Ngartu Pos

Dulu, pas kecil, pas masih baca Bobo, saya penasaran sama yang namanya kartu pos. Soalnya, kuis-kuis di Bobo itu ngirim jawabannya pakai kartu pos. Saya sendiri ndak pernah kelakon ngirim. Lha jauh je kantor pos nya (untuk ukuran anak kecil, padahal jane yo deket). Ada sih kotak surat/pos di deket kelurahan. Tapi kok diisi rumput sama batu oleh orang-orang gagal baligh.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempet nemu hiasan dinding bagus di kantor UNESCO di Gwangju. Hiasannya berupa peta dunia, lalu ada banyak kartu pos dan amplop surat di sekelilingnya. Masing-masing dihubungkan dengan benang ke kota asal mereka. Keren lah.

Peta Kartu Pos
Peta Kartu Pos

Keren ya?

Lalu, saya pun kepengen punya seperti ginian.

Langkah pertama tentu mengumpulkan kartu pos. Caranya bisa dengan ngemis ke teman yang sedang berada di penjuru dunia. Biar jadi simbiosis mutualisme, saya merasa perlu ngirim kartu pos juga. Ahaha.

Saya nyari kartu pos di kantor pos di kampus, ndak ada. Di suruh ke toko alat tulis sebelahnya. Berhubung ndak bisa bahasa Korea, malah dikasih kartu bus. Lalu disuruh ke toko buku sebelahnya, ndak ada juga. Alhasil, saya beli online. Harga pengiriman separuh harga kartu posnya. Duh.

Nah, mulailah saya ngirim-ngirim sambil minta dikirimin. Ini beberapa (semua) kartu pos yang tiba dengan selamat ke saya.

Kartu Pos Tiba
Kartu Pos Tiba

Macem-macem ternyata wujud kartu posnya. Menarik. Ahaha. Itu dari Jepang 2 biji, Afrika Selatan 3 biji Portugal 1, Malaysia 1, dan Inggris 1.


Kok ndak ada yang dari Indonesia Sun? Nah ini…

Jadi, ngirim kartu pos itu ndak secepat ngirim pesan Wassap. Saya ngirim kartu pos ke banyak orang. Hampir semuanya saya kirim sekitar pergantian tahun 2013 ke 2014. Nyampainya beda-beda. Anehnya, yang Indonesia yang paling lama. Seminggu yang lalu, saya baru menerima kabar dari 1 orang teman di Indonesia yang nyampai kartu posnya. Sekarang sudah mendingan sih, nambah 3 orang. Jadi, saya bilang saja, kalau belum nyampai, ndak usah dibalas dulu. Ahaha.

Hingga tulisan ini dibuat, masih ada yang belum nyampai. -____-.

Seneng juga kalau sudah nyampai penerima. Ahaha.

Iya, tulisannya jelek. Cih. Jadi ya difoto gini gak kebaca. Wkwkwk…

Btw, saking seringnya berkomunikasi secara online, saya ndak nulis alamat saya di kartu pos yang saya kirim. Lha kalau ndak ada wassap atau fesbuk kan mereka ndak tau mau bales ke mana. Orang jaman dulu keren-keren ya. Setia nungguin dibales suratnya. Gimana cara LDR jaman dulu ya. Kan ndak bisa ngecek setiap saat. *kayak pernah LDR saja Sun…

Btw lagi, saya masih punya stok kartu pos ala Korea. Ada yang mau? Ditunggu sampai Rabu siang, 26 Februari 2014. Afufufu.

Masih sedikit sih… Semoga ada yang mau ngasih lagi… Hohoho… Alamat bisa dilihat di halaman Perihal.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s