Seninya Mudik dan Idul Fitri

“Seninya mudik” adalah kalimat paling menghibur setelah saya membeli 8 tiket kereta untuk mudik. Empat diantaranya saya cancel. Tekor 25% * 4 tiket. Pada awalnya semua lancar. Hanya butuh dua tiket PP. Namun, semua berubah setelah saya masuk kerja di Jakarta. Jadwal libur pun menyesuaikan kalender kantor, yang hanya libur pas tanggal merah. Ah, sudahlah. Saya sudah di rumah sekarang.
Sempet mutung sih. Tapi, cerita punya cerita saya masih cukup beruntung dengan libur di tanggal merah ini. Ada beberapa tema yang terpaksa tidak ngumpul bersama keluarga di hari Idul Fitri. Ada teman yang terpaksa masuk kerja dan baru pulang H+2. Saya sendiri baru balik hari Jumat sore. Hari Jumat subuhnya, ketika mau sahur, tak ada warung yang buka. My first experience. Kepaksa sahur roti dan Kusuka. Kalau di asrama masih bisa masak mie atau lainnya. Lha kalo di kost, wew.
Dari Jakarta saya naik kereta ke Solo. Kepaksa. Tiket Jkt-Jog habis. Dari Solo ke Jogja naik kereta. Niat hati pengen Pramex atau Railbus. Eh, kesuwen. Madiun Jaya akhirnya. Sampai rumah tepar.
Lain cerita dengan teman saya yang lain, sampai hari pertama masih di rumah. Hari ke dua lebaran harus keluar kota untuk lanjut koas. Masih mending saya ternyata. Masih bisa minta nambah sehari.
Belum lagi yang kuliah atau kerja di luar negeri. Walaupun kalau menurut saya itu masih lumayan lah. Terlalu jauh. Bisa Skypean atau lainnya. Tapi tetep saja, kalau saya ndak kuat. Minimal untuk sekarang.
Saya sudah merantau 7 tahun, dengan 8 Idul Fitri. Alhamdulillah semua Idul Fitri masih bisa pulang. Walau makin lama makin sebentar. Bahkan, untuk Idul Adha sudah sejak kelas 3 SMA saya tidak pulang. Kalau diregresi, pasti ada suatu waktu dimana saya kepaksa tidak mudik. *tahun lalu saya sempat berharap tidak mudik dengan alasan yang luar biasa, misal lagi ke luar negeri atau ada urusan yang vital (save the world may be). Untunglah tidak kejadian.
Tapi mungkin 1-2 tahun lagi waktu itu akan datang. Ah, entahlah. Mudik itu menyenangkan. Ahaha…
Buat teman-teman yang ter-#nomention di atas, saya bingung mau ngomong apa. Tapi niat dan empati saya sampai kan ya?

Ngomog-ngomong soal Idul Fitri, volume sms lebaran yang masuk menurun drastis. Efek internet kali ya, macam Twitter, Whassap, atau Facebook. Bahkan sms masuk malah entah dari siapa. Ndak pernah kenal kayaknya. Ya sudahlah ya. Saya selalu kepikiran kalau sms lebaran itu formalitas saja. Buat yang beneran musuhan. Ahaha. Kalau sama temen atau saudara dekat, sudah otomatis.
Tapi ya ndak apa-apa ding. Berguna buat sungkem jarak jauh ke yang lebih tua atau yang dihormati. Atau buat yang kita pernah merasa salah tapi yang disalahi tidak sadar. Plus, sebagai conversation starter bagi yang bingung mau ngomong tapi gak tahu mau ngomong apa. Semacam saya ini. Muahahaha… Gak ding. Buat nyambung silaturahmi juga. Tapi jaman sekarang ndak selalu via sms crut. Telepati juga bisa.
Last, saya mau mohon maaf lahir batin yak. Semoga amal ibadah pas Ramadhan diterima. Dan bisa ketemu Ramadhan selanjutnya.
Kalau mencapai level taqwa, sebagian besar pasti belum. Cek saja jamaah solat subuh pas 1 Syawal.

PS: ah, nampaknya isu bakal ditanyain kapan lulus, kapan kerja, kapan nikah itu gak berlaku bagi semua orang. Saya cuman ditanya orang tua saya. Dan bahkan masih di kasih angpau. Dikira masih anak SMA kali ya?

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s