Signature Algorithm

Postingan kali ini tidak ada hubungan dengan algoritma pemrograman atau sejenisnya. Hanya sedikit berbagi apa yang baru saja saya alami. Sebelumnya, saya mau bertanya, sejak kapan Anda memutuskan untuk memakai tandatangan seperti sekarang ?

Bagi saya, jawabannya adalah sejak SD. Entah sejak kelas berapa. Tapi yang jelas, saya dulu sudah kepikiran, kalau saya sering gonta-ganti tanda-tangan, nanti bakal dipertanyakan, ini tanda tangan Sunni bukan sih ya? Padahal, dulu itu, saya baru memakai tanda tangan untuk satu rekening tabungan saja. Gara-gara secara tidak sengaja menang lomba.

Baru-baru ini, tanda tangan saya dipertanyakan. Kejadiannya saat saya ngurus KTM atau ATM saya yang sempat hilang. Karena hilang, saya memutuskan untuk memblokirnya. Takut disalahgunakan oleh yang nemu KTM. Padahal, isinya cuman seberapa gitu.

Untung saja, yang nemu KTM saya baik hati, jadi tidak diapa-apain. Malahan diantar ke pos satpam. Dan untungnya, ada teman saya yang liat KTM saya di pos satpam kampus. What a what.

Seiring dengan ketemunya KTM saya, saya harus membuka blokirannya. Agar bisa dipergunakan untuk ngambil duit dan bayar hutang (hutang beli buku, pertama kali saya beli buku dengan niat tulus). Namun, sial bagi saya. Mbak teller menanyakan keaslian saya. Soalnya, tanda tangan di buku tabungan dan yang saya tuliskan agak beda. Padahal, mirip menurut saya. Dilihat dari segi algoritma pembuatannya. Tinggal digaris ini, dicoret garisnya, dikasih titik, dikasih garis lagi. Sesederhana itu doang.

Akhirnya, saya disuruh tanda tangan ulang. Harus sama dengan di KTP. Padahal, KTPnya sendiri jarang keluar dari dompet. Ah, ribet juga. Kalau begini, saya bisa dituntut dengan tuduhan titip absen di akademik saya. Soalnya, kalau dibandingkan secara hasil, memang beda antara tanda tangan saya di lembar presensi dan di KTP. Boro-boro di KTP, dibandingkan antar kolom saja sudah beda.

Tapi, algoritma buat bikin tanda tangannya sama kok. Mungkin rada beda parameter, jadi keliatan beda. Artinya, kalau menandatangani sesuatu hal yang penting, perlu liat KTP dulu, buat mengingat parameternya.

Hmm, jadi ngerti bedanya paraf sama tanda tangan.

By the way, saya baru menjalani ujian online. Lumayan enak. Tinggal ketik adn pilih jawaban. Terus, pas ending-nya si bapak malah punya ide buat ujian via handphone. Memang, bapaknya mendewa….

Iklan

7 comments

  1. Wah, berarti algoritma tandatanganmu sudah memenuhi prinsip confusion n diffusion crut..
    Jadinya aman..
    Sing nduwe tandatangan wae bingung nggawe sing podho kok, apalagi org lain, hohoho…

  2. Hhaha…. saya pernah ngalamin sun, persis sama.. Bahkan disuruh mbaknya latihan dulu buat tandatangan (didepan mbaknya lansung!) sampe persis dengan tanda tangan di KTP… sungguh pengalaman yg memalukan..

    Lebih parahnya lagi, di akhir “perpisahan” mbaknya ngomong “Sering-sering latihan ya, biar ga lupa”… -______________-” double-kill !!!

  3. tanda tanganku ga pernah ganti lagi sejak aku bikim SIM.
    dlu pas SD bikin rekening bank tanda tangane bade sama yg sekarang.hahaha…tapi udh ga pake rekening itu lagi,yowess

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s