Jogging at Mariana, Palembang coret

// Prolog

Sebenarnya, saya sudah hampir 3 minggu di Palembang. Atau lebih tepatnya, daerah Mariana, Banyuasin, deket Pertamina. Tapi, belum sempet nulis sesuatu tentang apa yang saya liat. Bukan tidak ada yang dilihat, cuman gak sempet. Huehue… Ternayat KP cukup melelahkan. Bukan karena dikasih kerjaan berat, tapi masuk jam 7, pulang 15.30 itu lho. Hueh. Jelas, saja, 3 minggu ini cuman kasur-kantor-kasur-kantor… Lha po ra bosen. I need football. Akhirnya, tadi pagi saya mlaku-mlaku alias joging. Kebiasaan pas saya masih SD.

// End of prolog

Keluar dari rumah

Saya keluar dari rumah jam 6 kurang seperempatan. Bermodal celana, kaos bau, dan sandal. Namun, sandalnya saya tinggalkan di pinggir jalan. Biar kerasa joggingnya. Saya ngambil arah yang berlawanan dengan arah ke kantor. Biar tahu suasana sekitarlah. Pemanasan sedikit. *Aih, jadi ingat pemanasan pas mau latihan bola di IF. Terus jalan, mulai agak cepat, lari, dan direm. Well, saya melihat anjing. Lontong. Bukan takut. Cuman gak mau aja digigit secara konyol. Air liurnya njijiki. Najis pula.

Begitu seterusnya, tiap ada anjing, langsung masuk ke  gigi 1.

Truk Wanita

Pas di awal perjalanan, ada truk lewat. Isinya wanita semua. Udah berfikir yang aneh-aneh saya. Pagi-apgi gitu. Eh, ternyata, jebule, mereka adalah pekerja di pabrik, Pupuk Sriwijaya. Ternyata, ada beberapa pabrik. Ada juga lokasi pembuatan kapal. Berikut saya ambil fotonya, dari balik pagar kawat.

Dibalik pagar
Dibalik pagar

Menthog Terbang

Entah, saya yang tidak pernah liat, atau menthog di sini masih bisa terbang. Yang jelas, saya sempat liat seekor menthog terbang melintasi jalan. Hanya bisa terpana.

Sungai Musi

Ternyata, jalannya itu mepet sama sungai. Sungai Musi kalau gak salah. Memang benar kata sejarah. Sungai itu sumber kehidupan. Seperti Nil, Gangga, Eufrat, dll. Semua dilakukan di sungai. Mulai dari mandi, nyuci, BAB, cari makan, dan seterusnya. Berikut gambarnya :

Sungai berkabut
Sungai berkabut

Baru liat, ada sungai yang bisa dilewati kapal.

Kelapa Sawit

Saya tidak menjumpai sawah selama jalan-jalan. Ternyata, setelah saya tanya-tanya, ada sawah yang sangat produktif. Namun, terletak di seberang sungainya. Saya tidak tahu definisi untuk “sangat produktif”, tapi dari ceritanya, emang menyebutkan angka-angka yang cukup besar. Maklum, tidak pernah ngitung hasil panen sendiri.

Yang banyak adalah kelapa sawit. Banyak truk-truk yang membawa kelapa sawit. Katanya lagi, di daerah transmigrasi emang banyak kebunnya. Namun, saya tidak sampai sana. Capek crut.

Kelapa Sawit
Kelapa Sawit

Kalau saya perhatikan sih, kelapa sawit itu dari kapal-kapal, yang membawa dari seberang. Kayaknya.

Kapal di Sungai 1
Kapal di Sungai 1

Kalau yang di  bawah ini, yang versi ada kabutnya. Serius, kabutnya cukup tebal.

Kapal di Sungai + Kabut
Kapal di Sungai + Kabut

Rumah Adat

Oh iya, saya perhatikan selama 3 minggu ini, masih banyak rumah yang bertipe rumah adat. Walaupun saya tidak tahu rumah adat di sini seperti apa, tapi melihat pola bentuk rumah, saya yakin, kalau rumah adat di sini, punya ciri khas ada ground-nya.

Rumah Adat
Rumah Adat

Mungkin cukup mirip dengan yang saya guggling :

Rumah Limas
Rumah Limas

Lihat, mirip kan? Bedanya, yang bawah ideal, yang atas real. Yang paling saya perhatikan adalah bagian bawah dari rumah tersebut, tidak langsung nempel ke tanah. Biasanya, dipakai buat ternak. Mungkin, gara-gara dekat dengan sungai. Jadi, jaga-jaga biar tidak kebanjiran. Mungkin, Jakarta perlu membuat rumah semacam ini.

Gotong Royong

Foto terakhir yang saya dapat, adalah foto penduduk setempat yang sedang gotong royong. Hmm, Indonesia versi baik itu masih ada.

Gotong Royong
Gotong Royong

Tumben Sun, gak terjadi hal-hal aneh ? Siapa bilang…

Sandal Ilang

Ini, saya yang lemah, atau emang kurang infak. Tadi, saya tulis, saya berangkat pakai sandal. Tapi, kalau lari-lari make sandal, jelas gak banget lah. Apalagi di-cangking. Akhirnya, saya tinggal di suatu lokasi. Pake trik sederhana, namun pernah berhasil mengumpetkan sekian kantong makanan pas kemping.

Jadi, saya “buang” secara terpisah kedua sandal saya. Di rumput-rumput. Dengan asumsi, tidak ada orang bodoh yang ninggal sandal, dan tidak ada orang yang lebih lemah nyari sendal di rerumputan.

Lalu, saya lari. Eh, kok pas balik, saya cariin, gak ada. WUEL…. Ternyata, emang ada orang yang lebih lemah. Tak tahunya, saya salah posisi nge-buang sandal. Terlalu dekat dengan pertigaan, yang notabene-nya tempat nunggu angkot. Aih…

Tidak nyasar, cuman keblandang

Saya cukup PD pagi itu. Yakin, tidak nyasar. Kalaupun nyasar, saya bawa HP. Bukan buat GPS, tapi buat minta tolong. Lagian, hanya ada satu jalan utama. Masak iya sih, saya nyasar.

Dan, emang tidak nyasar. Tapi, keblandang. What is keblandang ? Kebablasan. Kok bisa ? Jadi, saya balik naik angkot. Angkot yang berisi lagu ST12. Hew… Karena terlalu asyik menikmati pemandangan, saya sampai lupa harus turun dimana. Saya lupa bikin ancer-ancer. Tiba-tiba, udah nyadar saja, kok perasaan tiap pagi lewat sini. Sial, saya sudah lewat hampir 2 kilo.

Lebih lontongnya lagi, angkot yang arah berlawanan, jarang. Akhirnya, terpaksa olahraga lagi. Saya itung, gara-gara nyasar ini, saya harus jalan sekitar 20an menit. Padahal, total saya keluar rumah hingga masuk lagi, cuman 70 menit. Aih…

Iklan

3 comments

  1. Budak mano lur? Kalu kujingok caro nulis ente ni, ente punyo kartu PWI yo? Boleh share…. Kapan2 kito ketemu. Bagus jugo kalu kito buat media elektronik atau buletin untuk masyarakat seputaran Kecamatan Banyuasin I dan Air Kumbang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s