Parakan – Jogja

Sebelumnya, saya mau bersyukur atas semua hal yang terjadi di tulisan ini. Ahaha… Alhamdulillah.

Jadi tanggal 25 Agustus kemarin, saudara sepertanggal-lahiran saya, Rudi Adha melangsungkan pernikahannya. Tentu saya pengen datang dong. Rencana awal, Jumat malam berangkat dari Stasiun Senen, Sabtu pagi sampai Jogja, langsung capcus ke Parakan, Minggu pagi balik ke Jakarta naik kereta lagi.

Tapi, semua berubah. Kantor menawari saya untuk nemenin Tim (orang Afrika Selatan) yang mau ngisi training di Teknik Geodesi UGM, Senin-Rabu. Wow. Tanpa pikir panjang, ya saya terima. Jadi, saya tidak perlu balik terburu-buru, bahkan bisa nyantai di Jogja, plus balik mesawat. Alhamdulillah sekali. Rencana berubah.

24 Agustus

Jumat sore, saya masih utang satu bug, tapi disuruh pulang, tahu kalau mau ngejar kereta. Dan, selamat sampai kereta. Rencana awal, di Jogja mau ketemu Zul Nganjuk, berangkat bareng naik bis. Tapi, ada berita duka, akhirnya Zul gak jadi datang. Lalu ngajak Mona, ada motor pula. Eh, ada Syawalan. Dan, broadcast message, akhirnya ada yang bisa, si Lina. Motor ada. SIM gak ada. Ya wis lah. Nekat lah ya.

25 Agustus

Sampai di Stasiun Tugu, saya dijemput saudara saya. Mau numpang mandi sekalian. Kost Lina, kost perempuan, jadi saya gak enak kalau numpang mandi. Setelah mandi bersih, muncul masalah, si Lina ditelpon gak ngangkat-ngangkat. Mana kostnya gak tahu dimana. Akhirnya, nanya Rima dan Aning. Dan, jebulnya, sangat cedhak dengan rumah saudara saya.

Well, saya yang boncengin. Tak tahu arah. Baru kali ini pula naik motor ke luar kota, mesakke. Tapi, Alhamdulillah, bisa nyampai Temanggung dengan nyaman. Tidak ada nyasar yang berarti. Nah, ke Parakannya ini yang susah. Hendra sudah di tempat Rudi, Satria dan Uli ada di rumah Desi. Udah naik motor lama kok gak sampai-sampai. Akhirnya, kita pergunakan pilihan bantuan, phone a friend. Oke bukan friend, tapi anak buah, sebut saja Febi. Setelah saling mencari, akhirnya bertemu. Ditunjukan arah ke rumah Rudi. Tapi, setelah mikir-mikir, mending ke tempat Desi dulu saja. Biar nanti bareng-bareng. Lha ini cuman ada Hendra di sana yang dikenal. Sorry crut.

Rumah Desi juga lebih jauh lagi. Di daerah Petarangan, yang katanya anak Gunung Sumbing dan Sindoro. Setelah sedikit istirahat, tak lama kemudian Hendra turut ngungsi dan Rima datang dari Purworejo. Lalu makan siang, dan saya tidur. Capek, serius. Rencana habis Ashar mau ke tempat Bu Yan sekalian ke Rudi. Bangun-bangun, sudah ada Toni di rumah Desi.

Well, ada yang menarik. Adzan Ashar di daerah sana tidak kompak. Bahkan ada yang jam 4 atau 5 baru adzan. Katanya, gara-gara kalau kecepetan jamaahnya masih di sawah. wew. Dan habis Ashar itu pun berarti jam 16.30, yang lebih lanjut, baru berangkat jam 17.15. -___-, Pas sampai di Bu Yan, Pak Haris (kepala sekolah SMA saya) terlanjur pergi. Ya sudah, salah Toni.

Di Bu Yan ngapain? Well, susah diceritakan. Ahaha. Ada geng Parakan (Febi, Iwan, Husein, Amek) dan mas Nanang juga. As usual, mas Nanang selalu menang kalau masalah ngumbahi orang. Dan sasaran kali ini adalah Satria. It’s fun tapi. Saya sampai ketawa lompat-lompat lho. Entahlah, terlalu bahagia atau terlalu lama tidak merasakan atmosfer semacam itu.

Lalu kita bareng-bareng ke Rudi, ada Ita juga yang datang belakangan. Ya Allah, perlu di-ommit saja bagian ini kayaknya. Susah di-retell. Bahkan foto saja gak ada -___-. Oh iya, nama istrinya Fitri Sari. Habis itu kita pulang ke rumah Desi, kecuali Rima yang nginep di rumah Uli.

Oke, katanya Petarangan dingin. Paginya, biasa-biasa saja tuh. Dan, yang bagus adalah pemandangannya. Gunung Sumbing dan Sindoro itu lho. Apalagi pas ada awan yang nutupin. Ayu tenan. [Kudunya upload fotonya, tapi kok internet tidak bersahabat]

26 Agustus

Hendra balik pagi. Sisanya mau jalan-jalan ke tempat yang saya sudah lupa namanya. Pokoknya ada semacam waduk (atau kolam) terus bagus lah. Sama satu lagi yang lebih tinggi. Terus bisa liat gunung-gunung. Sip lah. Tapi ke gunung pakai kostum kondangan is not so cool. [Sekali lagi salahkan modem, provider, dan sinyal atas tidak ada gambarnya]. Sempet kehabisan bensin juga pas lagi nanjak. Pret tenan. Tapi emang bagus kok. Kayak di gambar anak-anak TK atau SD itu lho. Dua buah gunung yang disangga satu buah jalan.

