Mau Inovasi ? Budaya Kita lebih dari cukup…

Yak, dunia teknologi informasi, sangat pesat kemajuannya. Mulai dari dulu yang hanya sekedar tabung-tabung hampa hingga komputer tablet yang mirip tatakan tempe. Mulai dari jaman Friendster, Facebook, hingga Twitter. Dari hape mirip ganjel pintu, hingga hape merek buah-buahan. Dari CD hitam sekian inchi, hingga jadi hard disk external bertera-tera. Dari game snake dan tetris, hingga Dot A dan Angry Bird. Pokoknya, sudah banyak lah perkembangan dunia teknologi informasi, sejak 2-3 dekade terakhir.

Dah lah. Bisa panjang daftarnya kalau diterusin. Namun, kita kok rasanya cuman jadi penonton ya? Cuman sebagai pengguna Twitter, Facebook, dan sejenisnya. Tetep jadi konsumen lah intinya. He… Miris sih. Tapi, ya mau gimana lagi. Itu faktanya.

Indonesia ini bangsa yang besar, penduduk juga banyak. Masak iya, duit kita masuk ke kantong orang bule ? Saya sih enggak. Terus gimana caranya biar bisa bertahan di dunia informasi yang sangat pesat ini ?

Jawabannya sederhana, sekaligus rumit, INOVASI.

Hanya inovasi yang mampu membuat si Facebook menelikung si Friendster. Hanya inovasi dari Google yang sampai sekarang makin menjadi-jadi. Belum lagi merek buah-buahan, Apple dan BlackBerry. Mereka punya inovasi masing-masing. Dan, jadilah mereka bertahan dari gempuran zaman.

Lalu, apa yang musti kita lakukan ? Apa kita punya modal ?

Jawabanya, Ya iyalah, masak ya iya dong. Seperti tadi sudah saya sebutkan, Indonesia itu bangsa yang BESAR. Banyak isinya. Mulai dari kelapa sawit, emas, dan seterusnya. Walaupun, beberapa diantaranya disikat orang bule.

Namun, ada hal yang selama ini kita abaikan. Sebuah kekayaan yang di dunia ini pun tidak ada yang menandinginya. Tidak satu negarapun. Sesuatu ini adalah BUDAYA INDONESIA.

Tidak percaya ? Silahkan gunakan Google untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman budaya paling banyak di dunia ini. Melebihi Cina walau kita kalau jumlah penduduk. Contoh sederhana, bisakah Anda menyebutkan, berapa total variasi batik di Indonesia ? Atau, rumah adat ? Atau, pakaian adat ? Belum lagi upacara adat, senjata, dan seterusnya.

Terus, mau diapakan budaya kita ?

Budaya dan teknologi itu tidak berseberangan. Bisa saling bantu menyokong. Teknologi sebagai fisiknya, budaya sebagai jiwanya. Tidak usah banyak omong, berikut ini saya sampaikan contoh konkritnya. Contoh ketika budaya bertemu dengan teknologi.

  1. Gamelan Player
    Gamelan Player merupakan salah satu aplikasi mobile, yang memudahkan penggunannya untuk memainkan gamelan. Cukup sederhana, namun punya rasa. Dipikir-pikir, benar juga. Daripada mengangkat alat-alat gamelan yang besar-besar dan berat, cukuplah nyalain HP, dan GOOONNGG…

    Gamelan Player
    Gamelan Player

    Aplikasi untuk handphone Nokia ini dibuat oleh Adam Ardisasmita. Dan telah tersedia di OVI Store.

