Memasak Kikil

Jadi, nyonya menugasi saya untuk latihan memasak sebulan sekali. Biasanya hari Minggu. Tanggalnya disesuaikan dengan kesibukan, anggap saja sibuk. Idealnya sih tanggal 15. Tapi ya hidup tak selalu ideal. Misalnya, bulan ini tanggal 15 jatuh hari Selasa. Jadinya dimajukan jadi tanggal 13 September, alias hari ini. Program ini sudah berjalan sejak bulan sebelumnya. Namun, kemarin tak sempat ditulis. Maklum, kekenyangan parah, dan kebetulan sedang ada ponakan yang berkunjung. Saya boleh memilih menu yang ingin dimasak, selama tidak terlalu mudah. Misalnya, indomie tidak boleh. Bahkan, saya dikasih jatah Indomie (atau mie pada umumnya), sekali sebulan. Ouch.

Bulan lalu saya memilih ayam kecap. Alasannya, karena ini ayam dan resepnya kayaknya mudah. Tapi, kali ini saya akan membahas yang barusan saya masak saja.

Jadi… (tetot, mengulang kata jadi di awal kalimat). *ra jelas tenan

Nah, untuk bulan ini saya memilih bahan dasar kikil. Alasannya, saya suka dengan kikil. Jadi, kalau masakannya gak enak, bisa saya habiskan sendiri. Pertama-tama, saya nyari resep. Nemu banyak, dan bingung. Ahaha. Mungkin perlu suatu metode untuk mencari resep umum dari resep-resep yang mirip di internet. Yah, semacam generalisasinya lah. Saya pengennya masak kikil cabai hijau. Setelah googling, yang muncul biasanya dari cookpad atau bango. Tapi saya malah merujuk ke sini. Nah, berhubung kami hanya punya cabai merah (kulakan dari rumah ortu yang sedang panen cabai), saya ubah jadi kikil cabai merah. Jadi, kikil dimakan, sembari nyeplos lombok merah. :v Tentu tidak begitu.

Pagi-pagi, setelah nyonya pulang bersepeda, saya ke pasar. Tentu, setelah sebelumnya diberi petunjuk, beli apa, dimana, serta patokan harga. Yang saya akan beli adalah kikil 250gram, bumbu lengkap seharga 2000, seledri dan loncang seharga 500 perak. Plus gorengan atau buah jika nemu. Untung pasarnya dekat, jadi cukup nyepeda. Di pasar itu, ternyata memang lebih murah daripada di Mirota, Hero, Superindo, atau Hypermart. Yah, murah lah pokoknya. Apalagi kalau jadi ibu-ibu yang berani nawar.

Sebenarnya saya aras-arasen buat masak kali ini. Tapi ya, daripada tidak makan.

Mula-mula, kita siapkan bahan.

Bahan Mentah
Bahan Mentah

Yah, itulah pokoknya bahannya. Ada yang tidak terfoto, semisal kecap, garam, gula, dan air keran. Tapi ya sudahlah.

Si kikil direbus dulu. Katanya sih 15 menit. Atau cukup sampai seingatnya saja. Biar empuk lah. Bagi para newbie yang tidak pernah lihat kikil, itu yang plasitikan mirip gula batu, namanya kikil. Bisa dibuat dari merebus sabuk kulit masing-masing. Atau cara lebih gampangnya, beli di pasar. Jangan lupa, dibersihkan lemak yang nempel di kikilnya. Cukup ditithili saja untuk menghilangkan lemak. Jangan menggunakan Sun Light, walaupun diiklankan bisa membersihkan lemak. Jangan pula disuruh diet atau fitnes, meski bisa menghilangkan lemak juga. Dan jangan disuruh sedot lemak, mahal. :v

Selagi merebus, kupas dan iris bawang putih, bawah merah. Tomat hijau juga dipotong-potong. (itu kanan atas gambar tomat hijau, bukan jeruk nipis). Para cabai juga dipotong. Memanjang. Ada tiga jenis cabai yang saya pakai; cabai merah (dari panenan), lombok galak (masih di kulkas, dari panenan), dan lombok rawit (dari gorengan yang dibeli tadi). Daun salam dan daun jeruk dicuci. Sementara terasi tidak perlu dicuci, cukup dipotong saja dengan tebal 0.7 cm. Laos (atau lengkuas, wih, saya baru ingat, pernah ke pulau Lengkuas, ahaha) dan Jahe cukup dikupas, lalu digeprek.

Lalu jadilah seperti ini:

Bahan Mentah Siap
Bahan Mentah Siap

Ingat, itu bukan brownies, tapi terasi.

Kemudian, istri saya membantu mengulek terasi dan lomboknya. Plus jahenya :v

Oh, jangan lupa, kikilnya ditiriskan, lalu dipotong-potong. Bisa persegi panjang atau bujur sangkar. Jika rada selo dan cukup kreatif, bisa dipotong menjadi segilima, segi enam, atau bisa juga dijadiin bentuk fraktal. Kalau lebih selo  lagi, bisa dibentuk gatot kaca, lalu dijual ke dalang terdekat.

Nah, sekarang ditumis. Pada prinsipnya sih, semua bahan dimasukan, lalu dikasih garam, gula, air keran, atau kecap manis. Biar rasanya enak. Setelah kira-kira cukup, masukan kikil, oseng-oseng dikit, lalu tutup. Tunggu beberapa saat, sembari mengecek WhatsApp atau notif Facebook. Asal jangan ditinggal nonton YouTube atau baca Quora (takut kebablasan lalu lupa).

Nah, pokoknya, diiterasi. Buka, icip, jika kurang sip, tambahkan gula, garam, air keran, atau kecap manis (GGAK), oseng, tutup. Jika sudah enak atau air habis, matikan api. Hidangkan.

Nah, (3 kali beruntun mengawali paragraf dengan kata “Nah”), kikil oseng kayak gini, paling sip dimakan dengan nasi panas yang lembut. Hmm, nyammm… Misalnya seperti ini:

Kikil + Nasi
Kikil + Nasi

Kalau kata nyonya sih kepedesan tapi bagus warnanya. Yah, saya terima apa adanya. :v Enak kok :v

Oh iya, walau jarang kesebut, nyonya tetep banyak bantuin ahahaha.

Sampai jumpa bulan depan.

FYI, kikil kayak gini tidak dijual di McD, Burger King, Yoshinoya, Salt and Pepper, Sushi Tei, apalagi di Blitz Megaplex.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s