Sepakbola Jaman SD

Jadi, saya barusan melihat foto teman saya (rekan kerja di Jakarta), Riangga yang sedang jadi pengajar muda di Halmahera. Fotonya seperti ini:

Riangga dan Murid-muridnya
Riangga dan Murid-muridnya

Ceritanya, Riangga sedang memfasilitasi anak-anaknya untuk latih tanding persahabatan dengan SD lain. Perlu naik perahu katanya. Ndak jauh beda dengan masa kecil saya, kecuali bagian naik perahunya. Mari menengok masa kecil saya sedikit.

Entah, sejak kapan, saya suka main bola. Suka sekali. Bayangkan saja, saat SD, jumlah anak laki-laki di kelas saya itu ndak sampai 20. Kalau ndak salah total siswanya 33. Salah satu nomer absen yang pernah saya hinggapi adalah 22. Waktu SMP, saya nomer 17. Waktu SMA saya no 5. *Otak saya hebat ya, dalam mengingat hal-hak tidak penting.

Balik lagi ke benang merah. Jadi, sama seperti murid-muridnya Riangga, saya dan teman-teman saya dulu juga suka main bola, nantangin SD lain buat main. Karena kebetulan di depan SD saya ada lapanangan rumput gede, kami sering jadi tuan rumahnya *halah. SD lain mah ndak punya. Wkwkwk. Biasanya, pertandingan dilangsungkan siang hari atau sore hari sepulang sekolah. Kalau haus, beli es camcao atau temulawak di belakang gawang. Dulu masih 100 rupiah harganya, kurang dari 0.1 cent kalau mata uang US sekarang.

Pernah juga kita melawat ke SD lain yang cukup jauh, dan punya lapangan sendiri. Home and away ceritanya. Wkwkw. Kita bareng-bareng naik sepeda. Hasilnya, seri 1-1, lalu kalah adu penalti. Pas pertandingan homemalah dibantai dan lapangan kayak sawah. Kayaknya itu satu-satunya kekalahan yang pernah kami alami.

Jangan salah, walau kami masih SD, kami main lapangan gede, 11 lawan 11. Parahnya, kalau lagi latihan, dengan jumlah pemain kurang dari 20, dan tidak semuanya datang (ada yang ndak suka main bola juga), pernah 5 lawan 5 di lapangan segede itu. Ngahahaha.

Pas melihat foto di atas, mereka mengenakan kostum seragam, keren lah. Kalau kami dulu, kostum yang pernah kami coba pakai adalah kaos olahraga putih SD. Untuk nomer punggung, kami menyablon sendiri di belakang kaos olahraga itu. Caranya: bikin nomer yang ingin dipakai di kertas HVS, diblok pakai tinta/pensil, secara mirror, lalu difotokopi. Dan, hasil fotokopi itu kita tempelkan ke belakang kaos, dan dengan bantuan minyak tanah, si tinta bisa nempel di kaos. Dan taraaaa, jadi deh. Saya dulu menggunakan nomer punggung 8.

Masih dibandingkan dengan foto di atas, mereka menggunakan sepatu, kaos kaki panjang pula. Kalau kami dulu, boro-boro sepatu, biasanya barefoot alias nyeker. Hmm, mungkin ini yang membuat kaki saya cukup kuat, ahaha.

Rumput di foto di atas juga hijau. Kalau di saya dulu, kalau hujan, ya jadi kayak sawah. Kalau panas, ya kadang jadi keras tanahnya, jatuh pasti sakit. Tapi, sering hijau juga ding.

Btw oh btw, ternyata si Riangga ini tanding bolanya sama murid-muridnya si Jaka (Zakaria). Si Jaka ini teman seasrama pas saya kuliah di Bandung. Pernah jadi staf saya pas saya jadi menteri keuangan. Foto lain dari timnya Jaka:

Jaka dan Murid-muridnya
Jaka dan Murid-muridnya

Full set fotonya si Jaka bisa dilihat di sini.

Semangat buat kalian berdua, salam buat anak-anaknya.

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s