Dorm Sweet Dorm

Jadi tho, saya sudah sebulan lebih sedikit ini tidak lagi tinggal di asrama. Sekarang saya ngekost di Jakarta (sekalian pengumuman bagi yang belum tahu, jadi ndak perlu stalking). Beda rasanya, *you don’t say. Jadinya, saya pengen nulis tentang asrama. Mumpung internet lagi lancar jaya dan kepala masih tergiang-ngiang bahwa saya ini Prince of Asgard.

Saya mulai tinggal di asrama ketika masuk SMA Semesta. Beberapa hari sebelumnya, ndak pernah kepikiran buat tinggal di asrama. Lha wong selama lahir sampai lulus SMP saya cuman muter-muter sekitar rumah saja. Anak baik memang. Dan masuk Semesta pun tidak terlalu terencana. Itu cerita lain lagi sih. Ahaha.

Dulu, pas kelas satu SMA, saya sekamar ber-12 orang. Laki-laki semua. Dengan ranjang tingkat. *baru kali pertama lihat. Sekamar bareng anak kelas XI SMA. Kemudian dipindah ke lantai 1, bareng anak SMP kelas 7 dan beberapa anak SMA kelas X. Sempat memenangkan penghargaan sebagai kamar terbersih. Semua berkat saya tentunya. Kalau saya tidak rapi, pasti gak jadi menang.

Pernah juga menjadi wakil ketu kamar bareng Arief yang isinya anak kelas X (ketika saya kelas XI). Beuh. Ampun banguninnya. Nakal pasti lah ya. Tapi, salut, tetep hormat. Walaupun saya kalau dikeroyok pasti babak belur. One on one  bahkan juga KO. Tapi, mungkin kharisma saya kali ya. Ahaha.

Lanjut, pernah juga jadi ketua kamar yang isinya anak kelas 8 SMP. Ini lebih lontong. Lebih susah banguninnya. Sempat saya semprot pakai air. Jengkel. Dan saya pun musti bangun lebih subuh. Malu lah ya.

Pernah juga dipindah ke kamar anak kelas XII SMA. Hurray…. Gak perlu beresin tempat tidur pas pagi, ndak perlu rajin-rajin, bebas lah. Sesuai sama habitat. Ahaha. Dan, jelas jadi tahu beberapa kisah dari penghuni paling lama di asrama. Interesting lah.

Lalu, pas saya kelas XII SMA, dipindah ke gedung sebelah. Paling enak lah. Ada TV, mushola, dapur, kamar mandi, dan segalanya seperti di gedung semula namun dengan populasi yang lebih sedikit. Dan sekamar hanya 6 orang. Menyenangkan lah. Pagi-pagi ambil handuk, terus taruh melingkar di leher, dan bam waktu berlalu begitu cepatnya, sudah siang dan belum mandi. Pas ini, saya juga sempat dua kali jadi juara kamar terbersih. Jago ya. Semua berkat siapa? Berkat Prince of Asgard tentunya.

Pas kuliah, mungkin memang jatah kali ya, saya masuk Asrama Bumi Ganesha. Memang cocok kali ya sama saya ini. Bebas bertanggung jawab. Kekeluargaan mantep. Racist is ok. Pinjem duit, alat mandi, sepatu, internet, dan segalanya. Makanan adalah magnet luar biasa. Pokoknya, saya ndak menyesal lah.

Mari kita bandingkan dengan kostan yang sekarang. I can’t sing as loud, as bad as I can here. Jadi, kemarin pas saya main ke Bandung, saya sempatkan setel musik, pake speaker dan HUAHUAUA.

Hal lain, kalau lagi sakit itu kerasa. Di kost itu sendirian. Kalau di Semesta, ada yang ngambilin makanan dari dapur, atau dibilangin ke pembina buat dianterin ke dokter asrama, plus diijinin gak masuk kelas. Kalau pas kuliah, beuh. Sakit, ada temen asrama dateng, liat makanan, dimakan, habis, pergi lagi. Ampas. Oke, saya juga melakukannya kok. Pura-pura ngliatin, dan sambil ngemil. Ahaha. Tapi, kadang kala, tanpa diduga ada yang beliin makanan segala. Atau nganterin ke dokter. Malam-malam pula. Duit nanti, bisa diangsur (ahaha, gak ding). Yah, manusia memang aneh.

Tapi, setelah saya pikir-pikir, bukan kost vs asrama, tapi lebih ke penghuninya. Kalau penghuni kostnya terbuka dan baik-baik, santai-santai aja gak ngunci kamar. Fyi, saya ndak pernah ngunci lemari atau kamar sejak saya masuk asrama kecuali pas lagi pergi ke luar kota. Saking percayanya, atau saking malesnya ngunci, atau takut kehilangan kunci. Ahaha. Atau, tiba-tiba masuk kamar orang, numpang main, sambil curhat-curhatan atau hina-hinaan.

Ya kurang lebih seperti itulah. Kembali ke penghuninya. Saya juga malah gak suka asrama tapi orangnya gak pernah keliatan. Satu hal lagi, kalau di asrama yang bener, kita udah gak tinggal pun masih bisa masuk, dan disebut alumni. Ahaha. Coba kalau kostan, rada susah.

Lebih lanjut, gak cuman asrama sih, pelatihan yang sampai nginep itu juga menyenangkan. Bisa saling tahu busuk-busuknya masing-masing. Ahahaha. Ah, ketemu teman itu menyenangkan lah.

Dan, makin gak nyambung dari judul. Efek sakit Prince of Asgard nampaknya.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s