Ski

Jadi, kemarin Jumat, 6 Februari 2014, saya main ski di daerah Muju. Dimanakah itu? Saya juga ndak tahu. Pokoknya, kalau dari Gwangju ke Muju sekitar 3 jam. Tapi dari Muju ke Gwangju, sekitar 2 jam kurang dikit. Ahahaha. Aneh memang.

Ini pengalaman pertama bermain ski. Excited tentunya. Mencoba hal baru, dan kebetulan di Indonesia ndak ada.

Ini adalah acara kampus. Presentasi penelitian tapi presentasinya sih bentar parah, ndak sampai 1 menit. Yah, alibi buat jalan-jalan dan liburan lah.

Tempat Ski Muju
Tempat Ski Muju

Foto di atas adalah tempat skinya. Ada bagian lain juga sih. Nah, saya ngambil jalur yang paling kiri. Cenderung tidak curam soalnya. *bohong ding, saya cuman ngikut-ikut saja.

Untuk mencapai tempat yang dipakai untuk meluncur, kita naik lift. Yah semacam kereta gantung lah. Agak tinggi juga. Terasa lama di liftnya. Lha pelan je. Sebelum main, kita foto dulu lah.

Sebelum Ski
Sebelum Ski

Ada dua pilihan, ski dan snowboard. Saya milih ski. Kayaknya lebih gampang. Saya salah. Susyah. Mulai dari sepatunya yang berat dan atos. Kayak pakai sepatu hak tinggi. Atau lebih tepatnya sol tinggi. Saya jadi ndak kebayang kalau ada mbak-mbak atau tante-tante yang makai hak tinggi.

Pas meluncur, juga susah. Saya ndak pakai teori sama sekali. Katanya musti bentuk huruf A, tapi kok ndak berjalan sesuai rencana. Dua teman saya yang menggunakan snowboard sudah bablas. Saya masih ketinggalan di atas. Mencoba untuk berdiri, dan tidak terpeleset. Peh.

Takut jatuh pada awalnya. Bak, buk, bak buk. Tapi lama-lama kebal juga. Nampaknya jatuh bukan barang mewah lagi. Lagipula, kalau ndak berani meluncur sampai bawah, masak iya mau nyopot papan seluncur lalu dijinjing. Gengsi cuy.

Akhirnya, saya beranikan diri… slunyurrrr…. Bisa juga ternyata. Masalah muncul, saya ndak bisa mengendalikan diri. Terus saja. Adrenalin sangat terpacu. Mau ikutan zig-zag kok malah bentuk huruf L. Belok nabrak pembatas. Pembatasnya sendiri berupa jaring ala gawang. Hal cukup memalukan pun terjadi. Saya nabrak pembatas, papan nyangkut di jaring, sementara posisi kepala di bawah, kaki di atas. Mau mencoba melepaskan ndak bisa. Peh.

Untung saja ada orang baik hati nolongin. Ahaha….

Hal lain yang sulit adalah ketika jatuh, posisinya aneh-aneh. Yang paling saya benci adalah hampir jatuh, terus muter dan malah menghadap ke atas. Lha kan nanti bisa meluncur mundur. Meluncur maju saja berbahaya, apalagi mundur. Mau merubuhkan diri, harus terpaksa sedikit split ala Van Damme karena si papan tidak mengijinkan saya ambruk ke depan. Huah. Sedih kalau dikenang. Ahaha.

Akhirnya, sukses juga meluncur sampai bawah. Modal nekat. Tadinya mau teriak-teriak, “minggir mas, minggir mbak, aku ra iso ngerem”. Untung saya tahan. Cukup memalukan kalau terjadi. Walau ndak bisa ngerem, akhirnya bisa berhenti sendiri. Ajaib. Mungkin gara-gara tanahnya sudah mendatar.

Mari istirahat makan siang dulu. Teman saya sudah dua kali naik, saya baru sekali. Ahaha.

Saat istirahat, saya menyadari, saya salah. Celana malah masuk ke dalam sepatu. Pantesan kayak kejepit kaki saya.

Sesi siang.