Tak terasa siang juga. Balik ke rumah Desi, dan mandi. Akhirnya mandi sejak Sabtu pagi. Tidak ada lagi alasan tidak bawa handuk. Habis solat, makan kita bubaran. Satria langsung bablas ke Surabaya. Rima ngebis ke Purworejo. Sedangkan saya mampir dulu ke rumah Uli. Mumpung di Temanggung lah ya. Numpang Ashar sekalian. Habis itu, langsung balik. Untung boncengan. Jujur ngantuk dan tidak tahu jalan. Kalau ada yang dibonceng, ngantuknya kalah sama resiko. Dan, baru belokan pertama dari rumah Uli saja udah salah.

Dan, akhirnya sampai Jogja. Minta dianterin Lina ke UC (University Club). Sampai di UC. Eh, belum di-booking-kan. Masak iya bayar sendiri? Paling murah aja 450rb. Beuh. Tapi, ambil resiko saja. My first experience check in hotel for myself. Malamnya, ketemuan plus makan malam bareng Diqit dan Amek. Malamnya, ketemu Tim, briefing singkat. Terus tidur. Eh, nonton bola ding. *Ini kenapa semua stasiun tivi ada bolanya.

27 Agustus

Senin pagi, Ms. Kitty datang. Yes, semua clear. Dibayarin. Ahaha. Jam 9 training dimulai. Pesertanya mahasiswa Teknik Geodesi dan 1-2 dosen. Anggap saja saya sebagai asisten PTI A, tapi Pascal diganti Python. Semua lancar. Kecuali kopi yang saya minum. Bikin eneg perut, gak nafsu makan, plus badan lemes. Tak lupa, hasrat ingin ke belakang meninggi. Pukul 16.00, training selesai. Balik ke UC.

Janjian sama si Arief, tapi cuman sampai Maghrib. Soalnya mau dinner (halah, dinner) bareng Tim dan Ms. Kitty. Biar gak jauh-jauh, cuman beli gorengan. Bareng Redha dan pacarnya. *lupa nama. Susah nyari gorengan di jaman sekarang. Ketemunya di pojokan Teknik UNY. Makan Cireng. Fyi, saya selama di Bandung, asal makanan Cireng ini, belum pernah sekalipun makan. Malah makan di Jogja. Maghrib pulang, MANDI AIR PANAS, terus keluar makan. Ngobrol lama, walau saya cuman pendengar pasif. Aksennya susah, *alibi. Sampai di UC, musti bantuin Tim benerin situs yang down gara-gara salah ketik satu karakter. Wew. Terus saya malah ngenet. Sampai malam.

28 Agustus

Selasa berjalan seperti biasa. Training lancar. Dan, kebetulan TKW dari Perancis, si Aish lagi pulang. Saya sempatkan ketemu di TF. Dikasih coklat, yang langsung leleh. Ini Jogja kok jadi panas tho. Sorenya, si Arief sama temennya Husna (saya ingetnya Munak, ahaha) numpang mandi di kamar. Air panas. Oke, ini mahasiswa sekali. Tapi ya wis lah ya. Malamnya, makan bareng pak Trias (dosen UGM). Habis itu pulang. Tidak semalam sebelumnya. Nyari temen buat dolan, nampaknya pada sibuk ditraktir sama teman yang lagi wisuda. Yak, Selasa itu wisudaan UGM.

Rabu pagi, saya putuskan untuk mlaku-mlaku. Muter GSP. Liat wisudaan. Well, kalau wisudaan, kayaknya ITB jauh lebih meriah. Bandingkan saja via foto di Fesbuk. Padahal cuman muter GSP, kok ya nyasar.

29 Agustus

Training hari terakhir juga lancar. Dan, yang paling saya suka. Saya ngasisten pakai Bahasa Jawa. “Ngene lho mbak“, “Nah, kuwi diklik“, “Iki endi sing dicopi mas?“, dan sejenisnya lah. Membahagiakan sanubari dan telinga. *lebay sih, tapi hooh kok.

Sorenya, saya sama Ms. Kitty pergi ke Jakarta, mesawat. Sampai Cengkareng naik taksi, SB, IDR 250k sampai kostan saya. Wow. Baru kali ini lah naik taksi sampai level itu. Eman-eman sih walau dibayari.

Dan saya pun terkapar. Baru sadar, saya belum beristirahat dengan berkualitas sejak berangkat dari Jakarta. Sekian. Semoga ketemu lagi teman-temanku. Old friends, old jokes. Ahaha.

Hikmah : Banyak sekali kebetulan yang terjadi sehingga sampai kejadian hal-hal di atas. Intinya, #bersyukur.

NB : panjang dan ngebosenin? Ahaha. Sudah lebih dari 1100 kata. Prettt… Saya terlalu semangat kali ya. Seperti orang yang sudah lama tidak ketemu manusia. Dan, “hey, kalian manusia ya?”

PS : foto-fotonya nyusul atau liat di fb saja. Internetnya lagi ndak mendukung.

Disclaimer : Jelas ndak semua peristiwa atau perasaan tertuliskan. Ada bagian yang dihilangkan tentunya. Ditulis di tempat lain, atau cukup dikenang karena susah di-retell.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s