Cumi-cumi

Tempo hari, saya pengen makan seafood. Penyebabnya, tak lain tak bukan, saya makan di suatu warung seafood, namun sangat mengecewakan. Saya juga curiga, ini salah satu faktor penyebab saya tipus, hingga harus bed rest 3 hari dan makan bubur. *Yah, spekulasi sih, ahaha.

Akhirnya, tempo hari, setelah menghadiri tiup lilin ponakan saya yang paling kecil, kami (nyonya dan saya, *halah) menyempatkan ke Pantai Depok untuk jalan-jalan sebentar sekaligus beli udang dan cumi-cumi. Yah, pantainya begitu saja sih. Ahaha.

Harganya, udang 60 ribu sedangkan cumi-cumi 40 ribu. Kami membeli seperempat dan setengah kilo, berturut-turut.

Sesampainya di rumah, supaya tidak bau, kami masukan kulkas. Tapi, perlu dibersihkan dulu, biar ndak kotor. *ya iyalah ya.

Saya kebagian cumi-cumi.

Meh, sejam saya habiskan di kamar mandi untuk mencuci dan membersihkan si cumi ini. Pegel, bau, dan ya begitulah. Beberapa pelajaran yang bisa diambil:

  1. Kulit ari (?) cumi itu yang dibersihkan bagian badan sekaligus kepala. Yang badan sih gampang, yang kepala dan tentakel yang repot. Saya baru sadar kalau bagian kepalanya bisa dibersihkan kulit arinya. Terpaksa, nambah satu iterasi lagi. Coba mereka masih hidup dan patuh pada saya (kan sudah saya beli). Saya suruh mereka saling membersihkan badannya. Susah soalnya.
  2. Membersihkan akan lebih mudah jika si badan dan kepala dilepaskan. Bagian badan cukup di-cungkil-cungkil bagian dalamnya dengan jari, lalu keluar lah si tinja (?). Saya sempat kepikiran untuk menyuruh mereka buang air besar terlebih dahulu, mengingat saya ada di kamar mandi. Tapi itu khayalan semata. Oh iya, ini tinja cumi-cuminya bau.
  3. Bagian tinta. Ini sumbernya dari sebuah sphere *halah. Maksudnya, ada bagian kelenjar atau apalah yang ngeluarin tinta. Andai dipisahkan kepala dan badan, si bagian ini akan ngikut ke kepala. Mudahnya, potong saja. Tapi, biasanya pecah duluan sih (atau memang ada salurannya), jadi item semua itu air, gayung, baskom, dan tangan. Cuminya juga kena tinta sih. Untungnya, bukan tinta permanen. Tinggal diguyur air atau digosok-gosok, akan hilang.
  4. Ternyata, di bagian badan ada tulangnya :v. Sebenernya, ini cukup mudah diambil. Tapi, kalau gak tau, dan baru sadar pas setengah jalan, ya terpaksa mengulang setengah iterasi.
  5. Jangan gunakan gayung. Itu alat buat mandi. Nanti amis lho. Percayalah.
  6. Terakhir, cuci hingga bersih semua alat dan tangan Anda. Dan masih tetap amis. Ahaha.

Jadi, seharusnya, langkah yang di ambil:

  1. Pisahkan kepala dan badan.
  2. Sembari melakukan langkah 1, bersihkan kulit ari di badan, eek di badan, dan tulang lunak di badan. Ini cukup mudah.
  3. Bersihkan kepala cumi-cumi. Kalau ada tinta, potong saja. Ndak usah bersih-bersih, capek sendiri nanti. Tentakel-nya kecil-kecil sih.
  4. Jika masih hidup dan taat pada Anda, suruh para cumi-cumi untuk saling membersihkan badan dan BAB. :v

Hasil pekerjaan saya:

Cumi-cumi "bersih"
Cumi-cumi “bersih”

Lalu, by doing some more algebra, jadilah…

Nasi Goreng Cumi
Nasi Goreng Cumi

PS : saya bukan koki, jadi jangan mudah percaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s