Dialog Tekstual, Dialog Imajiner

Beberapa hari saya pengen bakso. Suatu ketika, saya akhirnya sempat ke warung bakso. Dan dengan kondisi perut sangat lapar. Pikiran pun berubah.

Biasanya kan bakso cuman kuah dan bakso, kayaknya kurang mengenyangkan. Mending mie ayam bakso

Lalu saya pun ngomong ke ibu penjualnya.

Bu, mie ayam bakso setunggal. Wonten tho bu mie ayam baksone?

Yah, kalau diartikan ke Bahasa Indonesia: Bu, mie ayam baksonya satu, Ada kan ya bu mie ayam baksonya?

Lalu muncul pikiran di kepala

Tadi itu aku ngomong bakso-nya udah pakai suara atau baru di kepala saja, cuman secara mental?

Nyam, pesananan pun datang. Cuman mie ayam. Tanpa bakso. Semula mau protes, tapi melihat mie ayam yang sangat banyak hingga hampir tumpah, saya mengurungkan niat. Selain merasa bisa kenyang dengan porsi segitu, saya juga takut duit saya ndak cukup. Ahahaha. Bawa duit sangat ngepaslah. Masak iya, ninggal KTP. Eh, ninggal e-KTP ding.

Niat beli bakso, jadinya beli mie ayam. Ckckck.

Lalu saya merasa, tadi itu kata bakso belum keluar dari mulut saya, baru di kepala saya. Lalu saya jadi sangat khawatir. Bagaimana kalau hal serupa terjadi di situasi yang sangat penting. Misalnya, sedang menjadi imam Solat Maghrib, eh ngira udah baca Al Fatihah, tapi tenyata suara ndak keluar. Atau pas sujud, dan akan takbir, mau berdiri, eh suara ndak keluar. Bisa terlihat wagu nanti, saya berdiri, yang lain masih sujud.

Lha setelah saya pikir-pikir, kadang susah dibedakan antara ngomong pakai suara dan sekadar ngomong di kepala. Apalagi kalau ngomongnya sambil lalu.

Lalu saya kepikiran, jangan-jangan gara-gara saya terlalu sering ngobrol tanpa suara? Tapi dari hati ke hati misalnya? Pret. Via instant messenger maksudnya. Kan kita cuman ngirim tulisan, dibaca, dibales pakai tulisan lagi, dan loop tak hingga. Nah, pas baca ini kadang-kadang, atau malah seringkali, atau mungkin selalu saya baca dalam hati, dan di kepala saya selalu muncul percakapan virtual antara saya dan lawan bicara. Kadang bisa terbayang ekspresi atau mode bicaranya. Ahaha.

Nah, jangan-jangan, kebiasaan itu yang menjadi pemicu kejadian di atas. Wew.

Tiba-tiba teringat videop klip Letto – Senyumanmu:

Video klipnya bagus, lagunya bagus, ada Arumi pula. Tonton saja videonya.

Lha gimana kalau saya jadi kayak gitu. Kalau orang gila kan ngobrol sendiri, kedengeran suaranya. Jadi bisa kelihatan gilanya. Lha saya, ngobrol sendiri juga, tapi gak keliatan dari luar. Paling ujug-ujug ketawa atau mesem kalau salah satu yang ngobrol di kepala saya ngeluari joke.

Apa saya skizo? *kayak di video klip tadi? Nampaknya enggak, saya bermodal history chat jadi semua orang yang saya ajak bicara itu nyata. Ahahaha. Kecuali saya juga berfikir kalau saya punya history chat, baru, serem.

Ah, setelah dipikir-pikir, kayaknya ndak mungkin skizo, terlalu keren. Paling penyakit kampung kayak masuk angin atau weng-wengan di jempol kaki. Ngomong-ngomong soal masuk angin, saya kemarin baru dikerokin sama tukang pijet. Dan, beuh, kayak jerangkong, banyak garis merah. Zebra cross lah, bedanya ini merah hitam, ahaha.

Solusinya kayaknya gampang, ngobrol pakai suara sering-sering. Dan kurangi obrolan tekstual. Mending ketemu langsung. Tapi kan saya isinan kalau ketemu orang baru. Ahahaha. Yah, dimulai dari hal yang sederhana saja. Misalnya, kalau lagi chat di IRC, sembari disuarakan. Ngahaha.

Nyam, mungkin saya terlalu jauh mikirnya. Tapi ya begitulah, kayaknya ada bagian di otak saya yang ndak bisa diatur, kadang bikin joke sendiri, yang kayaknya cuman saya sendiri yang bisa ketawa.

Ah sudahlah. Selamat jam 8 pagi dan menikmati akhir pekan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s