Friend’s Algorithm

Akhir-akhir ini, saya sedang suka nonton serial tv. Salah
adalah The Big Bang Theory. Ide dasarnya cukup menarik. Berisi 4 orang sekawan yang jenius. Salah satunya terlalu jenius malah. Plus 1 orang wanita biasa yang kerja di toko. Empat orang tersebut karakternya bervariasi. Dan yang paling saya suka adalah chit chat mereka yang kadang kala super ilmiah.
Salah satu episodenya, bercerita tentang Sheldon, salah satu dari 4 orang tadi yang paling jenius, sekaligus autis dalam bergaul, berencana menjadikan seorang peneliti menjadi teman. Untuk tujuan tertentu tentunya. Dalam perjalanannya, Sheldon membuat sebuah algoritma pertemanan. Tapi, bukan itu yang penting. Ada beberapa hal yang membuat saya berfikir. *kok kesannya saya tidaj pernah mikir ya. Misalnya, kapankah dua orang manusia dikatakan berteman? Apakah setelah yang satu meng-add as friend akun facebook yang lain dan kemudian diconfirm oleh pihak lainnya. Apakah itu protokolnya? Wew… Apa ya…
Untuk menjawabnya, kita harus cari definisi ‘teman’ ini. Baru bisa mendefinisikan kapan terjadi perubahan state dari “bukan teman” ke “teman”. Dari sini muncul pikiran lain, jadi ada berapa state ya? Apa cuma dua? Apa itu reversible? Mamam tuh.
Yah, lupakan. Terlalu ribet kalau dipikir dengan pendekatan seperti di atas. Mari lakukan pendekatan empiris. Dari pengalaman. *makin ngaco.
Menurut pengalaman saya, teman itu muncul dari : lingkungan sekitar, dunia akademik, dunia kerja, dan hal yang sama-sama disukai. Dari sini, bisa digeneralisasi bahwa teman itu muncul dari sesuatu yang sama. Misal, sama-sama sekolah di SD X, sama-sama suka main bola, sama-sama gila, atau sama-sama lainnya. Tapi, nampaknya hal ini tidak kuat argumennya. Ada juga pertemanan gara-gara saling membutuhkan, walaupun tidak memiliki kesamaan. Entahlah. Makin bingung saya.
Kalau bagi saya sih, ya friend is friend. And we can’t buy a friend.
Mungkin ada yang punya pendapat lain, monggo…

Gerbong sekian, Pramex Kuning. Dari Jogja ke Solo, mencari kopi.

Update: Aih, pantes gak muncul. Masuk draft. Wew…

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 comments

      • Hah? mksudnya ngopi sambil terapi ikan..? ~.+
        Btw..saya mo komen yg rada bener. Prnah baca2 buku Malcolm Gladwell blm (udh kali ya),yg hebring ad 3 setauku: Blink–Outlier–The Tipping Point. Nah kl g slh yg di Tipping Point itu rada relate sama postingan ini.
        Pak Malcolm blg ada yg namanya:“The Rule of 150”, intinya–> akan adanya perpecahan / ketidak-stabiln jika individu terhubung ke 150 lebih orang dengan intens, atau jika sebuah komunitas mencapai angka itu.
        Jdi mungkin klo temenan itu bsa sama banyak org y.. tpi yg bsa intens ‘temenan’ cm sma bbrapa, dan mgkin itu krn ngerasa ada yg sgt cocok, at least dlm 1 hal..
        tp nek Nabi Muhammad ki piye yo? semua org mrasa dekat sama beliau. Malcolm bsa saja salah.
        Gyah.. malah mbundet aku. keseriusan…

        wait..is it a posting or comment?sorry 🙂

        • Ngopi ki istilahku dolan ro kanca-kancaku. Kebetulan salah satune terapi ikan.

          Hurung tau moco… *suram…bacaanmu sangar-sangar hus…pengen juga aku moco ngono kuwi…
          Nah, hooh kuwi. Aku juga tau kepikiran. Tapi lagi ngerti nek ono rule 150 kuwi. Ketoke dipas-paske.*sok tahuku. Koyo kasus 1 sms = 160 karakter…
          Mungkin, makin jago makin gede angka ne, nek Nabi kan jelas sempurna, dadi wajarlah nek kabeh merasa cedhak.
          Aku juga kepikiran, maksimalku piro ya?
          *lesson learned (again) aku kurang baca. Sering kepikiran sesuatu, sing tak kira ide baru, jebule wis dirumuske uwong biyen. Btw,kuwi buku psikolog?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s