Bersepeda

Untuk menjaga kebugaran *halah*, saya biasanya berolahraga. Untuk mengimbangi supply masakan yang ada, yang meningkat, cukup drastis. Hingga masa kuliah, saya biasa bermain bola. Kebetulan cukup mudah untuk bermain bola. Lapangan tersedia, dan massa juga ada. Selain main bola, kadang-kadang saya ikut main badminton atau lari.

Setelah menjadi buruh, rada susah untuk berolahraga. Main bola saja mahal. Tapi sudah bersyukur ada massa yang main. Kadang masih suka lari. Entah dulu di jalan Thamrin atau di sekitar Pogung.

Sekarang, sudah jarang lari. Main bola juga super jarang. Nunggu panggilan. 2 bulan terakhir, saya ganti ke sepedaan. Bukan sepeda saya sih, tapi sepeda nyonya. Kalau lagi dipakai ya saya jogging. Cek postingan terkait Embung Tambak Boyo.

Bulan puasa kemarin, saya diajak nyonya ikutan latihan memanah di UNY. Cukup random sih. Tapi ya dicoba saja, jadi saya iyakan. Yah, sudah lebih tahu lah cara memanah. Tapi kok kurang keringatan. Sebenarnya setelah lebaran ada kelanjutannya, tapi kami memutuskan untuk tidak ikut (dulu, entah nanti). Harga busur ternyata mahal. Sampai jutaan. Dan saya kepikiran, kalau beli, nanti mau main dimana. Kena orang, repot.

Lalu dua bulan terakhir, saya mulai bersepeda. Biasanya tiap hari Rabu dan Sabtu pagi. Sudah 10 kali lah. Sudah lebih dari 100km, yeay. Jadi ya rata-rata sekali jalan 10an km.

Biasanya saya bersepeda nyari jalan baru. Males kalau sudah pernah dilewati. Paling seneng kalau jalanannya aspal mulus. Ditambah pemandangan, misalnya sawah. Apalagi kalau jalanan menurun. Rute yang saya lewati biasanya Jakal, Jalan Palagan, Ring Road Utara, Jalan Tajem, Jalan Stadion, dan sekitarnya. Pernah juga sekali sampai UGM. Niatnya mau nonton parade Jogja Japan Week di GSP. Tapi kok udah bubar.

Selama ini masih minjem sepeda nyonya. Pengennya beli sendiri, biar bisa barengan. Tapi ngecek-ngecek di internet bingung juga. Macem-macem bentuknya. Dan harganya pun bikin nyali menciut. Banyak istilah dan merk yang gak ngerti. Ahaha. Yah, semoga ada rezeki lebih buat beli. Pengen nyari yang sadel-nya empuk, dan lebih ringan. Biar bisa ngebut. Sekarang max speed baru sekitar 30an km/h

Oh iya, jarak terjauh yang saya tempuh adalah hampir sekitar 30 km. Rutenya dari Muntilan ke Condong Catur. Ini waktu pertama kali membawa sepeda dari rumah Dian ke kontrakan yang sekarang. Tidak terlalu berat, soalnya jalanannya menurun. Cukup membantu buat newbie  seperti saya.

Selain pengen punya sendiri, pengen juga nyepeda jarak jauh. Katakanlah dari ujung utara Jogja hingga ke ujung selatan Jogja. Atau Ujung utara Jawa hingga ujung selatan jawa. Tapi embuh kapan. Mungkin yang paling feasible dalam waktu dekat ya dari Condong Catur ke Bantul. Berangkatnya sih mungkin kuat. Pulang ke Condong Catur-nya, embuh. Atau sepedanya suruh naik bis Jogja-Paris sajalah.

Berkat dianggap cukup rajin bersepeda, saya dikasih gratis sebulan premium buat Endomondo. Tapi kayaknya semua orang dikasih deh. Ahaha. Nanti-nanti sajalah makainya. Mungkin 2 pekan mau hiatus dulu. Biar sama kayak One Piece.

Sebenarnya, mau ngasih gambar, tapi bingung mau dikasih foto apa.

Ya sudahlah. Lain kali dikasih foto sepeda. Kalau sudah punya sendiri. Terorejrung.

*Beberapa menit kemudian*

Setelah nengok websitenya Endomondo, jadi nemu gambar yang bisa dipajang. :v

Endomondo - 100
Endomondo – 100

Sampai jumpa. Have a good weekend.

Dan Forza Inter…

Iklan

5 comments

    • Fitur sing menarik nggo aku cuman statistik sih. Liyane koyo heart beat (ra duwe alat e), training plan (ra tau planning), weather (luwih akurat ndelok langit langsung) ra terlalu berguna nggo aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s