HP dan “Six Degrees of separation”

Dua hari yang lalu, tanggl 20 Juli 2011, saya main ke Dufan, bersama teman SMA saya. Bad things happened. HP saya jatuh pas saya main wahana kicir-kicir dan wahana Tornado macet.

Tornado

Tentang wahana Tornado dulu. Jadi, menurut pengamatan saya, ada yang tidak beres dengan lengan kanan (dari sebelah mana?). Lengan tersebut kelihatannya macet, sehingga posisi tempat duduk, selalu diagonal, alias miring. Ada sekitar 15 penumpang yang terpaksa diturunkan setelah terjebak di wahana tersebut cukup lama. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Dan, Alhamdulillah saya tidak termasuk 15 orang tersebut.

Setelah kejadian tersebut, mood dan pikiran saya langsung berubah. Dari yang semangat, menjadi I dont believe in machine. Arriverderci Tornado, Kicir-kicir, Halilintar, dan sejenisnya. Tapi, untuk wahana yang masih bisa diperkirakan fault tolerance-nya, saya masih berani. Misal, Bom-bom car.

HP ambyar…

Cerita ke dua. HP jatuh.

Ini terjadi saat saya naik wahan kicir-kicir. Tanpa disangka, HP yang saya taruh di saku celana, mlorot dan jatuh, menghempas bumi. Padahal, pas main sebelumnya, aman-aman saja. Pas saya cek, bentuk masih serupa sih, ada beberapa yang jebol di sana-sini. Pas dinyalakan, hanya lampu pada keypad yang nyala. LCD mati total. Saya cek untuk menelpon, ternyata bisa. Ditelpon pun masih bisa. Tapi, volume nada dering hampir mendekati bisu. Tamatlah.

Tidak sampai di situ. Masalah utama bukanlah dana buat beli HP. Masalah terbesar adalah, bagaimana cara mengambil isi phonebook di HP tersebut. Ada sekitar 800an kontak, walaupun tidak semua pernah saya hubungi. Jadi, terpaksa hanya mengandalkan kontak yang ada di simcard. Dan, cilakanya, isi dari simcard tersebut, rata-rata orang yang saya kenal sebelum kuliah. Wow. Untung masih ada isi di simcardi tersebut. Jika tidak, saya hanya hafal 2 nomer HP. Milik saya, dan teman yang sedang di luar negeri. Aih…

Lebih parahnya lagi,  saya ada janji ketemu orang, di hari Kamis. Dan saya perlu menghubunginya terlebih dahulu. Padahal, baru kenal beberapa hari, via telepon pula. Terpaksa, saya harus mencari nomer beliau ini, dengan modal isi simcard.

Tujuan utama, mencari nomer milik HF. Orang yang mengenalkan saya ke target utama. Nomer HF tidak ada di simcard. Aih. Perlu, mecari nomernya dulu. Mencoba menghubungi semua orang yang merupakan mutual dari saya dan HF. Untung ada 3 circle (kalau bahasanya G+), yang saya tahu HF berada. Yakni, unit, jurusan, dan lomba. Dua lingkaran yang terakhir, gagal. Tidak ada yang tahu.

Akhirnya, mencoba circle unit. Sialnya, tidak ada satupun yang tersimpan di simcard. Perlu nyari lagi. Akhirnya, mencari orang yang tahu nomer orang yang satu unit dengan si HF ini.  Untung ketemu. Yang ini via jalur lomba pas jaman SMA. Dapat nomer RW (yang satu unit dengan HF) dari NK.

Akhirnya, dari RW, saya dapat HF, dan dari HF ini saya dapat target utama. Dan akhirnya bisa menghubungi beliau.

Hmm, saya hitung, koneksinya : Saya->NK->RW->HF->Target. 4 path. Jadi teringat  “Six degrees of separation“. Suatu ide yang menyatakan setiap orang di dunia ini berjarak (teman) maksimal 6 orang. Lebih lanjut, cek di sini. Nampaknya, ide tersebut tidak berlaku (mungkin) bagi keterhubungan yang didefinisikan sebagai teman kontak phonebook.

Catatan, saya bertanya tidak hanya ke satu-dua orang, tapi cenderung broadcast. Sms ke semua orang yang menjadi kandidat.

Kembali ke kontak HP. Saya mohon maaf, jikalau saya rada telat balas atau bertanya, “maaf, ini siapa ?” ketika di sms atau ditelpon. Efek dari kontak hilang. Tapi, saya akan berusaha mengumpulkan nomer-nomer penting yang sering saya butuhkan untuk bertanya hal-hal aneh. Google memang hebat, tapi kadang kala jauh lebih efisien bertanya langsung. Selain itu, saya akan mencoba menerka dulu, siapa yang sms dari sms-nya, begitu pula dengan telepon.

Somehow, ada ide HP yang cocok buat saya ? Atau ada yang mau ngasih HP ke saya? *ngarep…

PS : Tessekur buat  Omon, Ginta, Adit, Pak Ting, Yoga, Bibah, Olin, Icha, Sharah, Teguh, dan Arfan yang sudah main-main bersama. Tak lupa Fifi yang sudah bersedia ditumpangi rumahnya.

NB : hidup tanpa HP di jaman sekarang, susah juga, apalagi kalau sedang perjalanan sendirian dan dalam kondisi diare.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s