Matoa dan Belalang Goreng

Matoa

Tempo hari, saya nemu suatu buah yang lama saya pengen (tapi lupa kalau pengen, opoh), Matoa. Kebetulan, ada yang jual di pinggir jalan. Langsung, saya mandeg dan nanya harga. Harganya 38.000 per kilo. Karena masih taraf nyoba-nyoba, saya bilang seperempat kilo saja. Eh, gak boleh. Minimal setengah kilo. Ya sudahlah.

Setahu saya, buah Matoa ini khas Papua. Saya sih mikirnya, buah ini cuman tumbuh di sana, kan vegetasi dan habitat di Papua cukup unik. Seingat saya, saya cuman pernah makan buah ini sekali, itupun dikasih, 3 biji. Enak rasanya. Gabungan rambutan, kelengkeng, dan leci. Yah, karena Papua jauh, saya ndak kepikiran buat nyari-nyari, apalagi masih kecil. Mending main bola.

Seperti yang saya bilang, buah ini mirip rambutan secara tekstur, kelengkeng secara rasa, dan leci secara rasa juga. Eh, buah leci kayaknya saya belum pernah makan ding. Walau Marimas rasa leci sudah sering minum. Yah pokoknya enak lah. Kulitnya sendiri mirip kulit kedondong warnanya, ijo. Tapi ini lebih mendekati bulat sih, kalau kedondong kan lonjong.

Matoa
Matoa

Enak kan keliatannya? Emang enak kok. Hahaha. Manis lah. Saya menerima pemberian matoa kok, kalau ada yang ngasih.

Ternyata, saya salah mengenai buah ini hanya tumbuh di Papua. Soalnya, si buah yang saya beli ini kebunnya ada di Jogja. Terus, di samping kediaman saya, ada penjual bibit Matoa Super. :v

Jual Bibit Matoa Super
Jual Bibit Matoa Super

Saya jadi pengen punya kebun matoa. Kan enak tuh, bisa makan sepuasnya. Tapi setelah baca wiki-nya, ternyata hanya berbuah sekali setahun. Yach. Terus, kalau ke Papua, katanya, beli aja yang banyak. Awet kok. Kulitnya aja keras. Cocok buat oleh-oleh. Yah, kecuali habis di perjalanan dimakan sendiri.

Yah, Indonesia memang kaya akan buah. Not to mention, duren, rambutan, mangga, salak, manggis (yang kini kulitnya ada ekstraknya), dan masih banyak lagi. Bisa tinggal minta tetangga pula :v (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Belalang Goreng

Salah satu makanan yang saya pengen juga, tapi mager gara-gara lokasinya jauh (deket sih sebenernya), adalah belalang goreng. Kenapa pengen? Karena unik. Dan yakin halalnya. Termasuk bangkai yang halal dimakan selain ikan. Saya kebayangnya sih seperti udang goreng gitu, renyah namun empuk berdaging di dalam.

Belalang goreng ini adanya di Gunung Kidul. Kabupaten tetangga saya. Tapi kok ya, kalau cuman buat beli ini kurang worth it lah.

Lalu, tempo hari, saudara saya ada yang ke Wonosari (ibukota kabupaten Gunung Kidul).  Eh kok ya beberapa hari sebelumnya, pas lebaran saya sempet ngomong pengen belalang goreng. Dikabarin, jadinya saya nitip deh.

Belalang Goreng
Belalang Goreng

Saya beli 2 toples. Satu toples 40 ribu. Yah, cukup mahal sih menurut saya. Semua barang yang harganya di atas 10 ribu, itu mahal. Tapi, YOLO lah. Yang satu tulisannya gurih, yang satu bacem. Yang gurih lebih garing. Saya sih suka dua-duanya. Enak sih. Sesuai ekspektasi. Tapi ya, kalau sering-sering, dompet minta demo. Tapi ya daripada nangkap belalang sendiri dan goreng sendiri, mending beli. Masih rela beli ini daripada beli Kopi di Starbucks dengan harga yang sama. Salah nama pula.

Hmm, saya mau nampilin foto belalang gorengnya secara close up, tapi kok keburu habis, dan lupa difoto. Ya sudahlah. Lain kali saja.

Oh iya, konon, kata temen saya, lebih enak kalau rada basah. Ya sudahlah. Lain kali saja.

Dan, ternyata ndak cuman di Gunung Kidul. Konon di daerah Sragen juga ada.

Kalau mau beli, bisa gugling, banyak kok. Dan harganya 30an ribu. (mahal dong yang punya saya)

Btw, belalang goreng ini sudah go international. Minimal singgah di Singapura, Hongkong, dan mungkin di US. Dalam bentuk yang lain mungkin. Ahaha.

Yah, sekian. Selamat Ulang Tahun Indonesia yang ke 69 *uopoh, tumben

Gak sih, cuman kepasan saja. Ternyata Indonesia memang banyak yang enak-enak.

Iklan

12 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s