Judul : Kuncup

prolog : Tulisan kali ini lebih cocok disebut berbagi pengalaman, daripada curhat. Saya jufa bingung mau ngasih judul apa, jadi sesuai konvensi, saya kasih variabel serba bisa, “kuncup“.

Jadi, beberapa hari terkahir saya dapat tawaran buat menghasilkan sesuatu yang menghasilkan. Halah. Cukup banyak, dan sangat menggiurkan malah. Tapi, somehow, entah kenapa, dan saya juga tidak tahu kenapa, selalu saja ada sesuatu hal lain yang memaksa saya menolak tawaran tersebut. Walaupun, yang sesuatu hal lain itu, tidak lebih menggiurkan atau kadang kala malah tidak berwujud.

Misalnya, beberapa saat sebelum saya menulis ini, saya ditawari ke Medan. (dalam hati : wew, Medan, jauh, something wow lah. Paling pol saya pergi ke Pekanbaru, itupun dibarengi tragedi kaki ketlindes).

Ngapain di sana ? Intinya, ada kerjaan lah. He…

Berapa lama ? 10 hari… (hell, lama parah). Tapi cuman 3 hari doang kok efektifnya, sisanya liburan (makin hell)

Kapan ? 25 April (kalau tidak salah ingat. makin hell. Walau beberapa pekerjaan bisa di-handle secara online,  tetap saja, tidak etis)

Ah, andai saja tidak ada ina, ini, itu, ita, dan lainnya, pasti akan saya terima. Tapi, apa daya, ada yang menurut saya lebih berharga daripada materi.

Lain cerita, saya ditawari ke beberapa kota besar. Dan, beberapa kali pula saya mesti tolak. Hanya demi sesuatu yang tidak lebih bermateri daripada tawaran tersebut. Sekali lagi, ada hal yang tidak terlihat yang saya anggap lebih berharga.

Paling wow, saya menolak tawaran, hanya demi sesuatu yang entah menurut orang saya bodoh atau bagaimana. Tidak menghasilkan, malah melelahkan, dan seterusnya. Tapi, sekali lagi, ada yang saya anggap lebih berharga.

Ahey...
Ahey...

Yah, saya ingin mempertahankan apa yang saya anggap lebih berharga itu sekuat saya, sampai kubur lah (kok jadi serem ya ?)

Analoginya, seperti pemain bola yang sangat loyal ke klubnya, meski sedang dalam periode negatif. Del Piero (saat Juventus terkena calciopoli dan degradasi), Gerrard (Liverpool hingga sekarang), atau Zanetti (saat masa paceklik Inter). Kagum, loyalitas mereka tinggi. Saya ingin seperti mereka. Mencoba seperti mereka dari hal-hal kecil, dari sekarang, dan dari diri sendiri (mengutip Aa’ Gym). Mencoba memberitahu pada orang, bahwa saya bisa dipercaya dan punya integritas. Sering saya mendengar desas-desus kutu loncat. Dan saya tidak ingin seperti itu, terlepas dari desas-desus itu benar atau tidak.

Mungkin, pendapat dan keputusan yang diambil tiap orang bisa berbeda untuk menghadapi situasi serupa. Mungkin saya kurang pertimbangan atau bagaimana. Yah, hidup ini penuh masa belajar.

Mohon maaf, bagi yang saya tolak tawarannya, bukan tidak mau, hanya tidak memungkikan meraih hasil maksimal dan tidak etis saja. Mungkin yang ngasih tawaran kurang cepat satu atau beberapa langkah. Coba saja lebih cepat, pasti saya terima… He…

NB : Berhubung makin banyak pranala/link yang ingin saya pasang di blog ini, terpaksa saya bikin halaman baru, Pranala, agar tetap terjada ke-IMK-annya.

Iklan

4 comments

    • ahey, Giggs relatif tidak mengalami masa2 suram. Bandingkan dengan Juve pas degradasi, Liverpool yang gak pernah juara liga, dan inter pernah mirip dengan liverpool…

      zanetti dari 96
      del piero dari 93
      gerrard dari 87(di senior tim sejak 98)

      jadi, cuman ngambil yang mengalami masa2 suram…

      tapi, tetep sih, orang semacam giggs, scholes, patut diacungi jempol atas loyalnya…

  1. “Coba saja lebih cepat, pasti saya terima… ” —> inkonsisten.ha..*gojek*

    bagus sun, yang kek gini musti dipertahankan. kalo boleh urun ilmu, loyalitas dalam Islam disebut al-wala’.. dan memiliki sikap ini menunjukkan kita punya tali iman yang kuat, sepanjang loyalitas nya itu alesannya karena cinta dan benci krn Allah (mbuh sih nek alesane sunni ki opo, mugo2 yo mlebu dlm kategori itu).

    • ““Coba saja lebih cepat, pasti saya terima… ” —> inkonsisten.ha..*gojek*” –> konsisten malah, kan siapa yang cepat, dia dapat… hahaha…

      InsyaAllah, semoga termasuk yang al-wala’ itu… amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s