Wawancara Kerja dan Loyalitas

Akhir Desember tahun lalu, ada berita mengejutkan, kasir di asrama saya akan pindah kerja. Pemberitahuannya pun hanya 2 hari sebelum pindah kerja. Bad dum tss… It’s not a good news. Kasir di asrama saya tidak seperti kasir yang hanya menerima pembayaran, tapi memiliki job desc membuat laporan keuangan dan melakukan pembayaran juga.

Dua tahun yang lalu, kasir kami juga pindah kerja. Bahkan, pindah tanpa ngomong. Akibatnya, departemen keuangan, termasuk saya, harus meng-handle selama masa kasir kosong. Belum lagi, mencari kasir baru, dan adaptasi dengan sistem di asrama. Adaptasi ini juga ribet. Terbukti, setelah 2 tahun ini saya nemu flaw akibat pergantian kasir. Untung sudah beres.

Berkaca dari hal itu, pencarian kasir ini menjadi hal yang tidak mudah. Yang jelas, perlu kasir yang memiliki kapabilitas sebagai kasir, dapat dipercaya karena akan memegang uang, dan tentu saja kalau bisa loyal. Saya menghargai kasir lama kami yang tidak tiba-tiba ngilang karena pindah kerja, sehingga masih sempat melakukan beberapa tugas sebelum pindah.

Dalam pencarian kasir ini, saya dapat jatah membuat pertanyaan wawancara, sedangkan yang wawancara sendiri dari anggota MPA dan mantan menteri keuangan. Bingung juga ketika ingin membuat daftar pertanyaan. Sudah gugling juga. Mumet. Akhirnya, saya nge-refer ke pertanyaan MPA tahun lalu ketika mencari karyawan keamanan dan pengalaman saya ketika diwawancara. Padahal, baru sekali lho saya terwawancara.

Yang bingung adalah ketika ingin menanyakan tentang loyalitas. Bingung dapat informasi loyalitas dari mana. Paling pol hanya dari pertanyaan, “kenapa keluar dari tempat kerja yang dulu?“. Selain itu banyak pertanyaan yang cukup klise, menurut saya. Misal, “apa arti loyalitas bagi Anda?. My bad… Sialnya, banyak pertanyaan yang kelewat, misal tentang kesehatan.

Saat wawancara, saya paling gak enak ketika mewawancarai wanita yang lebih tua. Soalnya, kebetulan dari 3 sesi yang saya ikuti, 2 diantaranya wanita 30 tahun dan sudah berkeluarga. Tentu motivasi mereka berbeda dengan yang fresh graduate. Apalagi ketika sudah masuk ke pertanyaan mengenai tanggungan keluarga. Duh. Saya mending diam, dan meminta teman saya yang nanyain.

Ada lagi yang berkesan. Ketika ditanya pengalaman kerja. Ada pelamar yang bercerita pernah dibayar 17.500 per hari dengan jam kerja pagi hingga malam. Perempuan pula. Pernah dimarah-marahi pula. Duh. Bahkan minta naik gaji sebesar 500 perak saja seperti tawar menawar di pasar. Wew. Tapi, ketika ibu ini pindah kerja dan mendapat gaji yang jauh lebih kecil, sekitar 500rb malah betah karena nyaman. Wow. Sayang, kurang dalam kapabilitas sebagai kasir.

Ada juga pelamar yang minta digaji tinggi. 1.5 kali UMR plus tunjangan, uang transpor, dan uang makan. What?. Untung saja tidak kelihatan memenuhi kriteria kasir kami.

Ada lagi, pelamar yang menjawab gaji yang diinginkan sebesar UMR. Eh, ketika ditanya, berapa nilai UMR sekarang, tidak tahu. Duh, kalau HRDnya jahat, kasihan ini. Sementara, kalau saya sendiri ditanya ingin gaji berapa, masih cuma bisa senyum. Takut meminta terlalu sedikit.

Yang jelas, sistem kerja di asrama saya sesuai undang-undang no 13 tahun 2003. *Saya sedang membacanya untuk menghitung uang pesangon bagi karyawan yang mengundurkan diri gara-gara sakit.

Kembali ke loyalitas. Jadi, apasih parameter yang pas untuk loyalitas yang bisa dicek ketika wawancara kerja?

Berkaca ke diri saya. Loyalitas yang mungkin kelihatan adalah menjadi pendukung Inter Milan, baik di kala menang maupun kalah. He…

Ah, masih ada beberapa pelamar lagi yang perlu diwawancara. Sayang, yang mewawancara adalah mahasiswa. Susah nemu jadwal.

PS : semoga dapat kasir yang sesuai dengan harapan. Plus bonus, perempuan. Soalnya, saya cenderung percaya perempuan untuk menjadi kasir. Entah kenapa.

NB : Duh, kenapa Inter Milan terpuruk lagi. Duh, TA belum ada progres. Duh, kerjaan gak beres-beres.  Duh, gak nafsu makan. Duh, terlalu banyak mengeluh. He…

Iklan

3 comments

  1. Kalau soal wawancara kerja sih… Pernah ada penelitiannya, kalau wawancara itu gak efektif; dalam 3/5 detik pertama, interviewer sudah bisa memutuskan kalo calon karyawan ini diterima atau nggak (hasilnya gak ada beda, mau interview cuma 5 detik atau 50 menit). jadi kayaknya memang bisa ditentukan hanya dengan feeling/first impression. haha =)

    • sebenarnya, aku juga ngrasa gitu van… udah keliatan bakal diterima atau enggak. tapi, ya masak iya mempercayai 3-5 detik pertama padahal baru sekali ini jadi pewawancara.. emang sih, setelah selesai wawancara, penilaian ku pribadi gak berubah. Tapi ya itu, untuk meyakinkan diri saja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s