Google vs Guru

Sebelumnya, Guru di sini bukan guru yang mengajar di sekolah, tetapi mengacu kepada seseorang yang sangat berpengalaman dalam suatu hal hingga ke level mendasar. Definisi dari kamus webster.

Kenapa tiba-tiba dibandingkan dengan Google? Jadi, beberapa waktu yang lalu ada obrolan menarik di tempat macul saya. Obrolan antara orang-orang sangar. Saya cuman mendengar secara pasif. Ahaha. Obrolannya pun cukup mendalam. Dan diakhiri dengan kalimat:

Sometimes we need to ask to the Guru. If we google it, you’ll find standard answers

Ya, kurang lebih seperti itulah. Maklum, kuping ini tidak sempurna.

Dipikir-pikir, bener juga. Benar, kita bisa mencari apapun dengan ber-googling-ria. Tapi, untuk beberapa kasus, kita perlu menanyakan ke orang yang benar-benar ahlinya. Yang dalam hal ini, saya sebut sebagai Guru.

Nah, kebetulan ada situs namanya Quora. Sebuah situs yang menarik menurut saya. Kurang lebih seperti Yahoo Answer. Tapi beda 70 dalam skala IQ *menurut salah satu jawaban di Quora. Wkwkwk.

Pas baca-baca situs ini, memang lah, saya masih super lemah. Banyak hal tidak saya tahu. Banyak pertanyaan yang bahkan ndak pernah lewat di kepala saya. Dan, banyak penjawab yang benar-benar jago di bidang itu. Mungkin seperti itulah mendapatkan jawaban dari seorang Guru.

Salah satu artikel yang saya baca, http://norvig.com/21-days.html. Menceritakan tentang belajar itu tidak cukup 3 hari sampai seminggu dan langsung bisa. Butuh waktu yang lama untuk menjadi sangar, dan tentu lebih lama lagi untuk menjadi seorang Guru. *mulai ngelantur.

Lalu, saya jadi teringat jaman jadi motivator pas Sparta (semacam ospek jurusan saya). Ada pertanyaan, seberapa Anda mengenal Tuhan? Dan, di contekannya, idealnya, dalam skala 0-10, jawaban bagus adalah 5-7. Karena, makin tahu kita, kita juga makin tahu apa yang belum kita tahu.

Sama seperti hal lain. Jadi, mungkin kalau kita tiba-tiba mendadak tidak tahu apa-apa, ada kemungkinan sudah makin tahu. *pembenaran.

Lebih lanjut, sangat menyenangkan membaca Quora. Dan, lebih menyenangkan sekali mendengar cerita dari seorang Guru. Misalnya, ketika beberapa waktu yang lalu saya ke museum Wayang di Kota Lama, Jakarta. Mendengar penjelasan wayang dari A sampai Z itu bikin otak muntah-muntah. Gumun. Atau gak punya dosen, guru, atau teman yang benar-benar jago. Kita nanya sesuatu di bidang yang di jago, pasti tahu jawabannya. Dan jawabannya gak trivial.

Misal (lagi) saya punya teman yang hapal semua ibu kota negara-negara di dunia. Walau sekadar ngetes, siapa tahu ada negara yang kelewatan, tetep gumun ketika bisa nyebut ibu kota negara aneh-aneh di Oceania atau di Afrika Tengah sana.

Jadi, mari golek ngelmu. Siapa tahu bisa masuk ke level Guru. Kan seneng tuh, kalau malem-malem, anak kita nanya PR, dan kita bisa jawab. Atau istri pagi-pagi, ngisi TTS, nanya ke kita, dan bisa jawab. Wkwkwkwk.

Moreover, tetaplah googling sebelum nanya. Tapi, untuk beberapa pertanyaan fundamental atau nanya pendapat berbasiskan pengalaman, nanya ke orang itu lebih bisa ada jawabannya. Imho lho. Atau, kadang-kadang, nanya itu buat nyambung silaturahmi.

PS : nampaknya saya sedang tidak cukup waras. Selera humor bergeser.

Iklan

6 comments

    • Ati-ati hus, Quora ki wasting time tenan… tapi menarik, ono ilmune lah

      Iyo ik ra ergonomis. Tapi nek single post, langsung iso komen nang ngisor e kok. Pancen lah, ra tau nyambung karo tulisan e sing dikomen ki -___-

    • Itu juga bagus, tapi cenderung teknikal sih, walau juga yang berupa pertanyaan menarik dan lucu. Kalau dipikir2, Quora mirip stack overflow sih, tapi macem2 domainnya… lumayan buat procrastinator macam aing tong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s