Akhirnya, Merapi

Hari Kamis (29 Mei 2014) kemarin, saya akhirnya sampai ke pucuk gunung Merapi. Sebenarnya, dulu pernah naik Merapi juga, di pertengahan April, namun karena satu dan lain hal, hanya sampai di Pos 1. Tapi tak apalah, menyenangkan, dan ada pelangi di gunung Merapinya:

Merapi dan Pelangi
Merapi dan Pelangi

Hayo, kapan terakhir kali Anda melihat pelangi?

Lalu, awal bulan Mei ini ada ajakan buat ke sana lagi. Apa daya, status Merapi naik jadi waspada, terpaksa cari aman, dan ndekem di kamar.

Dan akhirnya, kemarin, ada ajakan lagi, setelah Merapi jadi normal statusnya. Kebetulan saya lagi nganggur di hari libur. Jadi, saya iyai saja.

Kali ini rombongannya ada empat orang, Dian, Mbak Atik, Mas Rudi dan saya sendiri. Berangkat habis Maghrib, lalu numpang tidur di masjid dekat base camp. Jam 1-an dini hari, menuju base camp untuk menitipkan motor. Dan kami pun naik.

Jalur awal-awal agak njelei. Miring tapi mulus. Jadinya ya capeklah. *tau capek kok malah naik gunung.

Jalur berikutnya, mulai normal. Tapi makin banyak rumput tinggi. Kayaknya efek hampir sebulan tidak didaki. Ada beberapa tempat yang kayaknya longsor juga. Saya kadang di depan, suka bingung sendiri, ambil jalan yang mana. Cih. Di tempat yang banyak manusianya aja suka kesasar.

Suatu ketika, saya salah belok, ndak nyasar sih. Tapi ya itu, saya masuk area penuh rumput tinggi, gak keliatan tanahnya, mana basah pula. Celana saya pun jadi basah juga, dingin.

Untungnya, ndak sampai ilang, masih bisa melihat 3 orang lainnya :v

Naiknya sendiri cukup lancar. Sebelum Subuh, kita sudah sampai di dekat Pasar Bubrah. Karena angin bertiup membuat udara dingin (halah), semuanya pada nyekutruk *ahaha, entah kata ini ada di kamus atau tidak. Kami juga nyumet kembang api. Saya sudah lupa kapan terakhir kali main kembang api ginian. Kayaknya jadi makin pendek kembang apinya -_____-

Bagus ya kembang apinya.

Kembang Api
Kembang Api

Tak lama kemudian, kami Subuhan dan lanjut ke Pasar Bubrah sembari menengok mentari yang baru terbit. Yah, mataharinya masih sama kok.

Mentari Pagi (Sauron?)
Mentari Pagi (Sauron?)

Setelah saya liat-liat di foto, malah mirip Sauron :v Lebih bagus liat langsung sih, maklum kamera cups. Padahal ada awan, gunung, dan guritan-guritan kerak bumi.

Lalu setelah rehat sebentar, kami menuju  puncak gemilang cahaya. Begini tampilan si puncak :

Pucuk Merapi
Pucuk Merapi

Saya sebenernya ndak kebayang naik ke atasnya gimana. Lha itu pasir sama batu thok. Khayalan saya, itu kalau ada batu yang jatuh piye…. Bisa ngenain orang, jatuh juga nanti. Belum lagi pinggirnya itu jurang, kepleset, wassalam. Atau kepleset, terus jatuh di batu-batuan. Alamak.

Namun toh, terlalui juga. Ahaha.

Jalur pasir
Jalur pasir

Yang di atas, foto pas masih di jalur pasir dengan latar gunung Merbabu. Bagus ternyata. Langitnya juga bagus. Ah semuanya saja bagus. Wkwkwk

Jalur batu
Jalur batu

Nuff said. Khayalan saya sudah kemana-mana. Sampai sempet mikirin dimana Mak Lampirnya :v

Akhirnya, sampai puncak juga

Yeay, pucuk Merapi
Yeay, pucuk Merapi

Fun fact, itu kaki saya ndredeg takut jatuh. Jatuh ke kawah wassalam sudah. Ini bukan fun fact artinya -____-

Sayang, di atas itu banyak asap. Belerangnya cukup kuat. Beuh.

Setelah cukup siang, kami pun turun.

Nah ini, yang susah, menurut saya. Khayalan-khayalan tadi pun muncul lagi. Turun lebih mudah di jalur berpasir. Tinggal mak slurut. Tapi, kami rada salah ambil jalur. Malah lewat yang berbatu-batu. Sakit lah kalau jatuh. :v. Ya kalau jatuh pasti sakit. Eh, kalau jatuh hati? :v

Dan, seperti biasa, turun gunung bukan keahlian saya. Dengkul mau copot rasanya. Paha senut-senut. Mending naik daripada turun.

Baru nyampai bawah jam 1-an. Katanya sih, naiknya normal, turunnya kelamaan. :v

Pas turun, udah rame. Kaget saya. Banyak orang macar ternyata. Mall mahal kali ya. Padahal tiket ke museum murah lho.

Terakhir, foro puncak Merapi, yang katanya mirip es krim. *es krim darimana sih -____-

Eskrim?
Eskrim?

Btw, fun fact, jarak base camp Merapi ke kediaman saya sekitar 54km.

Hmm, ada yang saya lupakan sebenarnya. Saya pengen foto kayang di puncak. Tapi lupa. Mungkin memang perlu ke sana lagi ya.

Btw, 20 menit lagi bulan Juni. Waktu terasa cepat berlalu. Mei yang banyak pembelajaran (uopoh iki).

Semoga bulan Juni lebih baik lagi.

PS : Terima kasih buat teman-teman yang sudah mengajak naik gunung 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s