How’s Your Weekend?

Biasanya, kalau hari Senin, di kantor sering terjadi percakapan yang salah satu isinya:

How’s your weekend?

Maklum, kerja di kantor yang ada bulenya. Kalau gak ya biasanya ngobrolin bola. Terus ece-ecean. Ahaha.

Lalu bagaimana weekend saya kemarin? Beuh, capek.

Hari Sabtu pagi saya ada meet up komunitas Id-Python yang kebetulan diadakan di kantor. Sorenya, nyari koper yang cukup makan waktu, demi menghindari penyesalan pasca membeli koper. Malamnya, melanjutkan nonton Hotel Transylvania yang menurut saya cukup menarik. ZING.

Minggu pagi, saya berencana mengunjungi wali kelas saya di SMA, Mr. Mucayit dan istrinya, Ms. Gul (guru bahasa Inggris saya di SMA), dan tentu saja putri mereka, Hatice (dibaca, ha-ti-je). Beliau sekarang tinggal di Pondok Cabe, dekat sekolah Karisma Bangsa. Rute yang harus saya tempuh: Sarinah -> Harmoni -> Lebak Bulus -> Rumah beliau. Saya berangkat tidak sendiri, ada Lorenz dan Dhani, teman sekelas waktu diwali-i pak Mucayit. Jam 9.30 kami kangsenan untuk ketemu di Lebak Bulus. Namun…

Baru jam 10an kami berkumpul di Lebak Bulus. Ternyata jauh itu Sarinah ke Lebak Bulus. Cih. Sampai tidur saya di busway.

Setelah itu kami naik angkot, turun sedikit kelewatan dari belokan menuju komplek rumah beliau. Kami pun bertamu, ngobrol kesana kesini, tapi tidak cukup lancar. Maklum, Inggris saya level reading. Kami melanjutkan ngobrol di Pizza Hut terdekat. Kami pun makan dengan lahapnya. Sempat ambil foto juga.

Polyglot
Polyglot

Catatan, itu anak perempuan yang paling depan adalah si Hatice. Dia bisa bahasa Inggris, Indonesia, Turki, dan bisa menghitung 1-10 dengan bahasa Tagalog. Yang paling keren adalah ketika dia switch bahasa dengan cepatnya berdasarkan lawan bicara. Ngek. Saya malu. Dasar polyglot.

Nah, dimulai lah cerita akhir pekan saya. Karena saya musti ke Bandung sore itu juga, saya pamit pulang. Dhani dan Lorenz juga. Tapi, jalan yang sempit yang harus kami lewati macet pol. Tidak bergerak. Masih ada beberapa kilometer sebelum Lebak Bulus. Mamam. Daripada stuck di angkot, kami pun berjalan tanpa henti. Sampai nemu titik pembuat macet. Sebuah pertigaan yang deadlock. Kami nunggu angkot lewat. Karena jalan setelah pertigaan itu dirasa cukup lancar.

Namun…

Tidak selancar pandangan awal. Tetep saja macet. Tapi masih mending sih, jalan dikit-dikit. Yah, lumayan lah.

Namun…

Si angkot macet. Dan kami yang laki-laki diminta dorong. Okelah, kami dorong. Angkot kembali jalan.

Namun…

Si angkot mengambil jalan memutar. Peh. Prasangka baik sajalah, menghindari macet.

Namun…

Si angkot macet lagi. Saya yang duduk di belakang sopir, menoleh dan bilang ke sopirnya: “dorong lagi bang?”, dengan suara lirih nan sayu, berharap mendapat jawaban “Gak usah mas, saya punya UPS buat mesin ini.” Saya jawabannya jawaban klasik. Mendorong angkot lagi.

Akhirnya, kami sampai terminal Lebak Bulus. Cuaca sangat terik dan gerah. Dhani pulang ke Depok, sementara Lorenz dan saya naik Kopaja AC. Kami pun tertidur. Kami pun bangun, sudah sampai Jakarta. Saya turun di halte setelah Gor Sumantri. Kemudian naik Busway dan turun di Dukuh Atas.

Namun…

Bundaran HI ditutup yang artinya tidak ada busway jalur 1 yang lewat. Meh. Ada karnaval ternyata. Saya putuskan jalan kaki. Mengingat saya pesen travel jam 7 dan saat itu sudah hampir jam 6.

Ada hikmahnya juga. Walau jauh jalan kakinya, dari Dukuh Atas sampai Sarinah (4 halte), saya bisa melihat sisa-sisa karnaval. Menarik. Saya sampai lupa kapan terakhir kali melihat karnaval.

Peserta Karnaval
Peserta Karnaval
Burung Garuda?
Burung Garuda?
Karnaval
Karnaval

Yah, foto nya ndak terlalu bagus. Maklum, bukan kamera

Saya sampai kostan jam 6.15-an. Solat Maghrib, packing, dan nelpon travel supaya ndak ditinggal. Untung belum berangkat mobilnya. Jam 7 kurang dikit saya sampai di pool travel.

Namun…

Si mobil travel baru muncul jam 7.30 pm. Kena macet. Dan saya baru berangkat jam 8.00 pm. Ah ya sudahlah, daripada ndak berangkat.

Jam 11.00 pm saya sampai Balubur. Nyari taksi. Nemu.

Namun…

Sopir taksinya ndak ada. Katanya lagi makan. Ya wis, saya makan juga. Saya kelar makan. Saya cek taksinya. Masih kosong. Cih.

Saya pun memutuskan nyari taksi lain. Saya rada takut naik angkot, takut diculik.

Saya sampai tempat menginap jam 11.30an PM. Pengen nonton Italia. Eh, seperti perkiraan, ndak ada channelnya dan diacak pula. Mana internet butuh password. Saya mandi dulu. Baru Isya. Lalu tengah malam nelpon resepsionis menanyakan password internet.

Namun… 

Skor 2-2. Extra Time. Saya sudah ndak kuat. Dan terpaksa bobok.

Edan, kesel pol.

So, that’s my weekend..

Iklan

4 comments

  1. Lontong!!”dan tentu saya putri mereka, Hatice (dibaca, ha-ti-je)”…jd km putri mrk toch…wkwkwk…salah ketiklah kau…wkwkwk…:p
    “Saya rada takut naik angkot, takut diculik.” <- sapa toch yg mo nyulik anda…ckckck…wkwkwk…

    • Jakarta emang rumit, dan seringkali hidupku rumit juga, ahahaha. Tapi nek kasus iki Jakarta dan Tangerang ah yang bikin ribet.

      Beliau Filipina, namanya aslinya lupa siapa. Gul itu nama Turkinya, setelah menikah sama suami-nya. U-nya ada titik dua, yang artinya mawar. Ya wajar kalau unik, ahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s