  2. Bhinneka Tunggal Ika
    Salah satu contoh budaya yang diimplementasikan dalam bentuk permainan. Kalau Dot A atau Age of Empire biasanya lebih sering didominasi budaya dunia, maka Bhinneka Tunggal Ika ini merupakan permainan yang berbasis Indonesia banget. Mulai dari ceritanya yang mengambil waktu penjajahan kolonial, bangunan-bangunan yang mengambil rumah tradisional Indonesia, serta tokoh-tokoh yang merupakan pahlawan dari penjuru Indonesia. JOSS lah…

    Bhineka Tunggal Ika
    Bhineka Tunggal Ika

    Permainan ini dibuat oleh Timotius Nugroho Chandra dan Raka Mahesa. Yang sedang diikutsertakan dalam lomba Mobile Game Developer War. Dan sudah mencapai babak final, yang akan dilaksanakan pada 4  Juni 2011 di Jakarta. Ternyata, setelah saya cek, game-game yang masuk ke final lomba ini ada yang mengusung budaya Indonesia. Cek saja di sini.

  3. Thousand Hands Revolution
    Kalau dua aplikasi di atas hanya dalam bentuk perangkat lunak, yang contoh ke tiga ini mengimplementasikan budaya dalam perangkat keras. Idenya sangat sederhana. Tahu DDR kan ? Dance Dance Revolution. Permainan menari-nari yang sering ada di pusat perbelanjaan. Nah, si Tari Saman Digital ini membuat DDR dengan versi Tari Saman. Tapi, sensor tidak hanya terdapat di kaki saja. Melainkan di bahu, dan paha. Pokoknya, kita bisa menari Saman dengan permainan ini. Bukan lagi tarian asing.

    Thousand Hand Revolution
    Thousand Hand Revolution

    Permainan ini sendiri dibuat oleh 5 sekawan yang menamakan dirinya Putri Petir, yang terdiri dari Nurfitri Anbarsanti, Nadhilah Sabrina, Karina Asrimaya, Hapsari Muthi Amira, dan Sesdika Sansani. Thousand Hand Revolution ini juga telah menjadi Juara 1 dalam kompetisi Electrical Engineering Award 2009. Sumber : Indonesiakreatif.net, majalah.tempointeraktif.com

Hmmm, saya rasa 3 contoh cukup untuk menunjukan bahwa budaya Indonesia itu punya sesuatu yang pantas dibanggakan dan dihargai. Masih banyak contoh-contohnya. Tidak hanya sekadar pembuatan aplikasi. Bahkan, sekadar tas laptop bermotif batik pun sudah punya nilai tersendiri.

Yak, menurut saya, siapapun bisa belajar teknologi. Bahkan membuat teknologi itu. Termasuk orang Indonesia. Namun, isi dari teknologi itulah yang membedakan. Dengan penyatuan budaya kita dan teknologi, kita akan mempunyai ciri khas, tidak melulu ikut-ikutan orang lain. Dan, tentu saja, akan membantu melestarikan warisan nenek moyang serta menghindarkan dari pengaku-akuan bangsa lain atas kebudayaan kita.

Andai saja kita mau, budaya kita itu sangat banyak. Dan, itu bisa jadi sumber inovasi kita tentunya.

Jangan sampai, kebudayaan kita digunakan orang asing untuk mengeruk isi dompet kita. Setuju ? Saya sih setuju…

Tapi, ingat, yang saya tulis ini bukanlah satu-satunya cara berinovasi. Tentu masih ada banyak cara yang lain. Salah satunya, mengikuti COMPFEST 2011. Suatu One Stop Event yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia pada tanggal 14-16 Juni 2011 di SMESCO Indonesia. Suatu acara yang bertujuan untuk meningkatkan inovasi anak bangsa menuju pengakuan internasional. Mau ? Silahkan cek di sini.

Compfest 2011
Compfest 2011

Hidup lah pokoknya… Masak mau jadi follower terus?

Sumber :

Iklan

7 comments

  1. kalo dari segi bisnis sun. Gimana caranya bikin suatu inovasi yang mengangkat budaya, tapi juga orang luar bisa tertarik juga?

  2. Sipp lah.. Bule aja banyak yang tertarik mempelajari budaya kita, masa’ bangsa kita sendiri gak mau peduli sama budayanya..
    Moga aja injeksi budaya ke teknologi ini bisa menarik minat putra-putri Indonesia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s