Latte Factor dan Ketekunan

Baru-baru ini saya membaca tulisan di sini, yang akhirnya mengenalkan saya tentang Latte Factor, yang dijelaskan di sini. Hohoho… Baru tahu, hal semacam ini pun sudah terformulasikan. Padahal ya ini hal umum. Tapi, berhubung ada huruf R dibunderin di tulisan Latte Factor-nya, ya gitu deh.  Sama seperti fomulasi dari fakta-fakta atau nasehat lain yang dibukukan atau bahkan diseminarkan. Oke, bukan itu maksudnya.

Jadi, si Latte Factor ini adalah pengeluaran kecil yang dianggap remeh yang biasa dikeluarkan sehari-hari, tapi kalau dihitung di atas kertas, bisa bikin kita lebih kaya lho. Kalau ndak percaya, silahkan bagi yang suka beli camilan, tahan selama sekian hari, pekan, bulan, atau bahkan tahun. Dan dana yang tadinya ingin dibelanjakan untuk hal-hal tadi, disimpan di celengan ayam. Coba hitung sendiri. Kalau males ngitung, bisa disimulasikan di situs ini.

Latte
Latte

Well, saya kepikiran sesuatu yang lain. Bagaimana kalau kita balik si Latte Factor ini. Maksudnya, kita melakukan hal-hal sepele yang dirasa remeh, tapi bakal berefek besar jika dilakukan sekian kali. Contoh-contoh konkritnya :

  1. Tiga hari sekali menulis satu halaman Tugas Akhir atau Skripsi, atau 1/3 halaman per hari. Niscaya, dalam sebulan sudah 10 halaman. Dan dalam satu semester sudah 60 halaman. Harusnya, sudah cukup untuk lulus.
  2. Setiap habis Sholat wajib baca 1 ayat Al Quran. Niscaya, sehari 5 ayat. Seminggu 35 ayat. Sebulan 150 ayat. Setahun 1800 ayat. Jika khatam perlu 6666 ayat, maka dalam 4 tahun sudah khatam. Atau, biar tidak terlalu sedikit, coba setiap Sholat membaca 5 ayat. Nampaknya setahun sudah khatam.
  3. Sehari sekali baca satu paper buat TA. Niscaya, faham sudah topik TA kita.
  4. Seminggu sekali nulis 1 postingan blog. Setahun sudah 52 postingan
  5. Sehari ngoding 100 line. Setahun sudah 36.525 line.
  6. Sehari ngerjain 50 soal, niscaya 3 minggu sudah habis bank soal berjudul “Kumpulan 1001  soal Fisika” –> persiapan saya UN SMA.
  7. Ah sudah tujuh, apalagi ya…

Jadi, hal-hal kecil di atas sungguh bisa membantu kita. Tentu dengan catatan, dilakukan secar kontinu, dan konsisten. Ada yang menyebutnya istiqomah (seperti nama kakak saya, he). Seringkali, kita hanya mampu melakukan hal-hal kecil tersebut dalam waktu satu minggu pertama. Selanjutnya, bablas. Padahal, konon, jika kita belum bisa melakukan sesuatu hal minimal 3 minggu, artinya belum jadi kebiasaan. Susah memang. Hidup ini lari marathon, bukan sekedar lari sprint.

Apalagi, ketika kebiasaan-kebiasaan tersebut mulai susah untuk dilakukan. Wuh, nabrak tembok artinya itu. Yang saya tahu, di sinilah kita butuh yang namanya ketekunan. Tetapi, seperti kebiasaan baik lainnya, tekun itu tidak mudah. Termasuk saya sendiri. Ada-ada saja excuse yang muncul atau distraksi yang tiba-tiba ada. Semua kembali ke diri masing-masing.

Pernah merasa tiba-tiba tertarik pelajaran sejarah, padahal pas SMA tidak pernah menyukainya bahkan selalu menyumpah-serapahi si sejarah ini ? Nah, nampaknya itu sudah nabrak tembok. Pengen melakukan hal-hal yang kita bisa-i saja. Padahal, sama sekali tidak jago di sejarah itu. Hahaha… *menertawakan diri sendiri ketika tiba-tiba kangen kimia, padahal nyetarain reaksi redoks aja ndak pernah lancar.

Jadi intinya adalah istiqomah itu tadi. Sesusah apapun tantangannya, harus dilibas. Tembok yang muncul itu sebenarnya pembeda antara orang yang pengen mencapai suatu tujuan dan orang yang SANGAT INGIN mencapai tujuan. Kalau sudah memilih jalur itu, ya bagusnya dijalani. Selesaikan apa yang kita mulai.

Hmm, mendadak ngomongin kayak gini. Sekadar mengingatkan diri sendiri sih. Lagi nabrak tembok. Semoga lekas bisa ngelibas tembok ini.

Tambahan lagi lah. Tadi saya baru baca slide berjudul Deep C. Sungguh menarik. C dan C++ itu memang tidak sedangkal Selokan Mataram. Mungkin sedalam palung di Filipina. Anyway, slide ini juga menyadarkan saya kalau sesuatu yang saya ingin tahu itu jauh lebih besar dari apa yang saya tahu sekarang, atau bahkan lebih besar dari apa yang saya sanggup bayangkan.

Dulu, saya mengira saya ini sangat ngerti kombinatorik. Eh, ternyata, setelah kenal om Richard P. Stanley, saya ini ndak ngerti apa-apa tentang kombinatorik. Boro-boro ngerti, tahu aja tidak. Menurut saya, Wikipedia hanya membuat kita tahu bahwa suatu benda itu ada, bukan membuat kita ahli di sana. Imho lho.

Mumpung semangat untuk belajar lagi tinggi, saya ingin belajar lebih lagi. Semoga tetap tekun. Dalam kebaikan tentunya.

Memulai itu lebih gampang dari pada mengakhiri. Tapi, memulai juga lebih susah dari sekadar niat. Semoga tidak #fafifu.

Sudah banyak pembiasaan diri yang gagal saya lakukan. Auuu…

PS : Untuk mengingatkan diri sendiri. He… Double post in a day.

NB : Itu foto kopi instan bikinan saya sendiri. Pengen punya mesin pembuat kopi kayak di film Green Hornet.

Iklan

6 comments

  1. Hmm… Susahnya itu terlalu banyak tugas di IF kak.. Kalo dikit sih mungkin bisa konsen 😀
    Btw itu slide Depp-C-nya ngeri banget.. baru tau semuanya o_O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s