Intuition and Asymptote

in·tu·i·tion : Noun. The ability to understand something immediately, without the need for conscious reasoning.

as·ymp·tote : Noun. A line that continually approaches a given curve but does not meet it at any finite distance.

Jadi, tempo malam (bukan tempo hari karena terjadi di malam hari), ada teman saya yang menanyakan mengenai fungsi yang memiliki nilai sekian untuk x sekian, memiliki asymptote sekian, dan memiliki turunan ke dua sekian. Saya nge-blank. Ndak kebayang sama sekali. Bahkan sekedar bayangin koordinat kartesius saja butuh waktu lama. Baru kemudian bisa menggambar kurva fungsinya yang sama sekali random dan tidak nyambung ke permintaan. Saya jengkel. Kenapa jengkel? Soalnya dulu sewaktu jaman masih doyan pensil mekanik dan kertas buram, hal ini biasanya tidak terjadi. Bahkan untuk sampai fungsi dengan tingkat kerumitan tertentu langsung kebayang. Lha ini, prettt. Saya merasa kehilangan intuisi. *halah. Tapi tenan kok.

Akhirnya, sampai buka Wolfram Alpha. Dan beberapa saat kemudian mulai ada titik cerah, walau bukan solusi keren.

Tadi pagi, ada anak buah saya sms. Nanyain luas segitia via titik koordinat. Saya randomly bales, Sarrus (inget pas diajari ini di SMA dulu). Baru gugling. Yah, lumayan bener lah. Terus sms lanjutan, kombin. Ahey, favorit saya. Yah, walau sempet meleset di tebakan pertama, nemu juga solusi. Belum dicek sih, tapi kayaknya bener. Bagi yang merasa nge-sms saya, ahahaha, jawabannya belum aku cek sama sekali.

Well, kayaknya udah lama banget sejak terakhr kali berkutat dengan pensil mekanik dan kertas buram. Iya, pasti. Tapi yang cukup menyedihkan, udah makin lemot saja ini saya. Gak pernah dipakai kali yang otaknya. Ahaha. Sampai-sampai, kemarin ngobrol sama temen mengenai hal yang lumayan bisa menstimulus otak kepakai, dan saya bilang :

aing merasa udah lama gak make otak sejak kuliah. Baru kali ini kerasa kepake. Jual aja kali ya, jarang dipake ini

Becanda sih pastinya. Tapi, jadi merasa lebih lemcups dari jaman pensil mekanik dan kertas buram dulu. Ahaha. Kayaknya perlu banyak istighfar dan mulai dipakai lagi, biar gak diambil gara-gara ndak digunakan. Biar si intuisi balik lagi.

Btw, keren lho si intuisi ini. Dari definisi katanya aja sudah keren. Kemampuan memahami sesuatu tanpa alasan yang jelas. Dulu, saya biasanya begini. Baca masalah, dapat intuisi, baru disambung-sambungin si intuisi dengan masalah. Kalau sekarang, dapet masalah, terus gugling. Padahal kan ndak selamanya kita bisa gugling, kecuali ngecangkok Google di otak (salah satu impian saya).

Bayangkan, lagi di tempat nan jauh dari koneksi internet, terus musti mikir cepet sebelum terjadi sesuatu yang membahayakan. Misalnya, pas kebelet dan toilet sedang dipakai. Kan susah tuh. Musti mikir cepet. Ambil batu kerikil misalnya. Konon, bisa menghilangkan rasa kebelet ini. Menurut saya sih iya, teruji secara empiris dan teoritis. Empiris karena saya pernah mencoba. Teoritis, mungkin si batu ini dipakai buat pengalih perhatian otak. Dari perut yang mau meletus ke batu yang dingin dan keras. Oh iya, secara empiris, batu yang dingin lebih bisa menghilangkan rasa kebelet.

Well, nampaknya perlu membiasakan diri untuk mikir dulu, baru gugling. Seperti halnya, gugling dulu, baru nanya. Tapi, kalau mikir dulu, kadang lama je. Tapi musti gimana lagi, daripada si otak jadi usang dan berkarat. Lagian, tidak semua hal bisa digugling. Ahaha.

Yah, tulisan buat instropeksi diri saja. Masih banyak ke-lemcups-an diri ini. Afufufu. Dari tadi tidar-tidur melulu soalnya.

PS : Lagi dalam misi satu pekan satu postingan, afufu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s