From Palembang

Akhirnya, punya waktu yang agak senggang sedikit untuk nulis tentang Palembang, tempat KP saya. Bukan mau cerita tentang KP, tapi yang lainnya. Hmm, niat awal ke sana sih emang mau jalan-jalan. Luar Jawa lah.

Jadi, di penghujung waktu di Palembang, saya paksa teman saya yang kuliah di Unsri (Universitas Sriwijaya) untuk menemani jalan-jalan. Maklum lah, suka nyasar. Nama anaknya, Sukma. Ketemu pas lomba. Entahlah, walau cuman ketemu 5-6 hari, saya sering kali dapat teman, dan akrab. Sekaligus, rela saya repotkan. Ahuahahaha….

Oke, kita janjian ketemu di IP. Pokoknya, saya kebabalasan. Jadi, ganti tempat, ketemuan di Ramayana. Beli-beli pesanan Ibu. Lalu, saya diajak makan Mie Celuk (kayaknya, ini namanya).

Mie Celuk
Mie Celuk

Ini lebih saya sukai daripada Pempek, Model, atau Tekwan. Mantap jaya lah. Kuahnya kental. Nikmat. Oh iya, ada juga makanan yang paling sering saya makan di Palembang, namanya Nasi Gemuk (pertama kali mendengar, saya kira gemuk untuk pelumas). Hampir setiap pagi saya diberi nasi ini.

Nasi Gemuk
Nasi Gemuk

Dah lah ya. Topik pembiacaraan dari postingan ini sebenarnya adalah foto. Sayangnya, saya tidak punya banyak foto. Hahaha… Musti dibeliin kamera nampaknya.

Oh iya, di Palembang ada yang namanya TransMusi. Semacam Trans Jogja atau Trans Jakarta. Tapi, ada perbedaan. Di TransMusi, tidak ada halte yang seperti di Jogja atau Jakarta. Tidak ada penjual tiket. Tiket dibeli di dalam bis. Selain itu, ketika turun di suatu halte dan ingin naik TransMusi lagi, kita perlu membeli tiket lagi, kecuali pada halte-halte transit. Kurang bersahabat bagi penumpang yang masih asing dan suka salah turun seperti saya. Bodohnya, saya pernah salah turun. Aih, jadi perlu bayar 3000 lagi.

Kebodohan lain, saya tidak ambil foto TransMusi dari luar, tapi malah dari dalam.

Inside TransMusi
Inside TransMusi

Ditemani teman saya tersebut, saya diajak muter-muter Palembang. Dari kota hingga Unsri yang ada di lokasi yang agak tinggi. Akhirnya, saya sudahkan jalan-jalannya. Sudah sore, dan TransMusi sudah menempuh perjalanan terakhir di hari itu.

Sialnya, pas saya mau balik ke Mariana (rumah kakaknya Hendra, tempat saya numpang), di terminal Plaju (nama terminalnya), sudah tidak ada lagi angkot. Aih, lupa nyari informasi jam kerja angkot. Terpaksa menggunakan pilihan bantuan, phone a friend. Nelpon Hendra, minta jemput.

Ngomong-ngomong soal terminal, ada banyak penjual yang ada di terminal tersebut. Salah satunya adalah penjual ikan. Ikannya masih hidup, tapi tujuannya buat dimakan, bukan hiasan.

Penjual Ikan
Penjual Ikan

Aih, bisa dilihat. Ikannya gede-gede. Saya lupa nama ikannya apa. Tapi, fokus saya bukan di ukuran ikan. Coba lihat ke got (atau sungai) nya. Sungguh hiyek. Lha kalu ikannya lompat terus kecemplung di sungainnya gimana ?.

Hmm, sekarang mari kita mundurkan waktunya. Seminggu sebelumnya, saya diajak ke Prabu Mulih. Suatu kabupaten di Sumsel. Tujuan, mengantat pulang saudaranya kakaknya Hendra. Jauh juga. Macet pula. Maklum, lagi ada pembangunan sarana Sea Games, ditambah malam Minggu, dan sial sedikit. Pokoknya jauh lah. Lemahnya saya, tidak sempat ambil foto atau apa. Kebiasaan, kalau perjalanan, pasti tidur.

Tapi, saya sempat memfoto kebun karet di dekat rumah beliau (beliau refers to saudaranya tadi). Di sana memang populer karet dan kelapa sawit. Fyi,  nyamuknya banyak.

Kebun Karet
Kebun Karet

Saya juga sempat memfoto langit di sebuah SPBU. Sungguh kurang kerjaan.

Langit SPBU
Langit SPBU

Fyi lagi, SPBU di sana sering banget penuh, ngantri lah. Kadang kala, susah dapat BBM. Ironis, padahal di dekatnya ada Pertamina.

Foto kurang kerjaan lain, foto jembatan jalan pintas.

Jembatan Kecil
Jembatan Kecil

Hampir tiap hari kami melewati jembatan ini. Itu saya sengaja miring-miringkan, biar dramatis. Hahaha, gak lah. Bisa dilihat, ada rumah di samping jembatan. Masih ada kayu-kayu yang menahan si rumah. Fyi sekali lagi, di sungai ini, ternyata muat untuk kapal. Dan, masih terpengaruh ke kejadian pasang surut air laut. Aih, saya baru ingat, belum sempat naik kapal di Sungai Musi. Sungai yang arah aliran airnya tidak konstan. Bergantung pasang surut.

Oke, sekarang mari kita majukan waktunya. Saya pulang. Ke Bandung, bukan ke Bantul. Ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan. Saya pulang sendirian. Hendra mau liburan lebih lanjut di sana. Pulang naik bus, yang menyebrangi selat Sunda. Hmm, kapalnya gak seperti Thousand Sunny di One Piece. Hehehe…

Di kapal, saya sempat sholat Subuh. Arah kiblatnya ada 2. Bergantung lagi ke arah Merak atau Bakahuni. Untungnya lagi, bus saya sempat telat, jadi di kapal pas matahari kelihatan. Sayang sekali, mendung. Kurang jelas mataharinya.

Selat Sunda
Selat Sunda
Dek Kapal
Dek Kapal
Sisi kapal
Sisi kapal

Cukup bagus menurut saya. Sayang, batere habis. Oh iya, kapal itu ternyata banyak hal yang saya baru tahu. Ah, saya bingung nulisnya. Misalnya, kan dari bus musti turun tuh. Eh, kebiasaan saya yang menghapal plat kendaraan berguna juga. Mengingat busnya mirip-mirip. Atau, dek kelas eksekutif ternyata kosong. Jadi, bisa dipakai penumpang macam saya ini.

Hmm, apalagi ya. Sudahlah. Sudah panjang. Oh iya, saya sebangku sama anak Bandung juga. Perempuan. Entah siapa namanya. Lupa. Maaf-maaf.

Akhirnya, saya ucapkan banyak terima kasih buat keluarganya kakaknya Hendra. Danke.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s