Sembuh Tanpa ke Klinik

Saya sudah lama tidak pergi ke dokter atau klinik untuk berobat. Padahal, dulu nampaknya cukup sering, walaupun cuman demam dan pilek. Tapi, lama kelamaan, saya rada naik level, jadi bisa sembuh tanpa per ke klinik apalagi minum obat.

Tiga hari terakhir, setiap pagi badan demam plus ada gejala hidung mampet. Kepikirannya, ini kok cuman pas pagi saja? Entahlah. Padahal besok, mau ikut lari Jakarta International 10K. Semoga baik-baik saja.

Ini masih terhitung pagi, badan masih demam, terbukti tadi badminton kalah. *alasan. Belum bisa mikir dengan bener. Akhirnya, kepikiran buat menulis hal-hal yang bisa dilakukan ketika sakit agar tidak perlu ke klinik atau RS.

  1. Berfikir positif, jangan stres
    Pernah suatu kali, saya ke BMG (kliniknya mahasiswa ITB), diberi fakta unik : kalau lagi musim ujian, banyak anak ITB sakit. Pfffttt… Kepikiran saya, mungkin stres kali ya. Atau, mungkin pikiran bawah sadarnya memang ingin sakit, sehingga kalau ujiannya jelek, ada alasan : “Duh, kemarin sakit” .
    Kalau menurut saya, itu salah. Sakit itu sangat tidak menyenangkan. Apapun alasannya. Mending gak sakit dan dapet nilai bagus, daripada sudah sakit, ujian ancur pula. Itu kalau dalam kasus ujian. Kasus lain, daripada sakit, mending sehat dan masuk kerja. Kerjaan beres. Kalau sakit, kerjaan numpuk.
    Yah, kurang lebih seperti itu. Ini tembok pertama saya. Biasanya, berhasil.
  2. Istirahat, Tidur, ganti baju
    Ini penting. Sekaligus jadi ajang bermalas-malasan yang diperbolehkan. Ahaha… Tapi memang benar kok. Kalau lagi aras-arasen istirahat diperbanyak. Jangan begadang. Bahkan kalau bisa siang tidur juga. Ketika tidur, krukupi atau tutupi badan dengan selimut sambil menggunakan jaket. Biar hangat, dan pas bangun jadi keringetan. Rasanya sih segar.
    Nah, kalau bisa, sering-seringlah ganti baju. Kalau biasanya 3-7 hari sekali baru ganti, usahakan sehari sekali. Biar kuman, virus yang nempel di baju gak balik lagi. Selimut juga.
    Kebersihan kamar dijaga. Buang semua benda yang berpotensi jadi sarang penyakit. Bungkus makanan, gelas bekas kopi, sendok kotor, atau hasil ujian berdebu dibuang saja. Kamar boleh berantakan. Yang penting bersih.
  3. Perbanyak minum air putih
    Entahlah, ini yang biasa ibu saya ingatkan ketika beliau menelpon. Hampir pasti mengingatkan saya agar tidak kurang minum. Dan, memang ampuh kok. Biasanya, minum air putih hangat sehari sampai beberapa gelas. Enak di badan. Dan jadi sering BAK (pipis).
    Kok bisa? Sok tahu saya : kan kalau sakit itu ada zat aneh di dalam tubuh. Artinya, kalau zat cairnya diperbanyak, si zat aneh tadi larut. Dan sering dibuang. Makanya, jadi lekas sembuh. Ini sok tahu saya.
  4. Makan enak, minum enak
    Perbanyak makan dan minum yang bergizi. Yang enak dan rada mahal juga gak papa. Mending duit dipake buat makan enak daripada buat obat yang pahit. Ya kan? Kalau kata temen sih, buah dan sayur juga. Apel, jeruk, tomat. Sayang saya gak suka tomat. Jeruk sudah mulai gak suka. Apel, hmm, males beli. Biasanya, saya beli jus alpukat. Enak sih.
    Tambahan, kalau lagi pengen makan apa, kayak ngidam gitu, turuti saja. Atas nama kesembuhan lah. Ahaha… Masak makan enak cuman pas traktiran doang… Pffftt…
    Terakhir, saya suka minum Orange Water atau vitamin C yang 1000mg itu. Entahlah, kayaknya ngaruh. Lha wong yang iklan Miss Universe.
  5. Olahraga
    Ini juga masih secara empiris. Entah kenapa, kadang-kadang, kalau 2-3 hari demam, dipakai futsal, jadi jreng. Apalagi kalau keringatnya keluar banyak. Habis itu, mandi, tidur. Fiuhh… Bangun-bangun, biasanya jreng lah.
    Tapi ya jangan olahraga yang ekstrim, misal panjat tebing, mendaki gunung, atau debus. Kalau gak ahli, jangan lah.
  6. Bahagiakan hati
    Ini super empiris. Bahagiakan hati. Dengan yang disukai. Pernah, lagi demam, eh Inter menang derby, sembuh tiba-tiba. Fufufu. Atau, tonton film komedi, nonton pemula tanding karambol, atau apapun lah. Pokoknya yang membahagiakan hati.
    Makanya, kalau menjenguk teman sakit itu hibur. Cara menghiburnya terserah. Asal jangan motong selang infus.
    Tambahan lain, jangan gugling tentang penyakit atau gejala. Biasanya, malah takut. Ujung-ujungnya, kanker, penyakit jantung, atau mati. Serem kan? Lebih baik nanya ke teman yang biasanya ngerti beginian. Bisa ke teman yang sudah jadi dokter, yang sedang kuliah kedokteran, ahli gizi. Tapi jangan nanya ke anak IF, ntar jawabnya : “instal ulang aja”, “lembiru, lempar beli baru wae Sun”, “coba ketik ulang kodenya”, atau “udah nyoba gugling?”
  7. Hmm… Sudah tujuh. Lain kali tambahin. Atau ada yang mau nambahin?

Well, itu yang pernah saya lakukan. Dan beberapa sedang saya lakukan sekarang. Semoga segera sembuh. Besok musti lari 10 kilo, rabu musti nonton di GBK, dan tentu saja, Tugas Akhir.

PS : Ini bukan tulisan untuk men-tidak-laku-laris-kan klinik, rumah sakit, atau sejenisnya. 🙂

PPS : Hanya berlaku pada gejala-gejala tertentu. Penyakit mistis, sakit hati, dan penyakit yang rada berat nampaknya kurang ngefek. Resiko ditanggung sendiri ya…

NB : baru diajari, ternyata kalau demam itu tanda tubuh sedang berjuang melawan penyakit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s