Air

Jogja sekarang sedang panas nan gerah. Saya sudah lupa kapan terakhir kali hujan. Sempat sih, tengah malam gerimis, tapi ndak sampai 5 menit sudah reda. Mungkin lebih dari 5 bulan yang lalu lah.

Dan, baru kali ini saya merasakan dampak dari kekeringan ini. Sumur sudah surut. Tidak lagi terjangkau pipa pompa air. Sempat dipanjangkan pipanya, tapi surut lagi. Dan sudah maksimal. Perlu di-suntik kata tukang yang benerin tempo hari. Tapi, sekarang tukangnya lagi sibuk. Entah kapan bisa bantu benerin lagi.

Sumur di tempat tinggal kami juga dalam-dalam. Beda dengan di rumah orang tua saya, palingan 3 meter udah ada airnya.

Yah, sedikit curhat. Sembari menunggu hujan. 🙂

Ternyata, kekeringan kali ini membuat Aqua galon langka. Sempat muter-muter belum nemu juga. Sampai ke perumahan orang. Lain hari, muter lagi, dapet sih, tapi harganya jadi 18rb. Kata yang njual, sementara saja. Biasanya saya beli seharga 15rb saja. Tak pernah menyangka, air bisa selangka ini. Ndak kebayang kalau di daerah yang lebih parah.

Sekarang, demi menghemat air, saya juga mandi di masjid :v

Ngomong-ngomong tentang mandi, saya jadi teringat masa SMA. Dulu mandi itu juga sempat jadi masalah. Kadang kalau musim hujan, airnya jadi kopi. Sumber daya air bersih jadi langka. Kalau musim kemarau, air jadi langka. Perlu mandi sangat pagi biar kebagian. Atau sampai ada yang mandi pakai air galon. Ada juga yang mengambil dari sumber-sumber air lain, dan dibawa ke kamar mandi menggunakan galon kosong atau ember. Ataupun mandi di tempat rahasia (di gedung yang belum jadi). Atau pernah juga, mandi di sekolah gara-gara pelajaran olahraga jam ke-0, air di asrama sudah tandas. Peduli amat lah.

Dulu waktu masih ngekost, air juga sempat bermasalah. Pas awal-awal di Jakarta, dapet kostan yang ibu kost-nya pelit banget. Air nya dibatesin. Naon banget lah. Untung dekat masjid, jadi sering numpang di masjid kalau ada perlu dengan air untuk mandi atau sejenisnya.

Tapi, beda dengan jaman sekarang dengan jaman ngekost. Kalau habis air, paling cuman susah mandi saja. Dan itu bisa diatasi dengan numpang mandi di masjid atau tempat teman. Nyuci tinggal laundry, makan tinggal beli, dan seterusnya. Sekarang, nyuci repot, nyuci piring repot, nyiram halaman repot, mau masak juga repot. Yah, jadi merasa kurang bersyukur kalau sedang punya air tersedia yang cukup.

Dan, masih menunggu hujan untuk turun.

Bayem saya bahkan sudah meranggas (apa pula itu meranggas), dimakan ayam, daunnya habis, dan tiba-tiba kemarin udah ilang aja. Nampaknya dicabut pas kerja bakti dalam rangka menyambut bu bupati. Ya sudahlah.

Bayam Tanpa Daun
Bayam Tanpa Daun

Jadi, sekarang jangan jadikan si bayam patokan untuk mencari kontrakan saya. Pasti ndak ketemu.

Jump to few days later

Berhubung kepepet karena ndak ada air, kami memutuskan untuk mengungsi ke Muntilan 🙂 Dua hari terakhir, mendengar kabar bahwa Jogja sudah hujan. Saatnya untuk pulang. Semoga sudah njedhul  si air.

Di Muntilan sendiri, sering mendung tebal hitam pekat dan angin sepoi-sepoi seperti mau hujan. Tapi, semua hanya wacana.

Iklan

One comment

  1. Wah kencleng amal masjid-nya harus lebih gede dong, kan sudah numpang mandi :B Kalau di sini, air hujan suka ditampung di tandon (mereka menyebutnya water tank).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s