Sumbing, Prau, dan Perahu

Tempo hari, saya diajak teman saya yang diajak temannya untuk menemani temannya bersama temannya naik gunung. :v Cem, MLM saja. Biar enak, saya kasih nama, jadi ada yang namanya Mbak Atik, dia diminta menemani temannya Irul (Ocos?) dan temannya Bang Jack untuk naik ke gunung. Lalu mbak Atik ini mengajak temannya, Dian yang kebetulan seneng dan sering naik gunung. Dan saya pun diajak Dian biar ramean.

Rencana semula kami akan mendaki gunung Sindoro dan Prau. Namun gunung Sindoro sedang ditutup, jadi mengubaha tujuan ke Sumbing.

Saya sudah minta ijin ke pak bos (atau supervisor, atau majikan, atau apalah) untuk macul di akhir pekan supaya bisa “pulang” lebih awal di hari Jumat berikutnya.

Sumbing

Jumat sebelum Ashar saya ke Magelang, untuk ketemu Dian dan kemudian mbak Atik. Lha kalau mau ke Sumbing langsung ya gak tau jalan.

Dari Magelang kami lewat Temanggung, kemudian Parakan, dan sampailah di basecamp Garung. Udara sangat dingin ternyata. Irul dan Bang Jack sudah sampai di sana. Mereka berdua naik motor dari Bogor. Gilak. Kalau saya sih mending naik kereta.

Aroma tembakau juga sangat menyengat. Nampaknya lagi panen. Kalau mau turut merasakan suasananya sembari membaca tulisan ini, silahkan beli rokok, ambil 1-2 batang, diudel-udel, ambil tembakaunya, lalu tempelkan di bawah hidung masing-masing.

Meng-anu tembakau
Meng-anu tembakau

Beberapa dari kami tidur sebentar. Termasuk saya.

Pukul 22.00an saya bangun, begitu pula yang lain, kami akan memulai perjalanan. Ini petanya:

Peta Pendakian
Peta Pendakian

Fyi, ini peta kurang bagus, tidak berskala, dan kalau dibandingkan dengan perjalanannya, kok rada gak sesuai, terutama jaraknya. Pemilihan legenda juga rada gak pas. Jadi pengen bikinin peta yang lebih bagus…. *fafifu detected.

Menuju pos satu, rutenya jalan berbatu. Jauh. Tapi bagus lho pemandangan langitnya, bisa melihat banyak bintang. Dan paparan lampu rumah-rumah di kaki gunung. Wow lah. Kanan kiri jalan adalah ladang, tapi ya peteng gak keliatan.

Dari pos 1 ke pos 2, sudah masuk ke hutan. Kami sempat istirahat (tidur) sekitar setengah jam. Beberapa meter sebelum pos 2. Dingin, Coba kalau tau sudah dekat pos dua, kan enak, ada api soalnya. Hadeuh.

Dari pos 2 ke pos 3, track-nya menggila. Tanah menanjak. Kayaknay sih berupa bekas aliran air. Kudu ati-ati biar tidak terjungkal ke belakang. Tapi, saya malah seneng track  yang seperti ini. Entah kenapa. Tapi, saya benci kalau disuruh menuruninya.

Nampaknya, kondisi rada tidak mendukung. Sekitar pukul 4, kami memutuskan untuk rehat, tidur sampai pagi. Cilaka bagi saya, sleeping bag (hasil minjem), ketinggalan di jok motor. Saya kira ndak dibutuhkan. Ternyata oh ternyata. Suhu juga dingin pula. Apalagi kalau ada angin. Apalagi kalau diam. Ouch. Modal nutupin kaki pakai tas, badan pakai sarung, dan muka pakai handuk. Alhamdulillah, masih hidup sampai pagi.

Lesson learned: BAWA SLEEPING BAG.

Eh, ternyata jas hujan juga ketinggal di motor. Alhamdulillah, ndak hujan. Kalau hujan, wew.

Kami ndak dapat sunrise, lha posisi kami berada di sisi lain matahari. Tapi, pemandangan di pagi itu cukup bagus. Atau kalau bagi saya, bagus sekali.

Setelah rehat sejenak, bikin minuman, kami pun melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya.

Track lebih enak daripada sebelumnya, kami sempat mampir foto-foto sepanjang perjalanan. Sebelum akhirnya Dian dan Mbak Atik berhenti di sebelum pos pasar watu. Katanaya sih mbak Atik ngantuk dan Dian akhirnya menemani. :v

Sisanya lanjut ke atas. Sesampainya di pos Watu Kotak, Bang Jack turun ke tempat para perempuan. Sementara Irul dan saya tetap naik. Tapi, setelah menimbang-nimbang, tidak melanjutkan sampai puncak. Ahaha. Sayang sih, tapi ya sudahlah. Saya ndak terlalu kecewa kok. Sudah puas nanjak di antara pos 2 dan 3. Toh naik gunung bukan hanya tentang mencapai ke puncaknya saja *pembenaran.

Dan akhirnya saya pun turun. Perjuangan yang sebenarnya dimulai. Entah kenapa saya sangat lambat kalau turun.

Sesampainya di tempat para perempuan, kami sempatkan masak-masak untuk sekadar mengisi perut. Maklum, belum sarapan sedari pagi.

Dan turun lagi, hiks. Saya rela (dan terpaksa) berada di paling belakang, tertinggal sangat jauh dari yang lain. Bukan, bukan capek. Hanya lambat saja. Untung pada baik, beberapa kali ditunggu, lali ketinggalan lagi :v.

Akhirnya, sekitar Ashar kami sudah sampai di pos 1. Saya pun memutuskan naik ojek. Bayar 20 ribu, demi kaki yang lebih baik.