Naik lagi. Dua teman saya duluan. Saya masih wait and see. Nunggu sepi. Biar ndak ada yang ketabrak. Kemudian nekat. Slorot… Tiba-tiba sudah jauh nyelip teman saya.

Hal yang saya takutkan pun terjadi. Saya meluncur ngawur seperti biasa, walaupun sudah bisa belok dikit. Tapi, apa daya, di depan saya ada yang lagi nge-zig-zag dengan snowboard. Sudah saya itung dari rute yang ditempuh si snowboarder, kecepatannya, dan rute saya, dan kecepatan saya, ini pasti nabrak. Dan, bam. Nabrak lah. #akurapopo. Saya ndak merasa sakit. Tapi papan ski saya lepas. Nengok ke belakang, kayaknya orang yang saya tabrak kesakitan. Peh. Jadi merasa bersalah. Mau minta maaf, ndak tahu bahasa koreanya. -___-.

Untung, tak lama kemudian dia bangun dan meluncur lagi, pas deket, saya sempet ngomong maaf, bukan dengan bahasa Indonesia tentunya. Nampaknya, saya dimaafkan. Halah.

Saya pun mulai lebih berhati-hati. Saya mending nabrak pembatas, daripada nabrak orang.

Tak lama kemudian, saya meluncur lagi. Langsung jauh. Jadi, pas meluncur kaki saya gemeteran, ndak rata tempat meluncurnya. Kalau lengah sedikit saja, nggledhak pasti. Karena terlalu jauh meluncurnya, saya jatuh juga akhirnya. Cukup mawutPapan copot dua-duanya. Tongkat ketinggalan di belakang. Dan kepala pusing. Nampaknya sempet terguling, soalnya ada salju di rambut saya. Ngek. Kapok juga. Istirahat bentar. Dan kemudian sampai bawah juga. Dan naik lagi.

Ronde ke tiga juga tidak jauh berbeda. Seluncur lurus, jauh, cepet, dan ambruk. Tapi, ada satu momen yang cukup wiiiiw… Yakni, pas saya mencoba menghindari tabrakan, jadi saya belokkan ke arah luar jalur. Tapi ndak ada pembatas, adanya malah kebon dengan cekungan atau kurva. Saya mencoba untuk mengarahkan ke sana, eh bukannya nabrak kebon dan berhenti, tapi malah berseluncur di kurva dan balik lagi ke track awal. Keren lah. Kaya di film-film. Ahaha. Kesenangan sesaat sih, setelah itu jatuh lagi.

Di akhir waktu, saya sudah kebal dengan jatuh dengan berbagai macam posisi, papan lepas, atau apalah. Tapi sempet ciut juga nyali pas ada yang sampai ditandu. Alhamdulillah saya masih hidup, meski lebam di sana sini.

Di akhir waktu juga, saya baru bisa menggunakan teknik huruf A yang membuat saya meluncur pelan-pelan. Ahaha.

Pengen naik lagi, tapi, saya sudah kehabisan energi buat jatuh dan sudah capek masang sepatu di papan skinya. Daripada terjadi hal yang tak diinginkan, mending disudahi saja. Saking capeknya, saya sempet berhenti lama pasca jatuh dan foto pemandangan dari sudut saya jatuh. Ahaha.

Pemandangan dari sudut lain
Pemandangan dari sudut lain

Setelah berganti baju, saya berkeliling sebentar, nunggu bis jam 5 sore (saya kelar main jam 3 sore). Baru saya sadari, di sisi kanan, ada tempat untuk naik dengan semacam ekskalator, tidak terlalu tinggi, jadi cocok buat latihan. Fiuh. Tau gitu.

Tapi, jujur, jangan sampai nekat seperti saya. Mending latihan dulu. Berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Well, overal, sangat menyenangkan sekali. Jangan tanya memar dan pegel badan di bagian mana saja. Hampir semua. Saya pikir saya ndak bisa bergerak setelah bangun pagi, eh malah bangun seperti biasa, lebih pagi pula. Yah, yang paling sakit otot bagian leher sih, pas dipakai buat ngangkat kepala dari posisi terlentang. Secara umum, saya aman. Alhamdulillah.

Bonus foto :

Dari Samping
Dari Samping
Lampu pohon
Lampu pohon

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s