The Terminal

The Terminal merupakan salah satu film yang berkesan di kehidupan saya, halah. Saya nonton film ini ketika SMA. Kebetulan, dulu kelas Bahasa Inggris, yang diampu oleh Ms. Gul, sering mengadakan nonton film bareng. Walau kadang/sering ada kuis. Ah, tidak peduli.

Film ini bercerita tentang seorang Krakhozia yang terjebak di Bandara JFK. Tidak bisa masuk, tidak bisa keluar. Tanpa bisa bicara bahasa Inggris pula. Dan, tentu saja banyak kejadian yang aneh-aneh ketika di Bandara. Dari yang lucu, sedih, mengharukan, sampai romantis (pret).

Film ini menginspirasi (agak lebay sih) saya untuk bisa berbahasa Inggris. Maklum saja, sebelum masuk SMA, saya ini mana pernah ngomong bahasa Inggris. Paling pol, “fine, and you?

Pas SMA, lumayan lah. Berlabel sekolah Internasional pucuk gunung, kepepet pakai bahasa Inggris. Medok jelas. Buah. Yang penting bisa sok-sokan lah.

Pas di kampus. Muahahaha. Bubar jalan. Masuk kelas reading pula.

Nah, kebetulan sekarang saya macul bareng bule. Teringat cerita The Terminal itu, harusnya sih ketularan bisa ngomong Inggris. Tapi, Bahasa Inggris itu susah. Apalagi Inggris-nya Australia. *no offense Jendral.

Ini sudah 2 bulan, niat hati mau ambil IBT atau IELTS. Buat modal daftar S2. Tapi kok, mental jadi kecut. Levelnya baru pendengar pasif. Kalau pengen liat saya tidak banyak omong, datanglah pas jam kerja. Hiks.

Walau sudah memusatkan telinga, tetap saja. Gak nangkep secara keseluruhan apa yang diomongkan. Duh.

Tapi, ketika ketemu bule dengan aksen yang lebih kupingiawi, saya mendengar lebih jelas. Ahaha. Cuman bisa mendengar.

Tambahan lagi, saya sampai sekarang masih gak bisa membedakan mana kalimat sarkasme mana kalimat non-sarkasme. Diksinya itu lho. Bahkan nada bicaranya itu. Duh. Ada lagi ketika saya pengen membedakan mana kalimat pujian atau kalimat menghibur. Argh.

Sebenarnya, ada sih katalis yang saya rasakan bisa mempercepat saya belajar ngomong Inggris ini. Yakni dengan adanya orang berbahasa Indonesia yang bisa diajak gojekan. Biasanya, mulut jadi terbiasa mangap. Jadi, ngomong pun tetep mengalir, walau digebukin #GrammarNazi di sana sini.

Saya juga sempat mencoba ke tempat Ms. Gul dan keluarganya di Tangerang. Selain silaturahmi karena memang sudah lama ndak ketemu, sekalian ngecek bahasa Inggris saya dengan level yang lebih manusiawi. Tapi, tetep aja. Ms. Gul said, “Sunni has forgotten his English

Ah, sudahlah ya. Orang Krakhozia saja bisa, masak saya ndak mampu. Toh, maculnya gak beda jauh sama nubes di kampus.

PS : kapan ya, bisa mimpi pakai bahasa Inggris? Tanda sudah level up.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s