Lomba Cerdas Cermat

Tiba-tiba pengen nulis tentang lomba cerdas cermat gara-gara baca tulisan dan komentar di blog temen saya, Aish.

Saya cuman mau cerita tentang pengalaman saya di lomba berjenis cerdas cermat, yang identik dengan cepet-cepetan mencet bel. Bagi yang tidak tahu lomba semacam ini, lemah sekali… Berikut beberapa pengalaman saya, yang rasanya cukup bisa dikenang.

Lomba MIPA di SMA N 1 Teladan Yogyakarta (Jaman SMP)

Finalis ada 7 orang, yakni Aning, Hendra, Yosua, Gogo, Deni, Wahyu, dan Saya. Materi terdiri dari Matematika, Fisika, dan Biologi. Sialnya, semua bisa matematika. Rugi dong… Yang untung jelas yang menguasai materi yang peserta lain tidak cukup menguasainya. Apalagi, biologi ndak butuh ngitung, tidak seperti fisika atau matematika. Dan, Juara 1 adalah Aning. Juara 2 Hendra, berikut Gogo, Deni, dan Saya. BFS was better than DFS, here… *terbukti, yang juara 1 masuk kedokteran UGM

Lomba matematika di SMA N 8 Yogyakarta (Jaman SMP)

Finalis 5 orang, Yosua, temen sekolahnya Yosua (maaf, lupa), Gogo, Saya, dan seorang lagi (kalau gak Wahyu atau Deni atau orang lain, maaf lagi). Di sini, Yosua ngawu-awu. DFS was owning, here… Kalau gak salah, pas final, gak boleh minta kertas buram tambahan. Peraturan yang rada aneh. Efeknya, setiap ngoret-ngoret, pakai pensil, dan dihapus lagi. Hasil akhir, sesuai urutan nyebut nama. *terbukti lagi, yang juara satu masuk matematika NTU

Lomba matematika di UNNES Semarang (Jaman SMA)

Salah satu masa lalu yang cukup bisa saya banggakan. Hehehe… Bukan gara-gara hasilnya, tapi prosesnya. Nilai pada babak final, merupakan akumulasi dari babak penyisihan dan babak semifinal, plus nilai final tentunya. Sialnya, nilai saya di dua babak sebelumnya, adalah yang terburuk dari 5 finalis. Finalisnya : Hendra, Febi, Iwan, Laras, dan Saya.

Ya sudah, nothing to lose. Babak pertanyaan wajib, diakhiri dengan sia-sia. Babak rebutan. Saya tidak lebih jago dari yang lain, tapi mungkin sedikit lebih punya mental, hahahaha… kalau yang lain malu-malu, saya tak tahu malu kalau menjawab salah. Dan, memang, from zero to hero lah. Hasil akhir sesuai dengan penyebutan nama, tapi dibalik.

Ada sedikit kenangan juga. Pas babak presentasi, saya sempet keceplosan ngomong hal tidak baik di depan juri. Untung semua tertawa. Tahun depannya ikut lagi. Final aja gak lolos. Dan saya ketawa…

Mental was useful here…

Lomba matematika di IKIP PGRI Semarang (Jaman SMA)

Beregu. Tiap regu 3 orang. Ngerjainnya juga terpisah. Semacam aneh. Dan, sialnya, materi lomba : KURIKULUM. Aih… Saya satu kelompok dengan Ita dan Desi. Sementara kelompok lain dari sekolah saya, Hendra, Husein, dan Khoirul. Jauh lebih rajin dalam bersekolah, yang tentunya tahu cara ngitung integral, turunan, dan limit dengan cepat. Sementara saya, kalau bukan UN tidak saya kerjakan. Untung kelompok.

Final 5 kelompok. Dua babak awal, kelompok saya cacat. Soal wajib semrawut, soal presentasi kehabisan waktu. Sementara kelompok satu lagi, menguasai. Jelas banget mereka bakal juara 1.

Babak terakhir, rebutan. Skor sungguh mepet. Bahkan, posisi 2 dan 3 punya nilai sama. Bisa ngejar juga, walau tetep ranking 5. Soal terakhir, 30 poin. (Sungguh ingatlah). Kalau kelompok saya bisa ngejawab, langsung jadi ranking 2. Soal mengenai umur-umuran. Yah, perbandingan umur lah. Dalam pikiran saya, ini musti kami yang mencet bel pertama kali. Kalau sampai telat, sudah pasti rankin 5, salah jawab ranking 5 juga. Resiko lah.

Soal mulai dibaca. Saya cuman nulis angka-angka yang dibacakan pembaca soal. Gara-gara dikejar kebutuhan harus memencet bel secepat mungkin, saya pencet begitu ada angka yang tiba-tiba muncul di kepala. fyi, angka tersebut muncul bukan dari hasil perhitungan, cuman dari melihat angka yang saya tulis, atau bahasa kasarnya, ini jawaban ngawur.

TETTT… 71. Begitu saya menjawabnya.

Dan gilanya, bener. Dramatis sekali. Gak peduli cuman ranking 2. Sensasinya itu lho. Susah dijelaskan. Kayak di film-film. Tapi, bedanya ini nyata dan saya alami sendiri. Silahkan bayangkan sendiri saja ya. Huehue… Kalau saya teringat kejadian itu, cuman senyum-senyum saya.

Gak mau ikutan lomba taat kurikulum lah. Menyiksa.

Luck was the ultimate weapon, here…

Notes

Sungguh, saya lebih suka lomba bertipe cepet-cepetan mencet bel ini. Suara bel itu ternyata bisa menjatuhkan mental lho. Mental sendiri maupun mental lawan. Cobalah sekali-kali. SERU…. Lebih seru dan menegangkan dari ngerjain soal di kertas tanpa interaksi.

Saya dulu pas SD, sering banget nonton kuis Digital LG Prima. Biasanya tayang di Indosiar, Sabtu siang. Lomba antar anak SMA. Sambil nonton, suka ikutan ngejawab, sambil berkhayal, suatu saat, pas SMA, saya juga mau ikut lomba itu.

Kejadian di kuis tersebut yang masih saya ingat adalah, ketika seorang peserta menekan bel. Dia tidak langsung menyebutkan jawabannya, tapi menjawabnya seperti ini :

dua puluh empat kali lima, SERATUS DUA PULUH

Jawabannya benar. Cara ngejawabnya, keren sekali… Hadiahnya juga gede, US$ 32.000 . Wow…

Sayang seribu sayang. Pas menginjak SMA, kuis itu tidak dilanjutkan lagi. Padahal, bagus sekali. Bahkan, sekedar nonton pun bisa menambah wawasan. Sedih…

Pas kuliah, apalagi. Dengan jurusan IF, jarang rasanya ada yang mengadakan lomba cerdas cermat di bidang informatika. Tidak sesuai memang.

NB : ini hampir jam 2. Padahal besok harus ketemu orang, nikahan, dan ke Jakarta. Aih, mengulik memori emang bikin susah tidur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s