Tentang si ojek. Ojek ini menggunakan motor trail. Dan karena turun, mesin tidak dihidupkan, cuman ngatur rem saja. Dan jalanan bebatuan, bikin dag-dig-dug juga. Takut jatuh.

Sesampainya di base camp, saya niatnya mau mandi di masjid. Eh lha kok toiletnya rada-rada. Gak ada pintu, sangat terbuka, dan ah sudahlah.

Dieng dan Prau

Akhirnya kami melanjutkan ke Dieng, menuju destinasi berikutnya, sembari nyari masjid. Tapi ndak nemu-nemu yang kira-kira bisa sekalian mandi.

Jalanan ternyata sangat ramai. Motor yang dikendarai Dian dan Mbak Atik sempat macet. Peh. Yang lebih serem, sempat dua kali macet di tanjakan. Peh. Mundur cuy. Untung gak nabrak apa-apa. Eh, nabrak motor saya ding.

Ternyata, kami kepasan dengan festival potong rambut gembel. Pantas saja sangat ramai. Ah tidak terlalu suka saya kalau di gunung tapi malah rame.

Akhirnya, berhenti sejenak, menunggu rada sepi. Lalu tukeran motor, dan kemudian kami pun selamat sampai base camp.

Ternyata, yang naik sekitar 5000 orang. What the…

Saya sendiri ndak naik ndak apa-apa. Rencana dini hari untuk naik pun batal. Males turunnya sih katanya, ngantri. Setelah membersihkan diri dengan air super dingin, kami pun tidur di base camp.

Paginya, Irul dan Mbak Atik memutuskan untuk naik, sementara tiga sisanya, males.

Telaga Menjer, Perahu, dan Curug

Sebagai gantinya, kami bertiga mengunjungi telaga Menjer. Cukup jauh ternyata. Tapi, sepanjang perjalananya pemandangannya bagus parah. Bayangkan saja, dengan latar belakang gunung, diantara gunung dan jalan tempat anda mengendarai motor adalah lembah berisikan sawah-sawah penuh sayuran bersengkedan. Keren lah. Sayang, ndak ada fotonya. Lha lagi naik motor.

Telaga Menjer sendiri cukup sepi. Mungkin karena masih pagi. Tiket masuk 3 orang dan parkir dua motor hanya 12 ribu. Coba tebak berapa tiket dan berapa parkirnya.

Hard to describe, tapi bagus ini telaganya. Lebih bagus dari telaga warna. Ada perahu yang bisa dinaiki juga. Semula ditawari 70 rb. Namun, Dian berhasil nawar jadi cukup 40rb saja. Kalau ke sini, wajib naik perahu ya.

Ndak nyesel lah ke Telaga Menjer ini. Kalau ke sini, jangan lup, naik kapalnya.

Karena waktu masih cukup, kami bertiga memutuskan untuk mencari curug di dekat sana yang katanya ada batu yang ditumpuk mirip payung, dan sangat stabil.

Ternyata, perjalanan ke curug unknown ini cukup jauh. Yang menarik bagi saya adalah sepanjang perjalanan itu sawah yang ditanami sayur-mayur, dan pemandangannya bagus banget. Nggumun saya. Udaranya sejuk pula. Ah…

Jalanan tidak mulus. Kami terpaksa harus berjalan kaki. Namun, karenan hari sudah siang, dan takut dua personel lainnya sudah sampai basecamp, kami pun menghentikan pencarian curug ini. Yah, walaupun sudah keliatan… Dari jauh.

Saat perjalanan ke basecamp, jalan mulai macet. Yah, ke-pas-an dengan para pendaki yang turun dan mulai pulang. Kami istirahat sebentar, menunggu supaya jalanan rada sepi juga.

Sekitar jam 3-an, kami pun mulai pulang. Dan terjadilah side story ini.

Motor yang saya naiki macet. Tidak bisa nyala. Beuh.

Sebenarnya sudah mulai rewel dari kemarin. Sempet mati pas menuju dieng. Sepulang dari Telaga Menjer pun sudah ndak kuat naik, maksimal gigi satu. Dan pelan. Puncaknya, ini macet. Padahal indikator bensin masih menunjukan 2 bar.

Untungnya, ada bengkel di dekat tempat motor macet tersebut. Dan kami pasrahkan ke tukang bengkel untuk memperbaikinya.

Lama menunggu, tak kunjung selesai. Sampai di-protholi.

Motor dibongkar
Motor dibongkar

Hari pun mulai sore. Dan kabut mulai turun

Beberapa waktu kemudian, si motor sudah dikerubutin beberapa orang. Mungkin pada ikut penasaran kali ya. *rasanya semacam ndebug aplikasi :v

Lalu, ada salah seorang yang iseng membuka tangki bensin. Dan ouch, ternyata kosong. Pantas saja. Semua terjadi berkat si indikator bahan bakar yang stuck  di dua bar. Ckckck.

Epic lah. Ahaha. Semacam debug apliasi terus salahnya sepele. Salah nulis log-message :v

Kami pun melanjutkan perjalanan. Saya pun sampai kostan hampir pukul 12 malam. Dengan 3 hari tidak mandi. :v

Recap:

Mendaki Sumbing tapi ndak sampai puncak.

Tidak jadi mendaki Gunung Prau.

Malah naik Perahu di Telaga Menjer.

Mencari Curug tapi ndak sampai lokasi.

Dan motor macet gara-gara False Positive si indikator bensin.

Menyenangkan sekali, ahaha.

Oleh-oleh : muka dan tangan ngglodhoki (kulit ari mengelupas)

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s