Jidat oh Jidat…

Sungguh sial, atau mungkin begitulah saya menyebutnya.

Begini ceritanya :
Jumat ini, asrama saya diundang ikut turnamen futsal oleh SCTV (buat Karnaval SCTV). Sudah berhasil menang sekali. Jadi, hari Sabtu nya main lagi. Saya ikutan, cadangan. Ini futsalnya mirip street footbal gitu. Jadi, gak ada out. Dikasih pembatas berupa krangkeng. Waktu 1×10 menit.

Saya melihat dari dekat pintu masuk lapangan.

Sial oh sial… Pintu tidak terkunci… Pas ada yang rebutan di sekitar pintu, pintunya ikut kebuka. Dan, crot… Kena kepala saya… Waduh….

Cidera lemah
Cidera lemah

Memang sih, pertama kali kena gak sakit. Bahkan gak keluar darah. Tapi, untung nyadar keluar darah. Terus dikasih P3K sama panitia. Berharap paramedisnya dokter perempuan, eh kok ndak mungkin banget.

Tapi, malu juga. Diketawain orang-orang. Masak iya, belum main udah berdarah-darah. Apalagi kalau main. Untung saya bisa menangani opini publik itu, dengan mengopinikannya lebih dulu. Saya rada bangga dengan kemampuan membaca situasi politik semacam ini.

Akhirnya, sempet main juga. Dan, kalah 1-3. Ya sudahlah… Sudah melebihi target. Yang penting seneng-seneng saja.

Pas saya cek di asrama, ternyata bentuk lukanya seperti ini :

Luka
Luka

Serem juga ternyata. Dan, malesnya, selalu ada perasaan takut kesenggol tangan atau rambut. Apalagi pas mandi. Haduh.

Malemnya, alias malem pas saya nulis postingan ini, malah nyeri. Haduh, besok saya musti bangun pagi buat ketemu anak-anak dewa. Siapa tahu ada yang nanya-nanya soal kombin. (sok jago).

Belum main sudah cidera. Suram sekali nasib jidat saya.

By the hell, saya juga pernah terluka pada daerah alis kanan. Bentuk lukanya mirip, dengan sedikit rotasi. Penyebabnya, HP jatuh di kolong ranjang pas tidur. Gara-gara males ngehidupin lampu, dan setengah tidur, saya ndak sadar kalau alis kanan nabrak ranjang besi. Dan, crot…

Tapi, gara-gara malam, ngantuk, dan a-u-ah, saya cuman ambil tisu, dilap, dan tidur. Pagi hari pas bangun, baru berfikir, ini enaknya diapain biar bisa sembuh ?

Pas kecil, malah lebih parah. Kepala saya kebentur lingir (bagian dari tembok yang agak bahaya, rusuknya lah). Eh, kepala moncrot (mirip nama orang). Diperban akhirnya. Tapi, kayaknya dulu saya malah bangga punya luka di kepala. Jadi semacam pendekar gitu. Hahaha…

anyway, saya bersyukur cuman luka segini. Bayangkan saja kalau kena mata. Waduh, jadi susah main bola ntar. Atau, kena hidung, bisa patah. Semua ada hikmahnya.

Jadi, lesson learned-nya : kalau belum main, jangan sampai cidera. Malu.

NB : bukan maksud alay atau gimana. Sekadar berbagi.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s