Tentang Hujan

Hampir seharian saya guling-guling di kamar. Seharusnya, saya dimintai tolong seorang anak buah untuk menjadi guide selagi jalan-jalan di Jogja. Tapi, setelah berfikir masak-masak di kamar mandi, nampaknya mending membatalkan, daripada malah guling-guling di dalam mobil atau di pelataran Candi Prambanan.

Sebab musabab saya berguling-guling ria adalah sedang demam, hidung meler, dan sejenisnya. Tempo hari kehujanan, dan kepala basah kena hujan. Yah, mungkin jatahnya sedang sakit kali ya.

Saat guling-guling di kasur, di luar hujan sangat lebat. Kilat, halilintar, atau bledeg terasa seperti di film 3 dimensi. Bisa seperti film 4 dimensi malah, kalau kamar bocor. Serem juga dipikir-pikir. Misalnya, tersambar listrik ketika sedang di gegulingan di kasur. Amit-amit. Tapi memungkinkan sih. Halilintar kena atap, nembus ke langit-langit. Nyari tubuh saya. Dan saya pun jadi The Flash.

Ngomong-ngomong, sudah lama ini The Flash hiatus. Pekan ini muncul lagi sih.

Hujan memang bermanfaat. Nuff said.

Tapi ya, kalau kehujanan, bisa sakit. Minimal jadi basah lah. Banyak yang suka suara hujan. Saya kadang juga suka. Mendengarkan musik menjadi lebih syahdu kalau ada back sound suara hujan. Tidur juga jadi lebih nyenyak dengan back sound suara hujan. Apalagi dengan suhu yang dingin-dingin empuk. Sangat nyaman kalau sembari krukupan selimut, nonton film, minum jahe hangat atau susu panas atas coklat Delfi (ini enak lho), plus sembari makan camilan.

Clementine, pemutar musik saya juga ada fitur menambahkan latar belakang suara hujan. Atau kalau mau gampang silahkan buka Rainy Mood.

Selain suara, yang menyenangkan adalah bau hujan. Istilah bule-nya, petrichor

Petrichor (/ˈpɛtrɨkɔər/) is the scent of rain on dry earth, or the scent of dust after rain

Baunya memang enak sih.

Hal lain yang menarik adalah, pasca hujan. Pelangi. Hayo, kapan Anda terakhir kali melihat pelangi? Walaupun sudah sering ketemu pelangi, saya kadang tetep nggumun kalau melihat pelangi ciptaan Tuhan ini. Ajaib. Padahal ya sudah tahu mekanisme di balik kemunculan pelangi. Kan itu gara-gara ada unicorn mau lewat *halah.

Tapi, kadang orang bilang suka hujan, tapi sangat benci kehujanan. Saya jadi teringat puisi yang sering muncul di internet.

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains.
You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines.
You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows.
This is why I am afraid, you say that you love me too.

Ada yang bilang ini dari Shakespeare. Tapi, menurut artikel ini, bukan berasal dari Shakespeare, apalagi Alan Turing, melainkan puisi dari Turki yang berjudul Korkuyorum (I am afraid). Silahkan baca pranala tersebut untuk lebih jelasnya. *dan si puisi tidak dibahas sama sekali isinya. Yo ben. Abot.

Well, memang, saya sendiri ndak terlalu suka kehujanan. Basah :v. Dan ada kemungkinan jadi demam atau pusing. Apalagi kalau sampai basah rambutnya. Biasanya, kalau kehujanan, saya langsung mandi, biar ndak pusing. Entah bagaimana penjelasan ilmiahnya. Lha wong sama-sama dingin dan sama-sama air. Ahaha.

Tapi, memang, ada kalanya kehujanan itu menjadi menyenangkan. Misal saja ketika main bola. Apalagi kalau lagi pertandingan (bukan sekadar main). Wih, terasa heroik. Tanah becek, penuh air dan cocok untuk berkubang malah membuat pertandingan makin seru. Yah, memang sih, jadi susah main bolanya. Entah itu nendang bola tapi bolanya macet kena air, kepeleset, muka dan mata kecipratan air, dan hal lainnya. Seru lah. Atau lebih tepanya, kocak. Ahaha.

Boro-boro mikir kepala basah dan pilek yang menyertai di kemudian hari. Atau susahnya nyuci baju (yah, akhirnya di-laundry sih). Yang penting mah main dulu. Lalu muncul teknik-teknik menggiring bola di lapangan berair (bolanya digiring dengan semi-juggling). Saya ndak bisa sih :v

Wah, jadi pengen main bola tanpa mikir akibatnya. Ahaha. Entah kapan bisa main lagi :v

Hal lain tentang kehujanan adalah ketika naik gunung. Ini sih udah risiko. Tapi biasanya sudah prepare jas hujan sih. Yah, ini sih hanya bisa dinikmati saja. Kalau kehujanan saat perjalanan, ya sedikit demi sedikit tetap melangkah. Ya meh piye meneh. Tapi anehnya, kehujanan pas seperti ini, malah jarang sakit. Alhamdulillah lah.

Tapi, jangan sampai lagi ngoding kehujanan. Bubar.

Well, seperti yang saya bilang di atas, saya memang ndak suka kehujanan. Tapi, ada kalanya beberapa kondisi membuatnya menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Sedemikian sehingga, walau hujan masih bisa tersenyum.

Mari kembali gegulingan di kasur.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s