Tulisan Ceker Ayam

Dahulu kala, saya underestimate yang namanya tulisan tangan. Sejak tahu ada yang namanya komputer (bahkan belum punya, megang saja jarang), saya yakin tulisan tangan bisa diganti dengan mengetik di komputer. Dan, memang begitulah yang terjadi. Semua serba digital. Mulai dari jaman Microsoft Word, Google Docs, dan beraneka-ragam aplikasi di HP, tablet, laptop, dan seterusnya. Perkiraan saya benar adanya. Ahaha. Jago juga saya bisa mengira-ira perkembangan zaman.

Saya berprinsip, asal bisa terbaca dengan mudah, terutama angka, semua bisa berjalan dengan normal. Selagi menunggu punya komputer :v. Yah, dan nyatanya, masih aman-aman saja. Ujian masih bisa dibaca. Kayaknya, jarang kena masalah tulisan tak terbaca atau sejenisnya. Seingat saya lho.

Makin lama, tulisan saya makin hanya bisa terbaca oleh saya sendiri. Ketika mencatat, saya sering menyingkat kata dengan aturan seenak saya sendiri. Membuat jembatan keledai di sana-sini. Niscaya, ketika membaca lagi, saya perlu men-dekripsi tulisan saya sendiri. Pusing juga.

Sandi rumput mungkin termasuk sebuah pujian untuk tulisan saya. Minimal ada pola tertentu. Tulisan ceker ayam mungkin lebih tepat untuk mendeskripsikannya. Spasi tak karuan. Spasi antar huruf lebih besar dari antar kata. Tulisan naik turun seperti gunung dan lembah yang didaki Ninja Hattori dan Shinjo. Sering mengganti kata demi menghindari huruf R di tengah. Dan seterusnya lah.

Yah, minimal dengan modal tulisan kayak gitu, saya bisa jadi sarjana lah. Alhamdulillah.

Selepas sekolah, saya bekerja, dan masih jarang menggunakan pulpen, buku, atau benda fisik lain. Keyboard cukuplah. Hampir semua tulisan saya tersimpan dalam komputer, atau numpang di server gratisan. Saya gunakan layanan gratisan seperti workflowy, google keep, docs, spreadsheet, evernote (masih gak sreg), atau sekadar file random di dropbox.

Namun, semua berubah. Sejak punya tempat kerja sendiri, yang dedicated, saya merasa makin perlu untuk corat-coret, atau nulis hasil obrolan, to do list kecil dan seterusnya. Pilihan jatuh pada buku kotak-kotak. Entah kenapa, enak sih. Buat corat-coret rasanya gak berdosa. Beda kalau buku garis-garis macam SiDu. Ada rasa bersalah kalau ada baris yang tercoret. *apaan coba.

Sebenarnya, buku kotak-kotak ini saya pasangkan dengan pensil mekanik dan penghapus warna hitam merk Boxy. Tapi itu dulu. Kombinasi super untuk ngoret-ngoret itungan atau membuat sketsa. Namun sekarang, saya lebih sreg sama bolpen atau spidol warna-warni. Yah, selera kali ya.

Post It - Sleep
Post It – Sleep

Tulisan masih seperti ceker ayam. Nulis di Post It juga dibaca sembari mengernyitkan dahi. Mikir dulu.

Nampaknya, saya perlu lebih disiplin dalam menulis *halah. Biar tidak makan waktu banyak hanya untuk sekedar membacanya. Kalau ngelihat tulisan Nyonya, jadi minder. Ahaha.

Yah dicoba dulu lah. Misalnya dengan nulis ulang semua post it.

Ini tulisan super random. Semi nge-rant. Mungkin disponsori oleh urusan beli tiket Idul Adha dan ngelihat to do list yang tak kunjung memendek. Dan juga gigi ke-29 yang mau muncul, syakitttt. Plus beberapa faktor lain, misalnya sate kambing yang barusan dimakan kayaknya kurang mateng.

Yah sudahlah.

Selamat tanggal 7 September. Bagi yang merayakan.

Iklan

12 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s