Banyak Angrem, Bukit Menoreh

warning : tulisan ini rada panjang

Akhirnya, saya melakukan acara camping dengan tenda yang pertama kalinya sejak Pramuka di SMP, atau untuk yang ke dua kalinya seumur hidup saya. Cerita bermula dari teman SMA saya kuliah di Farmasi UGM, Uli mengajak saya untuk ikutan camping di Bukit Menoreh. Uli memang lagi seneng kelayapan ke gunung dan sejenisnya. *iyo kan ul? Saat diajak, tanpa pikir panjang, saya hooh-kan saja. Saya memang seneng melakukan hal yang rada tidak rutin, apalagi kalau diajak temen. Sekalian buat ngisi liburan akhir tahun juga. Kebetulan saya libur dari tanggal 22 Desember 2012 hingga 1 Januari 2013.

Setelah dengan ajaibnya mendapatkan tiket ke Jakarta tanggal 1 Januari 2013 sore (pukul 18.59), saya makin hooh untuk ikutan camping. Memang, ngurus tiket perjalanan di kala liburan itu lontong sekali. Selain harganya nekak gulu, nyarinya juga susah.

Nyari perlengkapan ternyata ribet juga. Saya meminjam hampir semua benda. Dan sempat salah pengertian, kalau raincoat != jas hujan (mantrol). Beuh. Tapi tak apalah. Tas yang gede itu minjem temen SMA, thanks to Omon. Sleeping bag juga. Matras dipinjemkan Uli. Senter minjem Husein Mubarok. Dan persiapan lainnya, dibantu Arief (temen SMA berjari 18).

Minggu sore saya ada kumpul-kumpul anak math cabang Yogya. Kumpul-kumpul yang paling cacat sepanjang sejarah. Efek Rudi ikutan nampaknya. *Ini dilewati ceritanya, terlalu njelehi. Dan sayangnya, hal-hal njelehi inilah yang ngangenin.

Pagi hari Senin, jam 10, tanggal 31 Desember 2012, saya diantar Arief ke kostan Uli. Sembari nunggu yang lain juga. Jam 10 lebih sekian menit, kita berangkat ke TKP, naik motor. Oh iya, orang-orang yang ikutan:

  1. Uli (temen SMA saya)
  2. Dian (temennya Uli, anak FIB UGM, jalan aspal dekat rumahnya aneh)
  3. Sobri (penggemar kopi, anak Riau rasa Jawa, FT UGM)
  4. Jeki (Artis Magelang, Farmasi UGM)
  5. Ihsan (Riau juga, Farmasi UGM juga)
  6. Sunni (sing paling cupu, sing ngaku-ngaku dadi cah UGM)

Semua berangkat dari kostan Uli, kecuali Dian yang nunggu di sebuah prapatan di Muntilan. Saya mboncengke Uli, tanpa modal SIM. Sedangkan Sobri boncengan dengan Ihsan. Jeki dewean.

Setelah ketemu Dian, kita lanjutkan perjalanan. Mampir solat Dhuhur dan mampir makan di pinggir jalan. Kita sampai di Salaman, setelah salah belok 2-3 kali.

Kemudian, kami (kami?) nyari tempat buat menitipkan motor. Pilihan tertuju pada bu Yanti (IIRC) dan suaminya Pak XXXX (saya lupa nama aslinya, tapi beliau sempat cerita, anak-anaknya memanggilnya Bagyo). Suami istri ini memang lucu nan unik. Bapaknya suka guyon, istrinya tabah dan sudah kebal. Kami disuguhi teh panas gelas gede, salak pondoh (yang diakui kalah enak dibandingkan dengan salak pondoh Sleman), dan klethikan alias camilan bikinan sendiri. Ngobrol kesana kemari. Suwi  lah. Sampai Sobri habis dua gelas gede teh panas.

Setelah pamitan, kita solat Ashar di dekat rumah pak Kadus yang bernama pak Abdul Hadi. Setelah solat, kita mampir ke rumah pak Abdul Hadi untuk mengisi buku tamu. You know what, rumput alias suket di halaman rumah pak Abdul Hadi ini sangat bagus. Rumput jepang saya menyebutnya, tapi asli daerah situ. Dan, sangat menggoda untuk diguling-gulingi. Untung, kami berhasil menahan nafsu guling-guling di atas suket.

Di rumah pak Abdul Hadi, ngobrol kesana kemari, sampai turun hujan. Yah, makin lama saja mertamunya. Tapi sampai jua pada waktunya, gerimis agak deras (iki opo?). Pamitan dan beres-beres. Semua sudah siap sedia, Dian ngumpulin pendapat, naik sekarang atau besok pagi?. Saya sih ngikut saja, Wah, wih, wuh. Akhirnya mantep naik sore itu juga.

Lesson learned :  jangan pakai jaket pas jalan naik ke atas. PUANAS.

Jalannya licin, mendaki (you dont say), pinggir semacam jurang. Kalau kepleset, meh. Ada sungai juga. Deres. Gelap pula. Tanah liat pula. Haduh. Ada pohon tumbang pula. Lalu apa yang saya pikirkan selama jalan ke atas?

  1. Ini kalau kena halilintar gimana
  2. Ini kalau ada pacet gimana? Mendadak inget pacet di Cibeureum.
  3. Ini kalau saya klenter / hanyut pas nyebrang kali  gimana. Mendadak ingat belum bisa berenang dan keseret kelapa hanyut di sungai pas kecil
  4. Ini saya kalau kebelet BAB gimana. Hal ini teringat sepanjang naik sampai turun. Bahkan sejak dari kostan Arief.

