Sembilan Puluh Ribu Rupiah

Tempo hari, saya mendapatkan sebuah cerita pendek yang menarik. Kurang lebih seperti ini ceritanya (setelah saya tambah dan kurangi :v ):

Suatu ketika si Fulan, mendapatkan uang seratus ribu rupiah. Betapa senangnya si Fulan mendapatkan uang tersebut. Kebetulan si Fulan ingin membeli sepatu, karena sepatu yang lama sudah jebol. Dan sepatu incarannya, juga kebetulan memiliki harga seratus ribur rupiah. Akan tetapi, karena suatu hal, malam sebelum dia membeli sepatu, uangnya hilang sepuluh ribu. Tak ayal, si Fulan kebingungan. Mencari kesana kemari, tak kunjung ketemu. Makin dicari makin mencak-mencak. Sampai menuduh teman kostnya. Si Fulan sampai lupa, bahwa dia masih punya uang sembilan puluh ribu.

Hikmah dari cerita di atas adalah, kadang kala, kita lupa akan nikmat lain ketika kita kehilangan suatu nikmat. Misalnya, ketika sakit pilek, rasanya gimana gitu, mau kerja susah, kalau gak kerja gak dapat duit, kalau gak dapat duit, gak bisa makan, dan seterusnya. Padahal, ya seperti cerita di atas. Pilek itu ibarat uang sepuluh ribu yang hilang. Sementara, masih ada nikmat lain yang lebih besar, ibarat uang sembilan puluh ribu sisanya.

Yah, kadang-kadang kita sering lupa, termasuk saya :v.

Tempo hari, saya nemu cerita mirip di Quora, silahkan baca di sini. Ceritanya, kurang lebih tentang pengemis yang semula bahagia meski tidak punya apa-apa, lalu menjadi tidak bahagia ketika mulai diberi 100 koin emas setiap hari. Lalu suatu ketika, si pengemis hanya diberi 99 koin emas, lalu mulai murah dan yakin ada yang mencuri.

Yah, itu hanya sebagian cerita sih, silahkan baca saja di tautan di atas untuk lebih lengkapnya.

Hal lain, kita sering lupa ketika diberi nikmat yang sudah biasa. Misalnya saja kesehatan. Kita merasa “pantas” diberi kesehatan. Lah, padahal hidup saja tidak minta, tapi diberi dengan cuma-cuma. Namun, sekalinya sakit, mencak-mencak. Tak beda halnya dengan nikmat lain, kalau sedang ada, sering lupa, tidak disyukuri, dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Kalau sudah tidak lagi diberi, baru protes.

Semoga saja, kita tidak pernah lupa bersyukur. Sebagai pengingat saja, terutama untuk saya pribadi.

Dan jangan lupa akan dua nikmat yang sering terlupakan, nikmat sehat dan waktu luang. Pas sehat dan punya waktu luang, malah guling-guling di kasur. Pas lagi gak sehat dan ndak punya waktu luang, juga masih guling-guling di kasur, soalnya disuruh bed-rest. Makanya, guling-gulingnya nanti saja, pas lagi sakit, jadi sekalian. *ngomong sama diri sendiri.

Oh iya, jangan lupa 5 perkara sebelum 5 perkara:

  1. Muda sebelum Tua
  2. Sehat sebelum Sakit
  3. Kaya sebelulm Miskin
  4. Luang sebelum Sibuk
  5. Hidup sebelum Mati

Dan mungkin bisa ditambah dengan, internet lancar sebelum lelet, apalagi disconnected.

Well, semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

–update 14 Feb 2015–
Pas nulis ini, ternyata biasa aja. Pas ngalamin (lagi) susah diterapin ternyata.

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s