obrolan politis, bisnis, masa depan, perempuan (ini dalam arti psositif), dan lainnya.

Walaupun rada mengesalkan, saya kangen juga dengan ngobrol kayak gitu. Cuman di asrama bisa terjadi, atau di pelatihan.

Oh iya, tulisan ini terinspirasi kejadian pagi ini. Saya tidur terlalu larut gara-gara deadline. Bangun dadakan, HP ketinggal di kost teman. Mandi seperti biasa. Ganti celana. Namun, lupa ganti baju. Terintimidasi kuis IMK.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s