Dian (ini leadernya) memutuskan untuk masang tenda tidak di pucuk, mengingat kondisi yang seperti itu. Mendirikanlah tenda kita. Ini baru pertama kali saya mendirikan (atau lebih tepanya nyenterin alias megangin senter) tenda. Dulu pas saya SMP, jadi ketua regu pramuka, ada kemah. Pas mendirikan tenda saya malah kabur, disuruh ikut lomba. Pas sudah sampai di lokasi kemah, sudah berdiri. Kagum saya. Dan heran. 3 hari kemudian, gapura tendanya ambruk. Hukum fisika masih berlaku ternyata.

Crat, crit, crat, crit. Dan TARAAA…. tenda pertama berdiri.

Tang, teng, tang, teng… YAHAAA… tenda ke dua berdiri.

Ternyata, cukup untuk dua tenda setelah dibantu pencabutan pohon cabai. Tapi tenang, keesokan harinya ditanam lagi kok.

Tenda dibagi dua. Berdasarkan jenis kromosom. Karena yang XY sudah pas 3, Jeqi dimasukan ke golongan XX *iki ngarang

lesson learned : plastik berguna buat kelayapan di kala hujan, tisu basah juga berguna buat ngelap kaki kotor sebelum masuk tenda.

Pasca solat dari tenda XX mulai memberikan pencerahan. Mulai nawani (nawari). Jadilah, ngirim kopi dan coklat sachet  + gelas diubah jadi segelas coklat panas dan kopi.

Selanjutnya ngirim 5 bungkus mie. Balik-balik jadi 3 mie matang. *Baru diketahui keesokan harinya kalau 2 porsi mie tidak termasak.

Habis ngobrol bentar, saya pun tidur. Jam 22.30an. Peduli amat sama kembang api. Hujan ini. And you know what, saya sama sekali tidak mendengar letusan kembang api.

Bangun-bangun, sudah subuh, terus solat. *beberapa detil saya abaikan. Ahaha.

Setelah pada melek semua, kita naik ke pucukannya. Rada sulit jalannya. Eh gak juga ding. Eh mbuh ding. Ah mbuh lah, saya rada lemah di bidang memahami jalan.

Dari "Banyak Angrem"

Banyak Angrem

Nah, di semi pucukan, terlihat tuh semua gunung di sekitarnya. Sebutlah Merapi, Merbabu, dan beberapa lainnya (saya lupa). Baguslah. Nama daerah ini adalah Banyak Angrem atau Angsa Mengeram. Alasan dinamai itu juga kurang tahu. Yang jelas, tidak ditemukan tanda-tanda ada angsa di sekitar sana.

Terus kami berenam (maksud saya, Dian) masak-masak, Sobri ngopi + tidur, Ihsan nyumet petasan (ini ada yang gede dan gagal naik, bikin telinga mak cleng), dan Jeqi + Uli jadi model foto-foto. Menyenangkan lah.

Petasan mak cleng

Habis itu, kita mencoba naik ke pucukan yang sebenarnya. Tapi, kok itu batu. Batu beneran. Licin pula. Sobri, saya, dan Dian nyoba memanjat, takut. Resikonya sudah out of control, begitulah otak saya memperingatkan saya. Untung tadi malem gak jadi bikin tenda di pucukan. Gak bakalan jadi.

Pucukan

Habis itu balik lagi ke tempat semi pucukan. Makan roti goreng dan ngobrol-ngobrol. Asik lah.

Note: Yang sudah friend sama teman saya yang upload foto bisa lihat di Facebooknya. Ndak enak upload foto orang di blog sendiri tanpa ijin yang ada di foto.

Setelah panas kemudian turun, beresin tenda, packing dan beranjak turun. Sementara saya mulai panik liat jam. Sudah jam 10 dan jam 7 malam saya musti sudah ada di kereta.

Pas turun, saya baru nyadar, ternyata samping-samping jalan itu adalah ladang atau kebun ketela. Lalu, dipastikan tidak ada pacet. Darah saya masih utuh. Ada sungai juga (di mana saya takut klenter). Cukup sejuk buat membersihkan tanah liat yang nempel di sandal.

Setelah mampir di masjid solat, makan mie ayam bakso di Muntilan, numpang nyetor di Muntilan, sampai juga di Jogja. Ndak sempet pulang ke Bantul, terlalu mepet. Untunglah, Alhamdulillah, bisa duduk manis di kereta. Dan sampai Jakarta tepat waktu. Sampai kostan lancar. Tidur bentar, dan berangkat macul.

Banyak Angrem yang menyenangkan. Matur nuwun untuk semuanya.

NB : Beberapa hal di atas, hanya terjadi di alam pikiran saya dan cuma seinget saya juga.

Iklan

6 comments

  1. tepat tujuh tahun lalu saya bersama teman2 saya waktu SMA pernah ke situ, yah posisi yang sama…
    Dan perlu mas ketahui di situ pernah ada tentara yg meninggal, saya dan teman2 pun *diganggu spt sosok macan waktu malamnya?
    btw mau nanya, ada pohon tales (kimpul) ga di tempat itu? haha… itu saya yang nanem sama temen2,,,

    • What the… untung gak tahu, jadi gak kepikiran dan ngeliat yang aneh-aneh, ahaha.

      hmm, liat gak ya? kurang merhatiin pohon2nya sih. Salah satu yang berkesan cuman pohon cabe yang dicabut, biar tanahnya bisa dipakai buat ndiriin tenda, dan ditanem lagi pas mau pulang.

  2. wkwkwkwk sip2 kalo gt, dulu pas ngecamp ga sengaja nemu tempat enak tapi ternyata ya banyak angkrem itu nama tempatnya…
    dlu ga bawa kamera jd cm bs mengenang tanpa melihat kembali *duh…
    padahal viewnya mantap sekali kalo dari situ, apalagi jam 5 pagi… wiii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s